Headline News

Kudeta Terselubung Mohammed bin Salman “Rampok” Tahta Kerajaan Saudi

Minggu, 23 Juli 2017 – 15.24 Wib,

SALAFYNEWS.COM, RIYADH – Sebulan lalu, dunia dikejutkan dengan keputusan Kerajaan Arab Saudi. Mendadak, mereka mengumumkan pergantian putra mahkota dari Pangeran Mohammed bin Nayef (57) ke Pangeran Mohammed bin Salman (31). (Baca: Pangeran Mohammed bin Nayef Bai’at Rivalnya Mohammed bin Salman)

Sulit bagi kita atau bahkan bagi orang lain juga untuk memastikan kebenaran dari bocoran Barat yang diterbitkan oleh kantor berita dunia Reuters yang menyebutkan bahwa Raja Saudi Salman bin Abdul Aziz sedang bersiap untuk meninggalkan negara tersebut dan menghabiskan liburan di kota Tangier di Maroko utara dua hari lagi. Sebuah video telah direkam yang berisi penyerahan tahta kepada anaknya pangeran Mohammed bin Salman yang merupakan putra Mahkota Saudi. Dan mungkin rekaman ini akan disiarkan pada bulan September yang akan datang akan tetapi keputusan akhir dan terbaru yang dikeluarkan Raja Saudi pada hari kamis kemarin (20/07) tentang pembentukan badan “kepemimpinan keamanan negara” yang akan masuk dalam Dewan Kementerian atau kepada Raja secara pribadi, dan hal ini mungkin merupakan langkah awal yang akan diambil setelah turunnya tahta. (Baca: WOW! Raja Salman Tendang Pewaris Sah Kerajaan Saudi)

Kerajaan Saudi memutuskan untuk membentuk badan keamanan ini dan menggabungkan lembaga keamanan lainnya  dengannya, termasuk pasukan khusus, unit anti-teroris dan cabang investigasi yang artinya melucuti semua kekuatan keamanan yang penting dari Kementerian Dalam Negeri dan mengubahnya ke dalam Kementerian Protokol yang fungsinya terbatas pada masalah lalu lintas dan memerangi kejahatan dan narkotika serta masalah-masalah pidana sejenisnya.

Memang benar bahwa jabatan Kementerian Dalam Negeri tetap berada dalam lingkaran keluarga Pangeran Nayef bin Abdul Aziz setelah penggulingan puteranya dan khalifahnya Pangeran Mohammed  bin Nayef yang merupakan putera mahkota yang digulingkan, dan mengangkat keponakannya yakni Pangeran Abdul Aziz bin Saud bin Nayef untuk menduduki jabatan ini yang mengundang kemarahan dari keluarga setelah digulingkannya Mohammed bin Nayef dari jabatan Putra Mahkota dan dari seluruh jabatannya yang lain dan memberlakukan tahanan rumah di istananya di kota Jeddah dalam “kudeta diam-diam”.

Penunjukan Jenderal Abdul Aziz Al-Huwairani sebagai komandan badan “keamanan negara” yang baru, mungkin sebagai langkah transisi sementara, karena jenderal Al-Huwairani yang menjabat sebagai penasihat Pangeran bin Nayef mengetahui dengan teliti sendi dalam Kementerian Dalam Negeri dan memiliki kemampuan besar dalam menjaga keamanan negara dan memerangi terorisme dan memiliki peranan sangat penting terkait hubungan dengan badan keamanan AS. Dan kami tidak mengesampingkan kemungkinan pencopotan jabatannya segera setelah misi barunya selesai dalam pembentukan bagian keamanan yang baru terutama setelah sejumlah laporan menggemakan mengenai statusnya sebagai tahanan rumah setelah pelengseran Pangeran bin Nayef. (Baca: Perebutan Kekuasaan Dua Pangeran Kerajaan Saudi Semakin Memuncak)

Selain itu, Jenderal Al Huwairani memang bukan berasal dari keluarga yang berkuasa sehingga ia dinilai tidak menciptakan bahaya bagi Raja berikutnya, yaitu Pangeran Mohammed bin Salman akan tetapi kedekatannya dengan Pangeran bin Nayef dan sebelumnya dengan ayahnya membuat ia diwaspadai dan tidak dipercaya karena Pangeran bin Salman melihat kepada penunjukan sebelumnya, lebih memilih bekerja dengan “orang-orangnya saja” terutama dalam bidang keamanan dan militer yang sensitif, dan hal ini tidaklah mengherankan jika terjadi di wilayah Timur Tengah yang sering mengalami kudeta, perang, revolusi dan intervensi asing, dan AS bisa mengntervensi dalam urusan internal dan eksternal sekaligus.

Kami sangat setuju dengan surat kabar Raial Youm dan sebagian besar pendapat yang mengatakan bahwa Pangeran bin Salman, setelah keputusan ini tengah fokus pada kekuasaan Saudi dan lembaga-lembaganya agar berada dalam gengaman tangannya dan para pendukungnya, di mana sebelumnya keluarga Saudi tidak mengetahui betapa hausnya Pangeran bin Salman akan kekuasaan sejak ia menguasai pemerintahan karena sebagaimana adat yang berlaku bahwa kerajaan harusnya membagikan jabatan kekuasaan atau pemerintahan di semua lini keluarga kerajaan dan mewujudkan keseimbangan dalam hal ini, dan Arab Saudi saat ini bukanlah Arab Saudi yang kita kenal, dan hal ini tidak berarti bahwa mereka lebih baik atau lebih buruk, beberapa tahun berikutnya dalam perang yang saat ini berkobar di Yaman, mungkin berikutnya akan berkobar di Qatar dan hal ini akan menjawab pertanyaan ini.

Dan proses marginalisasi kerajaan tidak menyentuh beberapa sisi keluarga, anak-anak dari pendiri kerajaan Raja Abdul Aziz Al Saud yang masih hidup, dan sebagian besar cucunya, dan anak-anak dari Raja Salman, saudara Pangeran Mohammed, Putra Mahkota, kecuali saudaranya Khaled yang ditunjuk sebagai Duta Besar di Washington dan sejauh ini belum menunjuk saudara kandung lain, seperti Sultan, Abdul Aziz dan Faishol kecuali dalam posisi sekunder di mata mereka dan selain mereka. (Baca: Kerajaan Saudi dan Amerikaisasi Kota Suci Umat Islam)

Bahkan Komandan Pengawal Kerajaan, Jenderal Hamad Al-Auhali yang dikenal dengan kesetiannya kepada Raja dan keluarganya digulingkan dari jabatanya dan menujuk Jenderal Suhail Al-Mutairi untuk menggantikannya.

Kerajaan saat ini tengah menunggu keputusan dan pengumuman satu-satunya saja yang akan membangunkan orang-orang pada fajar suatu hari, atau larut malam dengan sebuah pernyataan yang diekluarkan oleh Dewan Kerajaan yang mengumumkan tentang penyerahan tahta Raja Salman kepada anaknya Mohammed bin Salman, dan kemudian mengundang anggota kerluarga kerajaan dan pejabat pemerintahan yang senior, para pemuka agama dan warga untuk mengucapkan sumpah setia dan kami meyakini bahwa hari itu tidak akan lama lagi. (Baca: Empat Tanda Kehancuran Kerajaan Saudi)

Apakah hal ini akan menjadi transisi kekuasaan dengan cara halus yang terang-terangan dilakukan yang sama dengan yang pernah terjadi ketika penggulingan dua putra mahkota yakni Pangeran Muqrin dan Mohammed bin Nayef dalm waktu dua tahun. Kami bukan peramal atau pembaca garis tangan akan tetapi kami tidak mengesampingkan kemungkinan yang ada bahwa kudeta halus ini memang terjadi. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: