Nasional

KH Aqil Siradj: Percuma Ada Agama Jika Tidak Ajarkan Keharmonisan dalam Bermasyarakat

Rabu, 21 Juni 2017 – 03.16 Wib,

SALAFYNEWS.COM, BALI – Ketua Umum (Ketum) PBNU, KH. Said Aqil Siradj menyampaikan orasi kebangsaan pada Buka Puasa Kebangsaan, yang diadakan Kodam IX Udayana di Komplek Garuda Wisnu Kencana (GWK) Jimbaran Badung Bali, Selasa (20/06). (Baca: Pancasila, Jangkar Yang Mempertemukan Agama dan Nasionalisme)

Dihadapan sekitar 5000 peserta buka puasa dari berbagai lintas agama ini, Kiai Said menjelaskan tentang hakikat manusia sejak diciptakan dimuka bumi ini, sampai nanti kembali kepada Tuhannya, ada amanat sebelum amanat beragama, yakni amanat kemanusian.

“Jadi agama apapun yang diturunkan oleh Tuhan sebenarnya untuk memperkuat hubungan yang harmonis diantara kita semua sebagai manusia. Percuma ada agama jika tidak mengajarkan keharmonisan dalam bermasyarakat,” papar Kiai Said yang langsung disambut tepuk tangan hadirin.

Untuk meluruskan pemahaman yang salah tentang ajaran Islam, Kiai Said menjelaskan bahwa Islam merupakan agama yang mengajarkan perdamaian dan keselamatan. Sebagai seorang muslim wajib membela agama Islam tapi dengan cara-cara yang mulia, tidak dengan cara cara yang tidak mulia, yang malah justru mencoreng nama baik Islam. (Baca: Mereka Kibarkan Bendera “Agama” Namun Gerogoti Pancasila)

“Tidak benar jika ada orang islam yang katanya membela Islam dengan melakukan teror, bom, membunuh manusia, seperti Amrozi yang ngebom Bali, Wallahi dan demi Allah itu bertentangan dengan agama islam” tegasnya.

Kiai Said pun menceritakan pesan Nabi Muhamada SAW dalam setiap khutbah untuk tidak boleh ada permusuhan kecuali kepada yang melanggar hukum.

“Jadi tidak boleh, kita menganggap musuh karena hanya beda agama suku dan golongan, kecuali kepada mereka yang dholim,” jelasnya. (Baca: Cendikiawan Suriah: Banyak Negara Muslim Hancur Karena Tak Cinta Tanah Air)

Masih menurut Ketua Umum PB NU ini menambahkan, bagaimana KH. Hasyim Asy’ari, pendiri jamiyah NU,  pada tahun 1914 memiliki visi yang sangat jauh untuk menyatukan dan mensinergikan Islam dan Nasionalisme. Islam saja belum tentu bisa menyatukan umat, Nasionalisme saja akan menjadi nasionalisme yang kering dan liar. Agama dan Nasionalime harus bersinergi.

“Ternyata benar apa yang disampaikan pendiri NU KH HAsyim Asy’ari ini, ketika hari ini menyaksikan berbagai gejolak di Negara-negara Timur Tengah yang padahal seratus persen islam, tapi saling bunuh, saling ngebom,” terangnya.

Mengapa bisa terjadi demikian? Lanjut Kiai Said, karena di Timur Tengah tidak mengenal jargon Hubbul Wathon Minal Iman. Disana juga yang ulama tidak nasionalis, yang nasionalis bukan ulama.

“Di Indonesia Alhamdulillah, Ulama-ulama NU adalah ulama yang Nasionalis, dan Nasionalis yang Ulama. Dan Pancasila sudah menggambarkan bagaimana nilai-nilai agama dan nasionalisme melebur menjadi 5 sila dalam Pancasila,” pungkas Kiai Said.

Hadir dalam kegiatan buka bersama itu diantaranya Gubernur Bali, Polda Bali dan perwakilan perwakilan Pemkab se Bali Nusra serta para pemuka agama ini diakhiri dengan buka puasa bersama dan dilanjutkan dengan penampilan berbagai kelompok musik dari prajurit TNI. (SFA)

Sumber: NU Online

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: