Asia

Pemerintah Malaysia Larang Pejabat Terima Hadiah

Mahathir Muhammad

MALAYSIA – Koalisi Pakatan Harapan yang menguasai pemerintahan Malaysia terus membuat aturan baru bagi para pejabatnya dalam upaya pemberantasan korupsi.

Para pejabat tinggi negara, termasuk menteri, dilarang menerima hadiah apapun selain bunga dan makanan. Perdana Menteri (PM) Malaysia Mahathir Mohamad berharap kasus tindakan korupsi akan semakin berkurang di masa kekuasaannya. Sejauh ini, kebijakan tersebut hanya berlaku bagi pegawai negeri sipil (PNS).

Baca: Di Malaysia, Sebar Hoaks & Fake News Dipenjara 6 Tahun dan Denda Rp 1,7 Milyar

Sebelum terpilih menjadi PM baru Malaysia, Mahathir berjanji mengusut tuntas setiap kasus korupsi, termasuk oleh mereka yang memiliki kekuasaan dan kekuatan. Dia mengklaim tidak akan tebang pilih karena ingin menegakkan hukum seadil-adilnya.

“Jika ada pemberian, hadiah itu hanya boleh dalam bentuk bunga dan makanan. Anda (pejabat negara) tidak diperkenankan menerima hadiah yang lain. Pemberi dan penerima sama-sama bersalah dan akan dikenai hukuman,” ujar Mahathir seusai memimpin rapat kabinet kepada awak media, seperti ditulis thestar.com, kemarin.

Baca: WOW! Indonesia, Thailand dan Malaysia Tendang Dolar

Di bawah kepemimpinan Mahathir, Malaysia membentuk lembaga baru yang menangani korupsi yakni Komisi Pemerintahan Integritas dan Anti korupsi (GIACC) pada pekan lalu. Sebab, komisi antikorupsi sebelumnya dinilai kurang efektif dan powerful. GIACC akan menaungi berbagai lembaga terkait di Malaysia.

GIACC akan dipimpin mantan Kepala Komisi Pemberantasan Korupsi Malaysia (MACC), Abu Kassim Mohamed. Dia diharapkan dapat menjadikan Malaysia bersih dari korupsi dan menindak tegas setiap pelaku. Lembaga yang akan dibawahi meliputi Institut Integritas Malaysia (IIM), Biro Pengaduan Publik (BPA), dan Komisi Badan Penegak Integritas (EAICA).

Korupsi Pembelian Kapal Selam

Sementara itu kabinet Malaysia membahas pembentukan tim khusus untuk investigasi tuduhan korupsi saat pembelian dua kapal selam Prancis pada 2002. Saat pembelian itu, Kementerian Pertahanan dipimpin Najib Razak yang kini lengser dari jabatan perdana menteri (PM) setelah kalah pemilu.

Sejak kalah pemilu bulan lalu, Najib dilarang meninggalkan Malaysia dan komisi anti-korupsi meluncurkan kembali penyelidikan tentang dana miliaran dolar yang hilang dari lembaga negara yang dia dirikan. Najib menyangkal semua tuduhan itu.

Baca: Otaki Teror, Densus Antiteror Malaysia Tangkap Ibu RT

Meski demikian, selama hampir satu dekade berkuasa, dia diduga terlilit sejumlah skandal yang melibatkan keuangan, termasuk dalam kesepakatan pembelian kapal selam yang diduga terjadi korupsi. Kejaksaan keuangan Prancis juga menyelidiki penjualan kapal selam kelas Scorpene yang dibangun perusahaan kapal perang milik negara DCN International (DCNI).

Penyelidikan Prancis itu menempatkan mantan ajudan Najib, Abdul Razak Baginda, dalam investigasi resmi atas kesepakatan itu. Ingat kasus kematian model asal Mongolia Altantuya Shaariibuu? Model cantik tersebut merupakan penerjemah dan teman Abdul Razak yang dibunuh dan diledakkan dengan bahan peledak level militer di hutan di pinggiran ibu kota Malaysia pada tahun 2006.

Yang mengagetkan, pembunuhan sadis terhadap model itu diduga terkait skandal pembelian kapal selam tersebut. Bulan lalu Presiden Mongolia Battulga Khaltmaa mendesak PM Mahathir membuka kembali investigasi atas pembunuhan Altantuya. Kasus pembunuhan ini pun dimungkinkan dapat menyeret nama Najib dan teman-temannya.

Ayah foto model Altantuya Shaariibuu ingin bertemu PM Mahathir. Pengacara yang mewakili Shaariibuu Setev, Ramkarpal Singh menyatakan dia telah merencanakan perjalanan ke Malaysia. Dia akan tiba dalam sepekan atau dua pekan mendatang. “Keputusan Pemerintah Aus tralia untuk mengekstradisi Sirul Azhar Umar yang dituduh membunuh Altantuya merupakan perkembangan positif.

Ekstradisi itu adalah langkah pertama untuk investigasi ulang,” kata Ramkarpal. Dia menambahkan, “Kami tahu siapa yang membunuhnya (Altantuya), dia dibunuh oleh Sirul dan Azilah Hadri (mantan personel Unit Aksi Khusus) tapi kami tidak tahu siapa yang memerintahkan pembunuhan. Isu ini perlu diangkat atau di ungkap sekarang.”

Ramkarpal mengaku akan meminta Komisi Penyelidikan Kerajaan (RCI) menginvestigasi motif di balik pembunuhan Altantuya. Dia juga mendesak Jaksa Agung Tommy Thomas secara serius mempertimbangkan membuka kembali investigasi pembunuhan tersebut.

Harian Inggris, The Guardian, melaporkan otoritas Australia telah menyetujui permintaan Malaysia untuk ekstradisi Sirul Azhar dan dia diperkirakan kembali ke negara itu dalam sebulan mendatang. Australia awalnya menolak ekstradisi Si Rul karena akan melanggar undang-undang yang melarang seseorang menghadapi hukuman mati jika kembali ke negara asalnya.

Dr Mahathir menyatakan Malaysia belum secara resmi meminta Australia untuk mengekstradisi Sirul. Saat ditanya apakah pemerintah ingin membuka kasus itu lagi, Mahathir menjawab, “Kami telah diminta untuk melihatnya lagi.” Untuk diketahui pada Oktober 2006 Altantuya diculik, sebelum dibunuh secara sadis dan jasadnya diledakkan di sebuah hutan di Subang, Malaysia.

Dua oknum pasukan khusus kepolisian Malaysia, Azilah Hadri dan Sirul Azhar Umar ditetapkan sebagai tersangka dan divonis bersalah atas pembunuhan tersebut. Keduanya dijatuhi hukuman mati dengan digantung. Altantuya merupakan wanita karier yang multitalenta.

Selain berprofesi sebagai model, Altantuya juga merupakan seorang penerjemah yang menguasai setidaknya 5 (lima) bahasa: Mongolia, China, Rusia, Inggris, dan sedikit bahasa Prancis. Pekerjaannya itu membuatnya sering kali bepergian keluar dari Mongolia, termasuk dua kunjungan ke Malaysia pada 1996 dan awal 2006. Pekerjaan itu juga yang membawanya bertemu dengan Abdul Razak Baginda, analis pertahanan Malaysia yang diduga sekaligus orang dekat Najib Razak.

Keduanya menjadi dekat dan dilaporkan menjalin hubungan saat Altantuya menjadi penerjemah bagi Abdul Razak Baginda dalam proyek pembelian kapal selam di Prancis. Proyek itulah yang diduga membuat Altantuya dibunuh. (SFA)

Sumber: SindoNews

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: