Headline News

Operasi Gabungan Tentara Suriah dan PMU di Perbatasan Suriah-Irak

Jum’at, 19 Mei 2017 – 07.31 Wib,

SALAFYNEWS.COM, IRAK – ISIS runtuh di Suriah dan Irak, pihak-pihak yang terlibat dalam konflik tersebut telah meningkatkan usaha mereka di wilayah perbatasan Suriah-Irak.

Awal bulan ini, kelompok militan yang didukung Barat, dan juga didukung oleh pasukan khusus dan koalisi pimpinan AS, meningkatkan aktivitas mereka di Suriah selatan. Pasukan pimpinan AS maju ke arah selatan dan menempati Humaymah di sebelah tenggara kota kuno Palmyra. Namun gagal mencapai al-Bukamal, sebuah kota perbatasan penting yang dikendalikan oleh ISIS. (Baca: Tentara Suriah Ambil Alih 2 Desa yang Dikuasai ISIS Dekat Pangkalan Militer Jirah)

Pasukan yang dipimpin AS berpura-pura mengendalikan seluruh wilayah perbatasan Suriah-Irak di selatan Sungai Efrat. Namun, sementara al-Bukamal tetap berada di bawah penguasaan ISIS, ini tidak mungkin dilakukan. Suriah bagian tenggara adalah daerah gurun dengan jumlah pemukiman yang rendah. Dengan demikian, militan yang didukung Barat tidak memiliki kontrol penuh bahkan sepotong wilayah perbatasan Suriah-Irak, selatan Humaymah jika mereka tidak mengendalikan al-Bukamal.

Target penting lainnya adalah kota Deir Ezzor milik pemerintah yang berada di bawah pengepungan brutal yang dilakukan oleh teroris ISIS. Pedesaan Deir Ezzor penuh dengan ladang minyak dan jika pasukan yang didukung AS mencapainya, mereka akan memberlakukan kontrol atas aset penting ini. Lebih jauh lagi, Deir Ezzor dan Raqqah tetap menjadi satu-satunya kota yang mana pasukan yang didukung AS bisa merebut sepenuhnya atau sebagiannya dengan dalih memerangi teroris. (Baca: Tentara Suriah Bikin ISIS Kalang Kabut di Palmyra Selatan dan Aleppo Utara)

Dilaporkan bahwa sekitar 150 prajurit pasukan operasi khusus AS dan Inggris memasuki Suriah selatan untuk mendukung ‘perlawanan pemberontak’ terhadap ISIS di wilayah tersebut yang berkontribusi pada gagasan bahwa Washington dan sekutunya akan berusaha melakukan hal itu.

Pada saat yang sama, pasukan pemerintah Suriah juga meningkatkan operasinya di gurun tenggara Suriah, merebut sebuah pos pemeriksaan di perempatan Zaza di sebelah tenggara Palmyra. Pos pemeriksaan terletak di jalan menuju ke al-Tanf dan memungkinkan tentara Suriah untuk memberikan ancaman ke arah ini. Kemajuan pasukan pemerintah di daerah tersebut juga memperlambat kemajuan unit yang didukung AS di tenggara Suriah.

Sementara itu, Unit Mobilisasi Populer Irak juga meningkatkan operasi militer melawan ISIS, maju di wilayah Qayrawan ke arah perbatasan dari sisi Irak. Pekan lalu, Abu Mahdi al-Muhandis, Wakil Komandan PMU (Popular Mobilization Forces), mengumumkan bahwa perbatasan Suriah-Irak merupakan tujuan strategis operasi militernya.

Pemimpin PMU juga memahami bahwa kontrol atas perbatasan merupakan langkah penting dalam memerangi ISIS dan meningkatkan pengaruhnya di wilayah ini.

Menurut sumber Irak dan beberapa ahli, PMU adalah kekuatan yang memiliki kemampuan untuk berkuasa di Irak setelah kekalahan ISIS. Dan PMU kemungkinan akan melakukan ini meski ada oposisi dari blok yang dipimpin AS.

PMU sebagian besar terdiri dari orang-orang Arab yang visi mereka mengenai situasi di wilayah tersebut dekat dengan pemerintah Damaskus. Tujuan utama AS dan sekutu-sekutunya adalah untuk mencegah situasi ketika PMU dapat mendominasi di Irak atau membangun zona penengah yang besar antara Irak dan Suriah serta memisah sekutu potensial.

Elit global secara berturut-turut menentang terbentuknya entitas Arab bersatu di Timur Tengah. Kebijakan mereka di kawasan ini secara langsung ditujukan untuk hal ini. Situasi di Suriah dan Irak adalah contoh dari strategi lama ini. Dalam hal ini, perkembangan milisi yang didukung AS “melawan ISIS” di sepanjang perbatasan Suriah-Irak hanyalah alat untuk mencapai beberapa tujuan geopolitik di Timur Tengah. (SFA)

Sumber: Southfront

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: