Headline News

Palestina Diambang Intifada Baru

Selasa, 25 Juli 2017 – 08.24 Wib,

SALAFYNEWS.COM, PALESTINA – Ketegangan di Yerusalem telah meningkat ke tingkat tertinggi sejak tahun 2014, ketika apa yang disebut ‘Intifadah Sunyi’ pecah penuh kemarahan terhadap Israel mengenai perangnya di Gaza. Konflik tahun 2014 berakhir dengan kedua belah pihak mengklaim kemenangan, namun kenyataannya sebagian besar merupakan jalan buntu yang menyebabkan pemberlakuan kembali status quo permanen. (Baca: Faksi-faksi Perlawanan Palestina Kompak Balas Dendam Kejahatan Zionis Israel)

Penyebab langsung ketegangan baru-baru ini adalah penutupan situs suci umat Islam dua minggu yang lalu, dengan membatasi akses masuk ke Masjid Al-Aqsa, situs tersuci ketiga dalam Islam dan lokasi yang sangat penting. Situs tersebut ditutup setelah kematian dua polisi Israel. Tiga tersangka Arab-Israel kemudian terbunuh.

Ketika situs suci Mulia dibuka kembali, jamaah menghadapi benteng keamanan, termasuk pos pemeriksaan detektor logam yang dijaga oleh polisi Israel yang memegang senjata otomatis bergaya militer.

Akibatnya, para pemimpin agama dan politik di seluruh Palestina meminta agar demonstrasi menentang kondisi yang dipaksakan baru-baru ini di tempat suci tersebut.

Ketegangan tersebut menyebabkan taktik polisi yang agresif yang mengakibatkan kematian tiga orang Palestina yang ditembak oleh pemukim Israel. (Baca: Hamza Bendelladj Hacker Robin Hood Muda Bagi Palestina)

Demonstrasi berlanjut sepanjang 21 dan 22 Juli 2017, sebagaimana video di bawah ini menampilkan seorang Israel bersenjata menendang seorang pria Palestina yang sedang melakukan salat.

Kemudian pada tanggal 22, tiga orang Israel terbunuh dalam serangan pisau di Tepi Barat. Pada malam hari tanggal 22, Israel melaporkan bahwa sebuah roket ditembakkan dari Gaza dan meledak di udara.

Bentrokan yang terus berlanjut, telah membuat Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadakan sebuah pertemuan darurat guna membahas masalah tersebut, pada tanggal 24 Juli.

Bentrokan terus berlanjut di Yerusalem, Tepi Barat dan roket yang terlihat dari Gaza, banyak yang khawatir bahwa ketegangan mungkin akan semakin mendidih.

Israel terus memprovokasi konflik

Pertama-tama, penghalang keamanan baru di pintu masuk Masjid Al-Aqsha dipandang sebagai penghinaan dan tidak dapat diterima oleh umat Islam. Banyak orang Kristen juga berpartisipasi dalam demonstrasi di Yerusalem. Militerisasi sebuah situs suci kuno telah menyebabkan kecaman yang luas baik di dalam maupun di luar Palestina. (Baca: Langkah Bahaya Trump di Palestina)

Kedua, dunia terus memantau aktivitas di barat daya Suriah, terutama di sekitar wilayah Dataran Tinggi Golan yang telah diduduki oleh Israel sejak tahun 1967. Ada risiko serangan Israel lebih lanjut terhadap pasukan Suriah dan penjaga perdamaian internasional di wilayah tersebut.

Akhirnya, dengan Angkatan Darat Arab Suriah dan sekutu-sekutunya di Hizbullah menghasilkan keuntungan melawan al-Qaeda di perbatasan pegunungan antara Suriah dan Lebanon, banyak yang khawatir bahwa Israel dapat melakukan intervensi secara militer dengan menggunakan alasan tradisional untuk memerangi Hizbullah yang oleh Israel disebut sebagai organisasi teroris sekalipun Rusia, China, Iran, Irak, Suriah, Venezuela dan Perserikatan Bangsa-Bangsa tidak melakukannya. Di Lebanon, Hizbullah adalah partai politik aktif dengan dua menteri kabinet di pemerintahan Lebanon serta 12 kursi di Parlemen Lebanon saat ini.

Israel akan sulit ditekan untuk berperang di tiga barisan, meski berdasarkan sejarah Israel dan retorika baru-baru ini, ini adalah kemungkinan yang semakin mengganggu.

Rusia telah menyatakan bahwa semua masalah keamanan Israel sehubungan dengan wilayah barat daya Suriah telah ditangani. Sementara Amerika Serikat terus bekerja sama dengan Rusia di wilayah tersebut. Sementara itu, Swedia, Mesir dan anggota Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tetap menegaskan kembali pentingnya sebuah pertemuan DK PBB untuk “segera mendiskusikan bagaimana seruan untuk meningkatkan eskalasi di Yerusalem dapat didukung.

Jika Israel tidak bekerja keras untuk mencapai kompromi dengan para pemimpin Palestina, sebuah gelombang protes baru bisa melanda Yerusalem dan Tepi Barat. Saat ini, Presiden Palestina Mahmoud Abbas telah menangguhkan kesepakatan untuk kerja sama keamanan dengan Israel karena amarah atas keputusan Israel yang ingin memonopoli situs suci Al-Aqsha. 

Sampai Israel merundingkan penyelesaian sehubungan dengan situs suci, orang-orang Palestina dapat merespons dengan langkah-langkah yang dapat dengan mudah meningkat menjadi Intifadah baru. Israel bisa membuat situasi menjadi lebih baik atau lebih buruk. Ini sepenuhnya di tangan Tel Aviv. (SFA)

Sumber: The Duran

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: