Nasional

Najwa Shihab Gemparkan Dunia Medsos

Sabtu, 27 Januari 2018 – 12.27 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Talk Show Najwa Shihab yang mendatangkan Gubernur DKI Jakarta dan Wakilnya membawa gegap-gempita jagat medsos, Najwa dicaci-maki sedemikian rupanya karena Anies-Sandi terpojok oleh pertanyaan-pertanyaan mematikan sang presenter kondang putri Quraish Shihab.

Baca: Menguak Rahasia Presenter ‘Ganas’ Najwa Shihab

Ada tulisan menarik oleh akun facebook Ramadhan Syukur dengan judul NAJWA, disitu Syukur menjelaskan bagaimana seharusnya seorang presenter, berikut tulisannya:

Gue pernah belasan tahun jadi reporter. Bertanya, mencari informasi, dan mengolah informasi adalah kerjaan gue. Tapi gak kebayang saat ini, kalo reporter bertanya dibilang bego. Meluruskan pertanyaan agar kembali ke pokok persoalan, dibilang lancang.

Baca: Sindiran Pedas Ananda Sukarlan Kepada Anies di Kanisius

Mengingatkan jawaban yang salah, dibilang kurang ajar. Dan reporter sekelas Najwa Shihab pun abis dibully dan dicaci maki pendukung narasumber. “Dia itu mau nanya apa mau ngetes? Dasar iblis.” Ini pertama kali gue denger reporter dimaki sadis seperti itu.

Pemaki Najwa mungkin gak paham kalo reporter bertanya ke narasumber, bukan seperti guru bertanya ke murid. Guru bertanya untuk menguji apa si murid masih ingat dengan pelajaran yang pernah diajarkan sebelumnya. Reporter bertanya untuk mendapatkan informasi yang benar dari mereka yang ahli atau pada pemilik kebijakan, agar publik jadi tahu dan mengerti.

Baca: Denny Siregar Bongkar Strategi Anies dan Kelompok Bumi Datar Telikung Prabowo

Misalnya, mau tahu sisik melik ibu kota dari A sampai Z, ya tanya sama gubernurnya. Kalo pejabatnya baru kerja selama 100 hari, ya tanyalah seputar mau dibawa ke mana ibu kota yang dipimpinnya lima tahun ke depan. Dan si narasumber harus tahu, bukan berlagak tahu, apalagi sok tahu, trus ngomongnya muter-muter gak jelas. Khas jawaban pejabat yang biasanya gak jujur.

“Tapi Najwa ini kalo bertanya kesannya sok tahu dan sok pintar? Jangan bela-belain deh.”

Itu bukan kesan. Reporter memang harus banyak tahu dan harus pintar. Makanya sebelum wawancara reporter bisa jungkir balik mengumpulkan dan mempelajari berbagai data dan fakta sebanyak-banyaknya dan selengkap-lengkapnya sebagai referensi untuk dikonfimasi bila diperlukan. Bukan untuk menyerang apalagi buat bikin malu.

Dosen gue yang sdh guru besar cerita pernah gak mau melanjuntukan wawancara setelah tahu si pewawancara bukan cuma gak mempersiapkan data apa-apa, tapi juga gak tahu apa-apa. Jawaban semua pertanyaannya bisa dijawab sendiri lewat buku (sekarang plus internet)

Menteri Soebroto (yang ahli perminyakan dunia) di jaman Soeharto gak mau meladeni wartawan yang menurutnya cuma sok tahu padahal gak ngerti persoalan. “Kamu belajar lagilah. Nanti kalo sudah paham baru wawancara saya,” katanya sambil ngeloyor pergi.

Guru besar ilmu politik Miriam Budiardjo cerita sama gue, setelah berkali-kali kecewa akhirnya dia gak mau lagi diwawancarai media kalo bukan sama pemimpin redaksinya langsung. Apa dia belagu? Bukan. Tapi karena reporter yang dikirim medianya sering yang gak berkualitas. Cemen.

Buat para narasumber pinter, biasanya gak mau wawancara kayak ujian esai. Gue bikin pertanyaan, elu tinggal bikin jawaban. Kalo itu sih gak usah ketemu orangnya. Kirim aja pertanyaan via email. Nanti akan dikirim balik jabawannya. Tapi kalo ketemu langsung ya harus ada semacam dialog. Saling mengisi. Kayak orang berdiskusi dengan sahabat. Harus jujur dan saling mau mengakui ketidaktahuan. Wawancara jadi berkualitas.

“Ah, Najwa itu jelas gak berkualitas, bahkan gak tahu diri. Masak orang lagi ngomong selalu dipotong seenaknya? Belajar lagi tuh sama Karni Ilyas.” Maki seorang emak-emak yang kayaknya cinta mati sama narasumber.

Denger ya, Mak. Di jaman media cetak masih berjaya dan tivi cuman ada satu-satunya, pejabat bego dan gak bisa menjelaskan kerjaannya, banyak Mak. Dia boleh ngomong sesuka-sukanya. Nanti omongannya yang norak dan gak mutu tinggal diedit atau disunting. Ada yang ditambah atau dibuang biar jadi bagus, enak dibaca, dan gampang dimengerti pembaca. Malem naik cetak. Besok pagi terbit deh.

Pembaca yang gak kenal narasumber, setelah baca laporan si reporter pasti mengira nih pejabat pinter amat yak. Cuma si reporter yang tahu itu pejabat aslinya pekok. Ngomong blentang blentong. Susunan kalimat kacau. Di tanya A eh semua abjad disebutin, dan pada bagian akhir malah gak ada jawaban A.

Gimana kalo pejabat pekok kayak jaman old begitu di jaman now ditampilkan di secara live? Inilah cikal bakal malapetaka. Dia pasti akan terlihat sebagaimana adanya. Real. Kebodohannya gak bisa diedit. Untuk menjaga durasi dan menyelamatkan mukanya, jalan satu-satunya jawaban yang melenceng harus dipotong kompas, diluruskan, diarahkan kembali ke substansi walau terpaksa lewat arteri.

Penyelaan yang dibumbui senyum manis itu bukan lancang atau kurang ajar, tapi bentuk editan langsung. Dan editan itu memang akan jadi menyakitkan kalau narasumbernya ngeyel dan gak mau mengakui kesalahan dan kekurangannya. Dan tontonan yang mestinya bisa jadi hiburan pun berubah jadi pertarungan. Jadi kayak nonton beladiri full contact. Tinggal nunggu siapa yang bakal terkapar KO.

Gue memang salah pernah bilang acara ini bakal turun ratingnya kalo menampilkan si dia. Ternyata ratingnya tinggi dan jadi trending topik. Sayang bukan rating atau trending yang positif, tapi negatif. Negatif buat Najwa yang akhirnya habis dibully dan dimaki-maki pendukung narasumbernya, tanpa ada yang membela.

Tapi ini pelajaran berharga buat Najwa. Lain kali jangan pernah lagi menampilkan narasumber yang gak kredibel, apalagi punya banyak pendukung atau follower fanatiknya yang gampang singitan. Siapa pun dia, seberapa pun tinggi jabatannya. Gak ada gunanya.

“Ini bukan acara Mata Najwa namanya, tapi Mata Iblis.” Dan makian yang gue baca makin gila dan cacat nalar. Iblis kembali dibawa-bawa.

Buat gue, kalo suatu saat ketemu iblis bermata bagus dan indah kayak gitu. Gue bakal rela deh nyerahin diri gue kayak Isabella Swan ketemu Edward Cullen dalam “Twilight”. Gigit leher gue Najwa… ayo gigit. Happy weekend.. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: