Fokus

Netizen: PKS Bubar Atau Indonesia Hancur

#BubarkanPKS

JAKARTA – Akun Facebook Novy Viky Akihary menulis tentang betapa berbahayanya PKS bagi Indonesia, PKS Bubar atau Indonesia Hancur, ungkapnya, berikut ulasannya:

PKS sebenarnya sangat rentan untuk pecah kongsi, pasalnya adalah tarik menarik kepentingan dua (2) kubu besar ajaran Wahaby Takfiriyyah Salafi (WTS) yang terjadi selama ini di internal PKS. Sebut saja seperti DR. Surahman Hidayat MA, produk PKS jebolan Mesir yang kini menduduki posisi sebagai Ketua Dewan Syariah PKS.

Baca: PKS Ikhwanul Muslimin Indonesia Berfaham Aliran Sesat Wahabi

Dilain pihak ada DR. Salim Segaf Al-Jufri Ketua Majelis Syuro jebolan Universitas Islam Madinah Saudi Arabia, atau DR. Hidayat Nur Wahid Wakil Ketua Majelis Syuro PKS yang juga dari almamater yang sama yakni Universitas Islam Madinah.

Mengenal Patron Politik PKS

PKS diframe oleh para pendirinya sebagai perwujudan Gerakan Ikhwanul Muslim yang didirikan oleh Hasan Al-Banna (1906-1949 M) di Mesir pada tahun 1941 M. Diantara tokoh-tokoh pergerakan itu ialah: Sayyid Quthb, Said Hawwa, Umar Tilimsani, Muhammad Al-Ghazali, Musthafa As-Siba’i, dll.

Pergerakan Ikhwanul Muslim ini banyak dipengaruhi oleh pemikiran Jamaludin Al-Afghani, seorang yang sangat intens mengajak pada pendekatan Sunni-Syiah bahkan juga mengajak kepada persatuan antar agama sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme barat (Inggris, Perancis, Belgia dan Jerman) di wilayah Afrika Utara.

Baca: HTI, PKS, Wahabi Sebarkan Isu Anti Nasionalisme-Toleransi Untuk Hancurkan NKRI

Hal yang diusung oleh Jamaludin Al-Afghani lebih kepada prinsip Pan Arabia sebagai bentuk perlawanan kepada penjajah dengan mengusung 5 hal;

  1. Menempatkan politik sebagai prioritas utama
  2. Mengorganisasikan secara rahasia
  3. Menyerukan peraturan hukum demokrasi
  4. Menghidupkan dan menyebarkan seruan nasionalisme
  5. Mengadakan peleburan dan pendekatan Sunni-Syiah, dengan berbagai kelompok lokal, bahkan kaum Yahudi dan Nashrani.

Selanjutnya Ikhwanul Muslim yang diusung oleh Hasan Al-Banna, kemudian Sayyid Quthub lebih ditekankan pada simbol-simbol islam (Pan Islamisme) atau gerakan politik untuk mendirikan Daulah Islamiyah dikawasan regional arab dan kemudian menjadi gerakan politik trans nasional yang berkembang sampai ke Indonesia.

Hal inilah yang diusung oleh PKS, maka menjadi sangat wajar bagi mereka untuk tidak menerima atau menolak Pancasila sebagai satu-satunya Azas di Indonesia.

Peran Alumni Saudi Arabia di PKS

Saudi Arabia memiliki agenda yang tidak sejalan dengan gerakan Pan Islamisme atau Ikhwanul Muslim. Pada tanggal 03 Maret 2014. Pemerintah Arab Saudi menetapkan Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok teroris bersama al-Qaida dan beberapa organisasi lainnya.

Baca: HTI, ISIS, Wahabi Meretas NKRI

Kader-kader PKS seperti Hidayat Nur Wahid, Ahmad Heriawan (Aher) dan Salim Segaf Al-Jufri sebagai alumnus yang sering berhubungan dengan induk semangnya yakni Saudi Arabia senantiasa mengikuti arah dan petunjuk kerajaan biang teroris tersebut, sementara Saudi Arabia sendiri adalah kacung dari Paman Sam, apalagi Trump sangat keras memberi tekanan kepada Saudi Arabia untuk menjalankan road map politik Amerika di berbagai belahan bumi mayoritas muslim seperti halnya Indonesia, dengan kata lain Amerika menekan Saudi Arabia, selanjutnya Saudi Arabia menekan PKS untuk menjalankan agenda Amerika di Indonesia.

Tentu tidaklah heran apabila merujuk pada peran Saudi Arabia selama ini yang getol mendukung Al-Qaeda, FSA maupun ISIS, maka tuduhan bahwa PKS menjadi pendukung teroris secara langsung, dapat dibuktikan dengan adanya kader PKS yang ditangkap Densus 88 di Bogor maupun di Pasuruan yang terlibat sebagai anggota ISIS. Begitu juga kalau melihat respon pengurus DPP PKS yang senantiasa menyudutkan pihak pemerintah (Polri) dalam menangani berbagai aksi terorisme di Indonesia selama ini.

Pertentangan Internal PKS

Kelompok Alumnus Afrika Utara seperti jebolan Mesir, atau Maroko dan Tunisia dalam tubuh PKS tetap berusaha mengusung prinsip perjuangan Ikhwanul Muslim untuk mendirikan Daulah Islamiyah di Indonesia, sementara kelompok jebolan Saudi Arabia lebih banyak mengusung perintah dari induk senang mereka yaitu Kerajaan Saudi untuk menjalankan kepentingan dan agenda tuan besar Amerika sebagai majikan Saudi Arabia di Indonesia.

Baca: GEGER Elit PKS

Konflik internal PKS yang menempatkan Kubu Anis Matta, Fahri Hamzah vs kubu Shohibul Imam Wiranu saling berhadap-hadapan boleh jadi adalah bentuk pertentangan kelompok Afrika Utara vs Saudi Arabia ditubuh PKS, belum lagi ada kubu lain yang di gawangi Aher dkk demi kekuasaan serta langkah penyelamatan diri akibat kasus korupsi di BJB kurang lebih senilai 450 Milyar yang sebenarnya sudah ditangan Polisi, dan tinggal tunggu meledak saja. Menambah runcing konflik serta pertentangan di tubuh PKS.

Baca: Kader PKS dan Media Radikal Serang Jokowi

Melihat semua kejadian yang melibatkan PKS selama ini, apalagi gerakan politik trans nasional mereka dengan agenda mendirikan Daulah Islamiyah sebagai pengganti NKRI, dengan terang benderang menolak Pancasila sebagai satu-satunya Azas dan pegangan bangsa Indonesia maka pembubaran partai ini tidak bisa ditawar lagi, serta harus menjadi gerakan besar anak-anak Ibu Pertiwi guna menyelamatkan NKRI dari kehancuran. (SFA)

Sumber: Akun Facebook Novy Ariansyah

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: