Fokus

Netizen: Terorisme Bukan Jihad, #KamiBersamaPOLRI

Terorisme bukan Jihad

JAKARTA – Akun Facebook Wahyu Sutono menjelaskan secara gamblang bahwa terorisme bukan jihad, berikut ulasannya:

Islam jelas tak mengajarkan terorisme, bahkan Islam mengharamkan semua tindakan biadab apapun alasannya, termasuk karena alasan membela agama. Jihad justru tindakan mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW. Bahkan seorang suami mencari nafkah untuk anak istrinyapun sudah termasuk kepada tindakan jihad.

Baca: Musim Orang Gila, Salah Pilih Ustadz Sebabkan Radikalisme dan Terorisme

Karenanya bila ada partai dan ormas yang membela terorisme, itu perlu dipertanyakan keberadaannya, dan masyarakat hendaknya bisa cerdas mencermati hal ini, sehingga tak patutlah mereka mendapat dukungan.

Ketika pagi ini terjaga, langsung bersyukur bahwa Iwan Sarjana yang disandra teroris sudah dibebaskan dalam keadaan luka. Masyarakat patut mengapresiasi petugas kepolisian yang tetap berkepala dingin dalam mengatasi tindak brutal teroris hingga mereka menyerahkan diri, dan segera dipindahkan ke Nusa Kambangan. Namun yang miris ISIS sudah berhasil mengunggah videonya di Youtube sebagai bagian kemenangannya.

Perlu kedewasaan netizen dalam menyikapi semua perkembangan yang ada di tanah air, baik yang bersimpati, berempati maupun yang marah. Tidak kemudian mengunggah berita hingga memunculkan video seputar kejadian, karena itu memang yang diharapkan mereka. Begitupun para elite politik dan elite ormas jangan memancing di air keruh dengan pernyataan dungunya, terlebih dikaitkan dengan keberadaan Ahok di Mako Brimob.

 

Di tengah banyaknya persoalan hukum dan keamanan yang melanda bangsa ini, bersikaplah cerdas dan bijaksana. Cukuplah 5 petugas yang gugur dengan cara yang sadis, menyusul korban-korban lainnya akibat tindak terorisme yang terjadi untuk kesekian kalinya. Jangan kita ikut memanaskan suasana yang bisa dipolitisir oleh pihak yang berkepentingan.

Baca: Inilah Fakta Dibalik Kenapa Molornya UU Terorisme

Akan lebih lebih konyol lagi bila hal ini lalu menyalahkan Jokowi pula. Begitu mudahnya membuat analisis dangkal yang seolah semua salah Jokowi. Sedikit-sedikit menyalahkan Jokowi seperti halnya penghuni bumi datar. Warga masyarakat justru harus makin solid bersatu dan waspada mencermati lingkungannya dalam rangka mendukung kepolisian, bila kita cinta NKRI dan keluarga kita, agar Indonesia tak seperti di Timur Tengah, dan tak ada lagi leher yang tergorok.

Bagi pihak Polri ini harus jadi bahan evaluasi yang mendalam, terlebih di Mako Brimob sudah terjadi yang kali kedua. Sangat mungkin bahwa tragedi ini sudah mereka persiapkan dengan matang, adapun persoalan makan hanya jadi momentum untuk eksekusi rencananya. Ini terbukti bahwa 156 napi teroris mampu merebut 30 pucuk senjata, dan bom rakitan dari hasil sitaan yang belum sempat disimpan di gudang, selain mengapa mereka bisa memiliki ponsel di dalam rutan.

Karenanya ini bukan persoalan sederhana, namun bisa jadi liar terhadap opini yang berkembang di tengah masyarakat. Terlebih terjadinya sesaat setelah putusan PTUN atas pembubaran HTI. Padahal walau tujuannya sama yang bermuara kepada khilafah, tapi mazhab dan kepentingannya berbeda. Yang paling penting adalah, jangan sampai pada akhirnya Islam-lah yang jadi kambing hitamnya.

Baca: Anggota Komisi 1 DPR Sebut Muhammad Syafii Gerindra Tak Pantas Pimpin Pansus RUU Terorisme

Ada yang tak kalah pentingnya yakni:

“Desak DPR RI untuk segera menyelesaikan Undang Undang Anti Terorisme yang terlalu lama ditunda. Karena mereka dibayar sangat mahal untuk tugas legeslasi. Sehingga tugas Polri tak tersandra oleh Undang Undang yang terkesan ditarik ulur oleh DPR.” Ada apa? Lalu Komnas HAM dimana?. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: