Artikel

Operasi Hitam Pasukan Khusus Mesir di Suriah

Kamis, 09 Februari 2017 – 11.28 Wib,

SALAFYNEWS.COM, DAMASKUS – Saya ingin dari setiap negara Arab, minimal ada empat puluh Mujahid  setengah dari mereka menjadi martir dan setengah dari mereka kembali ke negaranya untuk menyeru panggilan jihad. Ini adalah salah satu strategi terorisme yang didirikan Abdullah Azzam “bapak spiritual” bagi terorisme internasional. (Baca: DICAMPAKKAN! ISIS Akan Balas Dendam Kepada Saudi, Mesir dan Perancis)

Aisha Nassar dalam artikelnya yang berjudul “Operasi rahasia untuk memburu teroris Mesir di Suriah” dalam situs web “Al-fajr”, bahwa strategi itu sekarang berubah menjadi teror terbesar bagi beberapa negara dan pemerintahan di dunia, terutama keamanan di Mesir, setelah runtuhnya teroris ISIS. Hal itu berubah menajdi metode “dinamis” yang konstan dalam doktrin organisasi teroris “internasional” yang dikembangkan dalam berbagai ideologi, dari waktu ke waktu.

Menurut laporan penulis, pada November lalu, pengadilan kriminal Kairo menghukum mati dua terdakwa dalam kasus pertama yang di dokumentasikan secara resmi karena munculnya gelombang “militan yang kembali” dari lokasi “jihad”. Pengadian itu mencatut 16 terdakwa, termasuk hukuman seumur hidup terhadap empat di antara mereka, salah seorang terdakwa dipenjara 1 tahun, dan tiga tahun untuk tujuh lainnya atas tuduhan berafiliasi kepada al-Qaeda di “Libya” dan “Mali”.

Pada saat yang sama, tersebar bocoran tentang ratusan teroris yang sedang di interogasi atas kasus terorisme. Mereka “yang kembali” dari Suriah, belum lagi ada informasi-informasi yang terbukti atas aksi bom bunuh diri di Gereja Petrus (Ali Shafiq) yang sebelumnya telah melakukan perjalanan ke Sudan dan menerima pelatihan militer sebelum ia kembali ke Mesir dan bergabung dengan organisasi ISIS di Sinai. (Baca: ISIS Sinai Mesir Sembelih Tokoh Sufi Terkemuka dan Beberapa Ulama)

Dr. Kamal Habib, “peneliti kelompok-kelompok Islam”, dalam sebuah tulisannya yang diterbitkan, mengatakan Mesir akan menyaksikan infiltrasi elemen teroris dari warga Mesir dan orang asing melalui perbatasannya dengan Libya, Aljazair, Mali, Niger, dan negara-negara yang memiliki perbatasan bersama dengan Libya, dengan adanya kelompok ekstremis seperti “Boko haram” dan lain-lainnya.

Yang paling mengancam adalah mereka yang baru kembali dari konflik bersenjata di Suriah, Libya dan Irak, terutama dengan runtuhnya “ISIS”, dan kehilangan benteng serta daerah-daerah sumber penghasilan mereka. Selain itu, seperti yang diketahui  ada militan “asing” yang berjuang dalam jajaran organisasi teroris di “Sinai”.

Menurut bocoran laporan keamanan menegaskan bahwa pemerintah Mesir memiliki sikap tersendiri terhadap teroris yang kembali dari Suriah, Libya atau Irak. Mereka tidak akan mengadopsi metode yang sama dengan Tunisia yang masih mau menerima para anggota teroris dan pejuang ISIS atau Jabhat Nusra, atau organisasi teroris lainnya, untuk kembali ke kampung halaman tanpa tindakan hukum terhadap mereka, jika mereka telah bertobat. Keputusan ini menyebabkan kemarahan di jalan-jalan Tunisia, dipenuhi oleh demonstran yang menolak merangkul “para anggota ISIS” tanpa akuntabilitas, dan membawa masyarakat Tunisia pada resiko. (Baca: Astronom Mesir Ramalkan Tahun 2017 Penuh dengan Hal yang Mengerikan)

Menurut informasi, layanan keamanan Mesir telah mengambil langkah-langkah pencegahan di bandara, pos-pos darat dan laut, untuk mencegah masuknya teroris yang bergabung dengan organisasi teroris regional. Dan menurut bocoran yang sudah tersebar menunjukkan adanya koordinasi keamanan yang sedang berlangsung antara Mesir dan pasukan aktif di Suriah dan Irak untuk menerima orang-orang Mesir yang gugur dalam operasi terhadap kelompok-kelompok bersenjata.

Namun, pemerintah Mesir masih belum menyatakan sikapnya, sehubungan dengan pimpinan teroris di organisasi seperti Jabhat Nusra dan ISIS, yang memiliki dana dan keahlian dalam hubungan serta rencana penargetan negara Mesir, dan kemampuan untuk berkomunikasi serta membimbing elemen teroris di wilayah Mesir.

Laporan itu menambahkan, dengan keberhasilan dalam penargetan dan pembunuhan 15 pemimpin elemen-elemen teroris Mesir di Suriah yang terjadi hanya dalam tiga bulan terakhir. Menjadi sorotan dan pertanyaan tentang realitas peran, apakah Mesir memainkan perannya di Suriah untuk kepentingan keamanan nasional, di mana Ahmed Kamel Beheiri, seorang peneliti di Al-Ahram Center for Political dan Studi Strategis, mengungkapkan bahwa Barat ikut andil dalam membuat keputusan di sana, hal ini menimbulkan pertanyaan tentang validitas isu yang diangkat, apakah Mesir benar-benar melakukan peranan penting di tanah Suriah, dalam koordinasi dengan pihak Suriah dan Rusia. Mesir telah mengirim pasukan “elit” ke Suriah untuk melaksanakan  operasi yang menargetkan pemimpin teroris asal Mesir dalam organisasi ISIS dan Jabhat Fetah al-Sham.

Menurut laporan tersebut, jika informasi tersebut benar, ini berarti Mesir sedang mencoba memotong jalan sebanyak mungkin terhadap para pemimpin dan unsur-unsur teroris, dan mencoba untuk menghilangkan risiko kehadiran mereka di Mesir. Jika kita memperhitungkan pengalaman Mesir sebelumnya terhadap gelombang kedatangan militan “yang kembali” ke wilayahnya sejak tahun delapan puluhan, sangat mengerikan. Kengerian yang dialami oleh masyarakat Mesir adalah karena serangan teroris dan bom bunuh diri. Ini semua adalah salah satu perencanaan dan pelaksanaan unsur-unsur sel teroris dan organisasi yang mencakup “mereka yang kembali dari Afghanistan”, kemudian dari organisasi “yang kembali dari Albania” dan “yang kembali dari Bosnia dan Herzegovina serta kembali dari Chechnya pada awal tahun sembilan puluhan.

Strategi keamanan “preventif” yang sama juga dilakukan oleh Rusia, yang membuatnya melakukan operasi di Suriah untuk membela keamanan nasionalnya, yaitu menargetkan pemimpin teroris “Chechnya” dan “Dagestan”, kemudian negara-negara Uni Soviet terdahuu serta komandan ISIS dan rekan-rekannya dari organisasi teroris di Suriah. Rusia berhasil melakukan operasinya di Suriah dengan sekala besar, di mana ia sudah menargetkan setengah jumlah teroris Chechnya dan Soviet yang berada di Suriah, menurut laporan tersebut.

Dalam semua tingkatan, sekarang negara-negara Barat telah berada dalam keadaan “panik” menghadapi ancaman “serangan balik” dari warga negaranya, yang tergabung dengan “ISIS”, terutama mereka akan “balas dendam” terhadap negara-negara tersebut, karena pukulan yang diterima “ISIS” dan hilangnya benteng mereka di Suriah dan Irak. Studi menyatakan bahwa “ISIS” telah mempersiapkan rencana “alternatif” setelah kekalahannya, dengan mengekspor sejumlah “pejuang asing” ke negara-negara asal mereka ke benua Eropa, terutama para pejuang ini telah menandatangani formulir termasuk keterangan tertulis yang menyatakan akan melaksanakan operasi teroris di negara-negara tersebut. (Baca: Serangan Bom Besar di Pyramida Mesir)

Para elemen “ISIS” ini memiliki bahaya yang sangat nyata setelah mereka kembali ke negara asal. Mereka tidak akan tinggal diam, mereka akan menggunakan kesempatan untuk melakukan serangan teroris. Namun dengan serangan yang lebih besar dari sebelumnya, dalam rangka mencapai “ekspansi ISIS” dan “serbuan pemikiran radikal”.

Perbincangan tentang Mesir yang mengirim pasukan elit ke Suriah, bukan untuk tujuan intervensi militer bersama dengan pihak berwenang Suriah, tetapi untuk melakukan operasi-operasi tertentu memburu teroris asal Mesir yang bergabung dengan kelompok-kelompok bersenjata, terutama Jabhat Fetah al-Sham (Jabhat Nusra), dan “ISIS”. Informasi ini dibahas dalam beberapa berita internasional dan analisis serta intelijen di negara-negara mereka pada khususnya, menurut laporan tersebut. (SFA)

Sumber: Middle East Panorama

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Operasi Hitam Pasukan Khusus Mesir di Suriah | ISLAM NKRI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: