Headline News

Laporan PBB: Tahun 2016 Saudi Telah Membunuh Lebih dari 500 Anak Yaman

Jum’at, 18 Agustus 2017 – 06.42 Wib,

SALAFYNEWS.COM, NEW YORK – Sebuah draft laporan baru oleh Sekjen PBB Antonio Guterres memperingatkan bahwa koalisi pimpinan Saudi telah melakukan “pelanggaran berat” hak asasi manusia terhadap anak-anak Yaman pada tahun 2016, dengan membunuh 502 anak dan melukai 838 lainnya selama kampanye militer mereka yang brutal disana. (Baca: UNICEF: Anak Yaman Meninggal Setiap 10 Menit)

“Pembunuhan dan pelecehan anak-anak merupakan pelanggaran hak asasi anak-anak yang paling umum di Yaman,” demikian bunyi draf laporan rahasia yang berjumlah 41 halaman tersebut.

“Pada periode pelaporan, serangan yang dilakukan oleh serangan udara menyebabkan lebih dari setengah dari semua korban anak-anak, dengan setidaknya 349 anak terbunuh dan 333 anak-anak terluka,” bunyi draft laporan yang diperoleh oleh Foreign Policy menjelaskan lebih lanjut. (Baca: Agresi Saudi Sebabkan Kesengsaraan Anak-anak Yaman)

Menurut media Foreign Policy itu, penulis utama draf laporan PBB yang baru, Virginia Gamba, bermaksud untuk merekomendasikan koalisi yang dipimpin oleh Saudi agar kembali dimasukkan ke daftar negara dan entitas yang membunuh dan melukai anak-anak. Guterres, yang akan membuat laporan akhir publik pada akhir Agustus, akan membuat keputusan akhir mengenai masalah tersebut.

Pejabat Saudi, di bawah dukungan AS, secara pribadi melobi PBB untuk mengadakan pertemuan tingkat tinggi sebelum menerbitkan laporan tersebut, meminta badan dunia tersebut untuk tidak memasukkan Saudi laporan tersebut. Utusan Saudi untuk PBB menolak untuk memberi keterangan seputar hal ini.

Pada 2016, Arab Saudi termasuk dalam daftar yang mengatakan bahwa koalisi pimpinan Riyadh bertanggung jawab atas lebih dari setengah dari 1.953 korban anak-anak dalam perang Yaman. (Baca: Potret Berdarah Anak-Anak Kecil Saada Korban Agresi Sadis Saudi di Yaman)

Sebagai tanggapan, Arab Saudi mengancam bahwa negara-negara Arab akan keluar dari PBB dan memotong ratusan juta bantuan ke organisasi internasional tersebut jika koalisi tidak dihilangkan dari daftar pembunuh anak.

Kepala PBB saat itu, Ban Ki-moon, sepakat untuk sementara mencabut Saudi dari daftar hitam itu, dengan alasan kekhawatiran bahwa hilangnya sumbangan oleh kerajaan Teluk Persia dapat membahayakan program anti-kemiskinan PBB.

Perang yang dipimpin oleh Saudi ditujukan untuk mengembalikan mantan presiden Abd Rabbuh Mansur Hadi, sekutu setia Riyadh, dan merongrong gerakan Ansarullah di negara Yaman. Gerakan tersebut telah menjalankan urusan negara sejak 2014, saat Hadi mengundurkan diri dan melarikan diri ke Riyadh sebelum kembali ke Aden kemudian. Gerakan tersebut juga telah membela negara tersebut dari serangan yang dipimpin oleh Saudi.

Perang yang berlarut-larut, yang juga telah disertai oleh blokade laut, telah membunuh 14.300 orang Yaman, menurut angka terbaru yang dikeluarkan oleh kelompok pemantau lokal. Lebih dari dua tahun dalam perang Saudi, Yaman sekarang berurusan dengan “krisis kemanusiaan terbesar di dunia.” (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: