Asia

Pakistan Akan Gabung Rusia-China Pasca Kebijakan Baru Tak Jelas Trump di Asia Selatan

Sabtu, 26 Agustus 2017 – 07.57 Wib,

SALAFYNEWS.COM, ISLAMABAD – Menteri Luar Negeri Pakistan mengatakan negaranya akan bekerjasama dengan Rusia dan China dalam kaitannya dengan strategi baru AS untuk Afghanistan. Pakistan akan mendekati Rusia dan China untuk mengatasi respons terhadap kebijakan baru di Asia Selatan, yang diajukan oleh Presiden AS Donald Trump, ungkap Menteri Luar Negeri Pakistan Khawaja Asif pada hari Kamis. (Baca: Pakistan Buka Perbatasan dengan Afghanistan yang Tertutup Selama 32 Tahun)

Pada Senin malam, Trump meluncurkan strategi barunya di Afghanistan dalam sebuah pidato dimana dia meminta Pakistan untuk berbuat lebih banyak dalam menindak tempat perlindungan teroris, sekaligus memperingatkan bahwa Amerika Serikat bisa saja mengurangi bantuannya ke negara tersebut. Pada hari Rabu, situs berita Politico dalam laporannya yang mengutip ucapan pejabat senior pemerintah AS, bahwa Amerika dapat menjatuhkan sanksi kepada pejabat Pakistan yang memiliki hubungan dengan organisasi teroris.

“Kami akan menghubungi China, Rusia (dan negara-negara lain di kawasan ini) dalam beberapa hari mendatang untuk mendapatkan konsensus dan solusi regional,” kata Asif kepada penyiar Geo TV. Menteri juga mengungkapkan bahwa jika perlu dia akan mengunjungi Amerika Serikat untuk membahas masalah ini dengan kepemimpinan negara tersebut. (Baca: Aliansi China-Pakistan Terbentuk Pasca Trump Tuduh Islamabad Bantu Teroris)

“Pakistan tidak akan menginginkan kerusuhan di Afghanistan karena hal itu juga akan berbenturan dengan kepentingan negara itu sendiri,” kata Asif, dan menambahkan bahwa Pakistan mencari stabilitas di wilayah tersebut tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk Turkmenistan dan Uzbekistan yang berdekatan.

Sebelumnya pada hari itu, Kementerian Luar Negeri Pakistan mengatakan bahwa Komite Keamanan Nasional Pakistan menolak tuduhan terhadap Islamabad dalam strategi Asia Selatan Trump Administration, yang sebagiannya menuduh negara tersebut menyembunyikan teroris. (Baca: SIC Pakistan: Tak Ada Bahaya Bagi Haramain Kecuali Dari Saudi Sendiri)

Afghanistan telah dilanda konflik dengan Taliban, sebuah gerakan fundamentalis Islam fundamentalis pada 1990-an, yang memegang kekuasaan di sebagian besar negara itu pada 1996-2001 sebelum digulingkan. Gerakan tersebut kemudian dapat berkumpul kembali dan mendapatkan kembali beberapa keunggulannya, dan mengobarkan perang melawan pemerintah Afghanistan. (SFA)

Sumber: Sputnik

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: