Eropa

Kucing Alat Promo ISIS Terbaru untuk Rekrut Pemuda Barat Gabung Khilafah

Jum’at, 09 Juni 2017 – 18.24 Wib,

SALAFYNEWS.COM, SWEDIA – Hari-hari ini, internet tergila-gila pada foto anak kucing yang menggemaskan. Foto lucu dimanfaatkan oleh ISIS sebagai propaganda untuk merayu pemuda Barat untuk bergabung dengan “khilafah”. (Baca: ISIS Rilis Iklan Perjalanan Wisata Takfiri)

Gambar “prajurit khilafah” yang menggunakan senjata dan janji langit di bumi, tidak cukup untuk mencuci otak orang Barat. Sebaliknya, kelompok ekstremis menemui korban potensial mereka di rumah mereka, mencoba merayu mereka dengan subkultur yang banyak menggambar citra Barat, sebagaimana yang ditemukan oleh sebuah penelitian tentang propaganda Islam di Swedia.

Penelitian oleh Swedish Defense Research Agency (FOI), berjudul “The Digital Khilafah,” menemukan bahwa Daesh (ISIS/ISIL) sangat bersandar pada subkultur yang dikenal sebagai ‘Jihadi Cool’ untuk kegiatan cuci otaknya. ‘Jihadi Cool’ adalah subkultur sesuai pilihan selera yang mencoba merekrut militan Islam dalam bungkus hura-hura dengan musik, fashion dan ekspresinya sendiri, menurut laporan harian Swedia Dagens Nyheter.

Fitur yang sangat mencolok dari ‘Jihadi Cool’ adalah bahwa pemasang web generiknya terlihat hampir tidak dapat dibedakan dari akun media sosial biasa, yang penuh dengan gambar pink, foto lucu anak-anak kucing dan kuda, serta foto karakter glitterati dan komik, seolah-olah itu semua tidak akan kena campur tangan pisau, darah dan slogan-slogan Jihadi.

Misalnya, Daesh dikenal karena menyebarkan gambar yang menampilkan krim cokelat Nutella dan permen Skittles untuk menunjukkan bahwa apa yang ditemukan di negara-negara Barat juga tersedia dalam “khilafah.” Daesh juga tampaknya telah memperhatikan titik lemah orang Barat untuk foto lucu dan memposting jepretan kucing “pejuang” peliharaan mereka. (Baca: Duet Maut Trump dan Kelompok Khilafah Hancurkan Timur Tengah)

Untuk gerakan ekstremis yang menganjurkan penghancuran Barat, tampaknya tidak sesuai jika mengandalkan referensi Barat pada tingkat yang begitu tinggi. Meskipun demikian, Daesh kurang berhasil dalam kampanye perekrutan jangka panjang, kata peneliti FOI Liisa Kaati kepada outlet berita The Local Swedia. Generasi kedua imigran, yang tumbuh di negara-negara Barat, telah menjadi sumber tentara bantuan yang hampir habis. Bagi mereka, ideologi adalah sekunder ketimbang gaya hidup. Sebaliknya, propaganda yang menyebar ke seluruh dunia Arab jauh dipenuhi perang dan kekerasan.

Namun demikian, para peneliti melihat adanya pergeseran yang jelas dalam isi propaganda menjelang akhir 2016. Sampai saat itu, publisitas Daesh sebagian besar bersifat khayalan dan sebagian besar berfokus untuk menggambarkan ganjaran surgawi dari “kekhalifahan”. Pada sekitar bulan September 2016, dampak ideologis menjadi lebih agresif, dan fokusnya beralih pada permintaan untuk mengambil tindakan di negara asalnya. pada waktu yang sama, pisau dan kendaraan mulai muncul sebagai tema baru dan terbukti menjadi senjata pilihan dalam serentetan serangan baru-baru ini di seluruh Eropa.

FOI ditugaskan untuk melakukan penelitian ini oleh pemerintah Swedia dalam upayanya untuk meningkatkan kesadaran dan melawan bangkitnya ekstremisme kekerasan di negara Nordik.

Menurut perkiraan sebelumnya oleh Polisi Keamanan Swedia, SÄPO, setidaknya 300 orang telah melakukan perjalanan ke Timur Tengah sejak tahun 2012, untuk bergabung dengan berbagai sekte Islam. Dari jumlah tersebut, sekitar 130 telah kembali ke Swedia dan kelompok ini mendapat tanda sebagai ancaman paling serius terhadap keamanan Swedia. (SFA)

Sumber: Sputnik

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: