Headline News

Lampu Hijau Barat Bagi Teroris Untuk Lakukan Serangan Kimia Palsu di Ghouta Timur

Sabtu, 03 Maret 2018 – 10.52 Wib,

SALAFYNEWS.COM, GHOUTA SURIAH – Teroris telah menerima lampu hijau dari negara-negara pendukung mereka untuk melakukan serangan kimia palsu di Ghouta Timur, yang kemudian dituduhkan pada Angkatan Darat Suriah yang menggunakan gas beracun di wilayah yang dikuasai militan, kata seorang sumber militer pada hari Jumat (02/03).

Baca: Menlu Rusia: Cerita Palsu Serangan Kimia di Ghouta Timur

Sumber tersebut mengatakan bahwa kelompok teroris, termasuk Ahrar al-Sham, Faylaq al-Rahman dan Jabhat Al-Nusra bersiap untuk meluncurkan serangan kimia ke wilayah sipil di Ghouta Timur, yang kemudian dituduhkan pada tentara Suriah.

Sumber tersebut mengatakan bahwa para teroris telah diperintahkan untuk menggunakan bahan beracun yang dekat dengan kontak senjata dengan tentara Suriah untuk membuka jalan bagi AS, Inggris dan negara-negara barat lainnya untuk menuduh tentara Suriah melakukan serangan kimia terhadap warga sipil.

Pusat Rekonsiliasi Rusia di Suriah memperingatkan pada hari Minggu bahwa militan di Ghouta Timur, yang terus menahan sandera sipil dan membom Damaskus dengan puluhan mortir, dapat melakukan serangan kimia provokatif.

Baca: WOW! Intelijen Perancis Otak Serangan Kimia 2013 di Ghouta

Pemimpin kelompok militan yang mengendalikan daerah pinggiran Ghouta Timur Damaskus mungkin “mempersiapkan sebuah provokasi yang akan melibatkan penggunaan senjata kimia,” Mayor Jenderal Yuri Yevtushenko mengatakan dalam sebuah pengarahan pada hari Minggu, mengutip informasi intelijen yang diperoleh Pusat Rekonsiliasi Rusia di Suriah.

Beberapa jam setelah peringatan tersebut, beberapa laporan muncul bahwa beberapa orang di Ghouta Timur menderita gejala yang konsisten dengan paparan gas klorin, yang didukung oleh gambar dari kelompok White Helmets, yang terkenal dengan kemampuan uniknya untuk tampil di tempat yang tepat pada waktunya untuk memfilmkan orang sipil. Penderitaan, yang kemudian disematkan pada pasukan pemerintah Suriah.

Tuduhan keterlibatan Damaskus dalam serangan kimia lain terhadap warga sipil bersamaan dengan diadopsinya resolusi Dewan Keamanan PBB untuk memaksakan gencatan senjata 30 hari di Suriah, yang tidak berlaku bagi anggota ISIS, al-Nusra atau teroris lainnya. Setelah melalui perdebatan yang panjang dan sengit di PBB, di mana Rusia menegaskan bahwa teks resolusi tersebut diubah sehingga Damaskus tidak disebut sebagai satu-satunya pihak yang dipersalahkan atas kekerasan tersebut, resolusi tersebut dengan suara bulat diadopsi pada hari Sabtu.

Namun, militan yang menguasai Ghouta Timur telah benar-benar mengabaikan jeda kemanusiaan, setelah menyatukan perintah mereka untuk terus melancarkan serangan ke penduduk setempat dan menembaki Damaskus. “Situasi terus memburuk di Ghouta Timur di mana Jeish al-Islam, Jabhat Al-Nusra, Ahrar al-Sham, Faylaq al-Rahman, dan Brigade Fajr al-Ummah mendirikan sebuah pusat koordinasi terpadu,” Yevtushenko menambahkan.

Baca: Sniper Teroris Cegah Warga Sipil Tinggalkan Ghouta Timur

Pusat Rekonsiliasi Rusia mencatat bahwa kelompok militan menghambat pemberian bantuan kemanusiaan ke Ghouta Timur dan memblokir warga sipil untuk meninggalkan pinggiran kota atau menahan ratusan sandera, termasuk wanita dan anak-anak.

“Terlepas dari pernyataan Jeish Al-Islam tentang rekonsiliasi, penembakan mortir di Damaskus berlanjut dari wilayah yang dikendalikan oleh kelompok ini,” kata Juru Bicara Militer Rusia, dan mencatat bahwa setidaknya 31 peluru ditembakkan dari Ghouta Timur ke wilayah padat peduduk di Damaskus.

Teroris juga mencoba melakukan serangan bom mobil di dekat kota Qaboun, pinggiran kota Damaskus, sebuah usaha yang digagalkan oleh angkatan bersenjata Suriah. Menurut militer Rusia, kendaraan yang dilengkapi bahan peledak itu berasal dari daerah yang dikuasai oleh Faylaq al-Rahman dan militan al-Nusra.

Selama lebih dari seminggu, pasukan pemerintah Suriah telah melakukan operasi di Damaskus Steel, untuk membersihkan Ghouta Timur dari militan yang telah meneror penduduk setempat selama bertahun-tahun, dan yang menolak setiap inisiatif untuk meletakkan senjata mereka dan meninggalkan daerah tersebut. Ketika ketegangan terus berlanjut di Ghouta Timur, meski ada gencatan senjata yang disepakati, Pusat Rekonsiliasi Rusia di Suriah mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk “menghentikan pertempuran dan provokasi bersenjata.”

Ini bukan pertama kalinya laporan tentang serangan gas klorin telah muncul dari daerah kantong teroris di pinggiran ibu kota Suriah. Insiden sebelumnya diduga terjadi pada bulan Januari, tepat sebelum berbagai faksi masyarakat Suriah berkumpul untuk Kongres Nasional Suriah di Sochi, Rusia. Menteri Luar Negeri AS saat itu menggunakan laporan tersebut untuk menyalahkan Rusia atas semua insiden terkait persenjataan kimia di Suriah, terlepas dari siapa yang sebenarnya melakukan hal itu.

Kementerian Luar Negeri Rusia mengecam insinuasi tersebut sebagai “serangan propaganda besar-besaran” yang bertujuan untuk merongrong upaya penyelesaian damai di Suriah. (SFA/FNA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: