Fokus

Muhammad Zazuli: Politisasi Agama Tumpulkan Kewarasan dan Akal Sehat

Politisasi Agama dalam Politik
BAHAYA, Politisasi Agama dalam Politik

JAKARTA – Politisasi SARA dan politik identitas yang marak pada Pilpres 2014 hingga kini membuat kita harus mengkaji ulang kadar nasionalisme dan kewarasan para anak bangsa kita saat ini. Hal ini tampak pada fakta-fakta berikut ini:

Baca: Ketua Alsyami: Politisasi Masjid Awal Kehancuran Timur Tengah

Pertama, Pendukung Prabowo dan PKS kerapkali menuding Jokowi yang muslim dan asli pribumi sebagai keturunan Tionghoa, Kristen, kafir, anak pemberontak PKI dan anti Islam. Tapi mereka mendukung Prabowo yang sesungguhnya adalah keturunan Tionghoa dengan latar belakang keluarga Kristen dan dia baru mualaf karena pernikahan politisnya dengan anak Soeharto. Ayah Prabowo bahkan juga adalah pemberontak PRRI Permesta yang kemudian melarikan diri ke luar negeri. Sama seperti Prabowo yang melarikan diri ke Yordania pasca kasus penculikan para aktivis, kerusuhan 1998 dan pemecatan dirinya dari TNI.

Kedua, Pendukung Prabowo dan PKS sering membully Jokowi yang tidak fasih berbahasa Arab, membully karena pakaian ihramnya miring, membully karena Jokowi masuk masjid dengan kaus kaki (padahal Raja Salman pas ke Indonesia juga masuk masjid dengan kaus kaki), membully shalatnya Jokowi dll. Tapi mereka membela dan memuji Prabowo setinggi langit sebagai “titisan Allah SWT”. Mereka mengaku sebagai pejuang Islam yang anti kapir tapi justru mendukung Prabowo yang tidak paham Islam. Prabowo tidak tahu bedanya shalat hajat dan shalat istikharah, tidak tahu syarat menjadi imam shalat, tidak membalas salam dua kali, tidak tahu cara berwudhu dll. Para bawahan Prabowo di militer juga bersaksi bahwa Prabowo juga tidak menunaikan puasa di bulan Ramadhan.

Ketiga, Pendukung Prabowo dan PKS selalu teriak kebangkitan pribumi, anti-Amerika, anti aseng dan anti asing padahal Prabowo, Anies dan Sandi sekolah di Amerika. Prabowo keturunan Tionghoa dan Anies keturunan Arab. Mereka bilang Jokowi pencitraan tapi tidak sadar kalo Prabowo naik kuda keliling lapangan bawa keris, Anies aduk lumpur pake tangan padahal di sebelahnya ada sekop dan Sandi minum air olahan tinja padahal air itu seharusnya bukan untuk diminum dsb. Itu baru namanya pencitraan kelas konyol. Tapi ya harap maklum karena mereka juga percaya bahwa bumi ini datar dan pipis onta adalah obat.

Baca: Politisasi Agama Cara Israel, Teroris & HTI Rampas Hak Orang Lain

Keempat, Pendukung Prabowo dan PKS sangat anti Ahok yang dianggap menistakan agama sehingga melakukan demo bersilid-silid agar Ahok dipenjara hanya karena mengatakan “jangan mau dibodohin pake….” (suatu peringatan yang ternyata terbukti benar adanya). Tapi mereka tidak sadar bahwa penistaan agama justru lebih banyak dilakukan oleh orang dari kelompoknya sendiri seperti pernyataan “Prabowo adalah titisan Allah SWT”, “Nabi Muhammad gagal mewujudkan rahmatan lil alamin”, “Kitab suci adalah fiksi”, “Mari kita desak Allah untuk memenangkan Prabowo”, “Allah malu kalo ga kabulkan doa ganti presiden”, “Bubarkan lima agama karena tidak sesuai Pancasila”, “Sampurasun adalah campur racun”, “Pancasila letaknya di pantat” dsb.

Kelima, Dan masih banyak lagi, capek saya nulisnya.

Baca: Para Ulama Timur Tengah Marah Besar Saat Agama Dipolitisasi Untuk Picu Konflik

Jadi kesimpulannya sudah jelas bahwa politisasi agama membuat orang kehilangan akal sehatnya. Orang yang mabok dogma cenderung akan mengalami krisis logika sehingga banyak kekonyolan yang tercipta atas nama agama. Jadi wajar saja jika jargon “2019 Ganti Presiden” dibalas dengan jargon “2019 Tenggelamkan PKS” karena terbukti bahwa partai ini yang paling rajin menjual Tuhan dan agama demi tujuan politik dan ambisi berkuasa. Salam Waras. (SFA)

Sumber: Akun Facebook Muhammad Zazuli

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: