Nasional

Nadirsyah Hosen: Ketika Ilmuwan, Ulama dan Profesor Dibully di Medsos

Sabtu, 01 Juli 2017 – 10.16 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Medsos membuat orang merasa jadi setara. Hirarki keilmuan tidak lagi dihargai. Setiap orang merasa menjadi pakar. Marilah kita hormati spesialisasi keilmuan masing-masing. Tahu dirilah sedikit, bahwa ilmu ini luas, dan orang belajar agama tidak instan. (Baca: Menjawab Kritikan Ust Felix Siauw “Wahabi-Salafy” Tentang Dakwah Para Wali dan Habaib)

Dulu juga ada yang bantah saya soal gelar akademik. Kata yang bersangkutan: “lha wong Rasul saja gak pernah kuliah di universitas kok?”.

Saya ada dua gelar PhD hukum umum dan Syari’ah. Saya tidak klaim paling tahu, tapi jelas saya lebih tahu kedua bidang itu dibanding anak S1 ekonomi. Saya jelas goblok dalam bidang kedokteran, peternakan atau ekonomi. Saya gak akan berani menyalah-nyalahkan mereka yang punya gelar PhD dalam bidang tersebut.

Tidak ada orang yang pakar segalanya. Tidak ada orang yang goblok dalam segala hal. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Diskusi saling mengisi. Makanya anda cek saja orang seperti Jonru, Hafidz Ary, Felix, latar belakang keilmuannya apa? Apa mereka pakar perbandingan agama, fiqh, tafsir? (Baca: Ahmad Zainul Muttaqin Semprot Tokoh Khilafah Felix Siauw)

Mereka pasti punya kelebihan, tapi juga punya kekurangan. Kalau mereka ngetwit sesuai disiplin ilmunya silakan dikaji, kalau gak, ya di-ignore saja. Mari yuk kita diskusi di medsos sesuai kapasitas keilmuan kita, kita hargai para pakar sesuai bidang masing-masing, sehingga diksusi kita saling mengisi.

Imam al-Ghazali itu usia 33 tahun diangkat jadi Profesor di kampus an-Nizhamiyah. Siapa bilang gak punya gelar?

Ada yang mempertanyakan para ulama klasik kan tidak punya gelar PhD atau Prof, jadi gelar akademik itu tidak penting dalam belajar agama. Benarkah?

Dulu juga ada yang bantah saya soal gelar akademik. Kata yang bersangkutan: “lha wong Rasul saja gak pernah kuliah di universitas kok?”. Mari kita bahas dengan, pertama, mengungkap penghargaan Islam terhadap orang berilmu di Qur’an dan Hadits; kedua, bagaimana sejarah gelar dalsm dunia akademik. (Baca: Jokowi dan Sang Ahli Fitnah Kader PKS ‘Jonru’)

Islam sangat menghargai orang berilmu. QS al-Mujadilah:11 menjanjikan Allah mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu beberapa derajat.

Qur’an sering bertanya retoris: “afala ta’qilun?” Ini diulang sampai 13x. Apakah kamu tidak pakai akalmu? Begitu pentingnya akal dalam Islam. Al-Qur’an juga bertanya “afala yatadabbarun“, dan “afala tatafakkarun“, yang berarti: apakah kalian tak menelaah? apakah kalian tak berpikir?

Perintah pertama dalam al-Qur’an bukan shalat, puasa atau perang (apalagi cuma demo berjilid-jilid). Perintahnya: “bacalah!” Luar biasa bukan?

Term ulil abshar, ulil albab, dan ulin nuha dipakai al-Qur’an untuk merujuk kategori orang-orang yang berilmu. Itu “gelar akademik” dari Qur’an?

Hadits Nabi juga banyak sekali yang bicara soal kedudukan orang berilmu, kewajiban menuntut ilmu, dan reward yang diterima orang berilmu kelak.

Jadi, masalah belajar, baik ilmu agama maupun ilmu umum, ini dapat perhatian penting dalam Islam. Jadi, aneh kalau sekarang orang malah ngenyek.

Orang yang tidak menghargai ilmu biasanya tidak berilmu. Orang yang nyinyir sama ilmuwan dan profesor biasanya karena mereka “sulit menjangkau” nya?

Baik, sekarang kita beralih ke sejarah pendidikan Islam dan gelarnya utk menjawab pertanyaan: Nabi dan para ulama salaf tidak punya gelar? (Baca: Jangan Suntikkan Racun “JONRU” Wahabi Ke Islam Nusantaraku)

Di masa Nabi tentu tidak ada institusi pendidikan seperti universitas, jadi pertanyaan kenapa Nabi gak punya gelar akademik mudah dijawabnya?. Persoalan menjadi rumit kalau fakta Nabi tidak bergelar akademik membuat orang jadi menyepelekan para profesor dan PhD. Ini tidak benar. Bukan saja karena gelar itu adalah hasil akhir dari pendidikan resmi, namun pemberian gelar akademik sama sekali tidak dilarang dalam Islam.

Jadi tolong fakta Nabi tidak kuliah jangan dipakai sebagai alasan kemalasan anda belajar atau nyinyirnya anda terhadap para profesor dan ilmuwan. Dulu tidak ada universitas, jadi para ulama salaf belajarnya itu ke para syekh yang lalu memberi ijazah, yang lantas diadopsi barat dalam bentuk gelar.

Istilahnya dulu itu “ijazah al-tadris wal ifta” (semacam pengakuan anda selesai belajar sehingga berhak mengajar dan mengeluarkan fatwa). Ijazah itu berisi secarik kertas yang memuat penjelasan syekh tentang tuntasnya kita belajar berikut sanad para guru dari syekh kita tersebut. Rantai sanad keilmuan ini di pesantren tradisional masih dijaga sampai sekarang. Ijazah ini kemudian dalam bahasa Inggris menjadi sertifikat.

Jadi kalau anda belajar kitab al-Mahalli, misalnya, maka kiai anda akan memberi ijazah plus sanadnya setelah anda tuntas mengaji. Jadi di masa klasik meski belum ada institusi pendidikan seperti yang kita kenal sekarang, tradisi belajar dan ijazah kelulusan sudah ada.

Dulu Anda diakui sebagai syekh atau ulama sehingga berhak mengajar dan berfatwa kalau ada ijazah dari para guru anda di berbagai bidang ilmu.

Gelar akademik itu produk modern, tapi jaman klasik sudah ada pengakuan terhadap orang yang tuntas belajar dan berhak diakui sebagai syekh lewat ijazah. Tradisi “chair” dalam dunia akademik barat saat ini juga mengadopsi dari dunia pendidikan Islam klasik. Dulu para santri itu duduk melingkar dan syekh akan duduk di atas “kursi” di tengah-tengah santri. Ini diadopsi barat menjadi “Chair” dalam bdengan ilmu. Strata pendidikan S1, S2 dan S3 dalam dunia Akademik modern cikal bakalnya juga sudah ada dalam dunia Islam klasik.

Profesor itu kira-kira samalah dengan mujtahid mutlaq, lantas assoc prof itu mujtahid fil mazhab, dan seterusnya?

Dunia modern sekarang bergerak berdasarkan sertifikat. Kalau tidak ada pembedaan mana orang yang punya ilmu/skill dan mana yang tidak maka dunia jd kacau.

Serahkan segala sesuatu itu pada ahlinya. Lha terus bagaimana kita bisa tahu orang itu ahli atau enggak? Ya kita lihat sertifikat/ijazahnya. Bukankah ada orang yang otodidak berilmu? Boleh jadi demikian, tapi tanpa ijazah/sertifikat dia tidak boleh mengajar secara resmi.

Lucunya ada yang bantah saya soal gelar dengan menyebut Bu Susi yang tamat SMP. Lha dulu kalian ngenyek beliau, kok sekarang malah merefer ke beliau sih? Menteri itu jabatan politik, selama tidak ada aturan batas minimum kualifikasi ya silakan saja. Gak ada masalah.

Bu Susi bisa jadi menteri, tapi tidak bisa jadi dosen di kampus secara resmi, dengan ijazah SMP-nya. Wewenang menteri beda dengan otoritas keilmuan. Ada yang nyamber bahwa seolah saya sombong bicara gelar, dan sombong itu temannya iblis. Ati-ati mengiblis-ibliskan orang lain sodara.

Kalau anda membantah dan mencaci saya padahal anda tidak punya otoritas keilmuan, anda berkilah: “sesama Muslim saling mengingatkan”.

Tapi kalau saya bantah anda dan tunjukkan otoritas keilmuan yang saya miliki dan raih dengan susah payah, anda ngeles: “jangan sombong seperti iblis”. Lebih sombong mana sih: anda yang membantah tanpa ilmu atau saya yang membantah dengan ilmu? Ilmu itu yang harus jadi ukuran kita berdiskusi.

Kalau Nabi melarang orang miskin yang sombong, maka saya juga bisa bilang: “anda itu sudah awam, sombong lagi!” Jahil murakkab istilahnya.

Semoga kita semua terhindar dari penyakit jahil murakkab: “tidak tahu kalau dirinya itu tidak tahu apa-apa.” Mari kita terus belajar yuk.

Katakanlah, apakah sama orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui. Sungguh yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (QS Az Zumar: 9). (SFA)

Sumber: Akun Facebook Nadirsyah Hosen, Monash Law School

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: