Fokus

Pasukan Saudi Macan Kertas

Senin, 19 Desember 2016,

SALAFYNEWS.COM, WASHINGTON – Seorang pakar Amerika Serikat dalam sebuah pernyataannya mengatakan bahwa tentara Arab Saudi adalah macan kertas, sungguh mengecewakan dan pembatasan penjualan senjata ke negara itu, mencerminkan murka Amerika Serikat karena ketidakmampuannya dalam perang Yaman, kata sebuah laporan.

Ia lebih lanjut mengatakan tentara Saudi adalah salah satu tentara yang memiliki perlengkapan terbaik, namun pada kenyataannya, adalah “macan kertas”, yang membuat kekecewaan besar pada para pemasok senjata, terutama Amerika Serikat. (Baca: Houthi: Jika Tetap Ganggu Yaman, Saudi Tidak Akan Kami Buat Tenang)

Simon Henderson, seorang direktur dari Program Teluk dan Kebijakan Energi di The Washington Institute, mencontohkan penilaian kinerja tentara Saudi, ia mengatakan bahwa “kinerja angkatan udara Saudi sangat lemah, sebagaimana pasukan daratnya, yang sangat buruk dalam melindungi daerah perbatasan barat daya kerajaan,” RT melaporkan.

Dalam sebuah laporan berjudul “pembatasan penjualan senjata ke Arab Saudi mencerminkan murka Amerika Serikat karena perang di Yaman”, yang diterbitkan pada hari Kamis, menunjukkan bahwa Riyadh menyalahkan Iran karena dukungannya terhadap Houthi Ansarullah yang berjuang dalam perang proxy, tapi ia menekankan bahwa “kegagalan kerajaan untuk mencapai setiap keuntungan militer dalam setiap pertempuran karena intervensi Tehran rupanya dihasilkan dari istana kerajaan.”

Penelitian itu juga menyatakan bahwa para pejabat Amerika pada 13 Desember, bahwa mereka akan menangguhkan penjualan 16.000 amunisi ke Arab Saudi, “karena khawaatir kurangnya kemampuan Saudi untuk menargetkan serangan udara yang bisa menyebabkan banyak korban sipil di Yaman.”

Henderson lebih lanjut mengatakan bahwa prosedur ini diputuskan untuk membekukan penjualan bom cluster pada Riyadh, yang diadopsi pada awal tahun ini. Selain itu, ia juga menambahkan bahwa “bantuan AS pada Riyadh bukanlah cek kosong”. (Baca: Rapat Akbar Para Ulama Yaman Bangkit Hadapi Kekejaman Agresi Saudi)

Laporan ini menjelaskan bahwa peralatan amunisi sangat memungkinkan untuk mencapai target sasaran dengan lebih akurat. Ia juga menambahkan bahwa keputusan pemerintahan Obama untuk mengakhiri  konflik di Yaman karena ketidakbecusan militer Arab Saudi. Hal ini tercermin dalam sebuah laporan yang ditulis oleh surat kabar “Washington Post” yang mengatakan, “dengan membuat perubahan kecil, Amerika Serikat mempertahankan bantuan militer ke Arab Saudi, meskipun mereka menegur karena pembantaian di Yaman”, dan laporan surat kabar “New York Times” dalam konteks yang sama bahwa “Amerika Serikat melarang penjualan senjata ke Saudi Arab Saudi di tengah kekhawatirannya atas perang brutal di Yaman”. (Baca: Houthi: Amerika, Israel Tuan, Saudi dan Teroris Adalah Budak Kejahatan)

Ahli Amerika menilai bahwa operasi koalisi yang dipimpin Arab Saudi  di Yaman sejak diluncurkan pada bulan Maret  2015, sebagai; “Pasukan UEA merebut kembali kota selatan Aden atas nama pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Namun, pasukan Saudi di utara Yaman gagal memulihkan wilayah, dan Houthi masih menguasai sekitar setengah dari wilayah negara, termasuk ibukota dan wilayah lain yang sebagian besar penduduk Yaman diperkirakan tinggal di dalamnya.”

Henderson juga mengungkapkan bahwa para pejabat AS telah mengkritik kinerja tentara Saudi dalam rapat khusus, yang dikoordinasi oleh Kementerian Pertahanan Saudi, Mohammed bin Salman, yang baru berusia 31 tahun, yang tidak lain adalah anak kesayangan Raja  Salman. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: