Artikel

Membongkar Kebusukan Facebook

Kamis, 29 September 2016,

SALAFYNEWS.COM, LONDON – Raksasa jaringan sosial Facebook mengatakan bahwa penutupan akun-akun jurnalis Palestina yang mereka lakukan pekan lalu ini adalah sebuah kesalahan, tapi menurut artikel yang diterbitkan Fortune pada Rabu (28/09) kemarin, ungkapan seperti itu adalah tren umum saat ini untuk menyembunyikan suatu  kejahatan. (Baca: Google Hapus Peta Palestina, Dunia Mengecamnya)

Facebook secara rutin membantah bahwa perusahaannya adalah entitas media, atau yang berperilaku seperti media, namun jaringan sosial raksasa itu terus berperilaku dengan cara yang memiliki dampak yang signifikan dan nyata terhadap berita-berita yang mempengaruhi cara pandang penggunanya tentang dunia, dan praktek jurnalisme pada umumnya.

Dalam contoh terbaru dari perilaku ini, Facebook baru-baru ini menangguhkan akun beberapa wartawan Palestina tanpa memberikan peringatan atau penjelasan.

Menurut the Independent, empat editor dari  Kantor  Berita Shehab yang memiliki lebih dari 6,3 juta orang penyuka di Facebook dan tiga eksekutif dari Quds News Network yang sama-sama populer melaporkan bahwa mereka tiba-tiba tidak dapat mengakses akun pribadinya.

Setelah para jurnalis itu melapor ke Facebook, perusahaan itu kemudian meminta maaf dengan mengajukan alasan klise bahwa, “Tim kami memproses jutaan laporan setiap minggu, dan kadang-kadang kami melakukan kesalahan. Kami sangat menyesal tentang kesalahan ini,” kata juru bicara Facebook. (Baca: Monarki Saudi Khianati Islam Taati Zionis)

Sejumlah kelompok Palestina, bagaimanapun, percaya bahwa suspensi ketujuh akun Jurnalis Palestina itu  lebih dari sekedar kesalahan. Mereka berpendapat bahwa itu lebih mungkin adalah efek dari perjanjian baru yang telah dilakukan Facebook dengan pemerintah Israel.

“Masalahnya adalah bahwa Facebook mengadopsi kebijakan dan terminologi Israel ketika mereka  mendefinisikan mana yang dikategorikan sebagai hasutan,” ungkap Nadim Nashif, pendiri Pusat Arab untuk Kemajuan Sosial Media.

Awal bulan ini, pemerintah Israel mengatakan mereka bekerjasama dengan Facebook guna mengurangi penggunaan jaringan sosial untuk menghasut kekerasan. Menteri Kehakiman Israel mengatakan pemerintah telah mengajukan permintaan 158 konten untuk dihapus sejak Juni, dan perusahaan telah memenuhi 95% dari permintaan Israel.

Apa pun alasannya, masalah sensor di Facebook dan terutama sensor terhadap wartawan dan outlet-outlet berita merupakan masalah serius.

Hanya beberapa minggu yang lalu, jaringan sosial berulang kali menghapus dan menangguhkan rakun  posting seorang editor surat kabar Norwegia setelah ia menerbitkan sebuah foto pemenang hadiah Pulitzer, yaitu foto dari seorang gadis muda Vietnam yang melarikan diri dari desanya yang  di bom pada tahun 1972, sebagai bagian dari seri menarik fotografi perang.

Setelah kedua editor surat kabar dan perdana menteri Norwegia mengeluh, Facebook lagi-lagi mengakuinya sebagai suatu kesalahan dan memulihkan konten tersebut. Tapi masalah bagaimana perusahaan ini mengontrol berita dan jurnalisme telah menjadi sorotan.

Menghapus dan menangguhkan postingan akun-akun para jurnalis adalah sesuatu yang memicu lonceng peringatan, tetapi jaringan sosial itu lihai dengan juga membuat praktek baru dalam bentuk yang lebih halus dari sensornya setiap hari, dengan menggunakan algoritma news-feed untuk menyorot konten tertentu dan menyembunyikan jenis konten lainnya.

Facebook mengatakan pihaknya bukanlah entitas media, mungkin  karena tidak ingin memikul tanggung jawab untuk berperilaku seperti itu, tetapi kenyataannya adalah bahwa keputusan pihaknya tersebut memiliki dampak besar pada cara bagaimana 1,5 miliar penggunanya  melihat dunia . (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: