Fokus

Kesaksian Denny Siregar ‘Ahok, Seorang Petarung Sejati’

Ahok petarung Sejati
Ahok petarung Sejati

JAKARTA – Kesaksian Denny Siregar “Ahok Adalah Seorang Petarung Sejatai. Saya dua kali bertemu Ahok di rumah tahanan Mako Brimob. Setiap pertemuan, saya melihat perubahan-perubahan drastis dari dirinya. Ia lebih ceria, lebih merdeka, lebih terbuka dan lebih bijaksana. Meskipun gayanya tetap yaitu selalu mendominasi ruang pembicaraan, tetapi bahkan menjadi pendengarpun terasa nikmat ketika bersamanya.

Dari kedua pertemuan itu, ada yang saya catat dari pribadi seorang Ahok. Ia tidak mengeluh dan tidak curhat tentang “Kenapa gua harus dipenjara”. Apalagi menjelek-jelekkan mereka yang sudah memenjarakannya. Ia bercerita banyak hal kecuali peristiwa yang menyakitkan hatinya.

Baca: Sebar Fitnah kepada Ahok, Denny Siregar ‘Semprot’ HNW Petinggi PKS

Ahok bisa saja bercerita untuk menarik simpati dari mereka yang berkunjung. Apalagi kejadian yang menimpanya termasuk kejadian luar biasa, didemo ratusan ribu orang dan dituding sebagai penista agama.

Ia bisa saja bercerita dengan wajah terluka, bahwa seharusnya ia tidak ada di tahanan sekarang karena ia tidak bersalah. Atau ia bisa bercerita tentang situasi dan teori konspirasi siapa yang memenjarakannya.

Tidak. Ahok tidak begitu..

Ia telan semua kepahitan yang menimpanya. Ia redam semua nafsu amarahnya. Ia sembunyikan kegetirannya. Ia obati sendiri lukanya. Ia adalah orang yang beriman.

“Urusan siapa yang salah dan siapa yang benar, biarlah jadi urusan Tuhan. Jika gua memang harus berada di penjara, biarlah ini menjadi takdir gua,” begitu katanya.

Itulah yang saya kagumi dari seorang Ahok. Dia bukan saja berjiwa besar, tetapi juga berfikiran luas. Ia seperti elang, memandang setiap peristiwa bukan dari sudut pandang terendah, tetapi dalam posisi tertinggi. Dengan begitu, ia bisa memetakan situasi dan bertindak dengan penuh strategi.

Baca: Kisah Haru Eko Kuntadhi Saat di Mako Brimob, Ahok: Jokowi Sahabat Sejati

Apakah Ahok bisa dibilang tidak jujur pada situasinya?

Kalau masalah kejujuran, jangan ragukan seorang Ahok. Ia bisa kaya raya saat menjabat. Triliunan dana pengusaha siap membantunya membangun Jakarta. Dan ia bisa saja meminta sekian persen sebagai “hasil keringatnya”.

Ahok bahkan menulis untuk terus mendukung Jokowi. Dan lebih dalam lagi, ia menyebut Jokowi sebagai “sahabat”nya.

Padahal di luar sana, banyak pendukungnya yang berteori bahwa Jokowilah yang bersalah membiarkan Ahok dipenjara tanpa mau pasang badan melindunginya.

Setiap bertemu Ahok saya selalu belajar sesuatu. Bahwa menjadi politikus itu mudah. Menjadi seorang tokoh bukan perkara yang susah. Tetapi menjadi seorang negarawan yang dihormati semua kalangan, bukanlah perkara gampang. Ini sudah masalah hakikat, pencarian makna akan diri, dimana ia ditempatkan.

Ahok sudah menemukan dirinya sendiri. Sebuah konsep yang sederhana, tapi menjalaninya setengah mati. Jabatan bukan sesuatu yang ia pertahankan mati-matian ataupun rebut dengan segala cara.

Baca: Surat Eko Kuntadhi kepada Ahok Bikin Maestro Indonesia Addie MS Menangis, Kenapa?

“Jabatan itu amanah, bukan peluang. Jadi kalau kamu diberikan amanah, menangislah. Karena itu seperti beban, yang harus kamu bawa kemana-mana sebagai tanggungjawabmu kepada banyak manusia,” begitu nasihatnya lagi.

Saya tidak tahu, mungkin kegembiraan Ahok sekarang adalah karena ia terlepas dari beban amanah karena tidak lagi menjabat. Atau, ia kembali menangis ketika amanah kembali menghampirinya lagi saat ia keluar dari tahanan.

Yang kutahu, kebesaran nama Ahok, tidak mengecil meski ia selama dua tahun tidak terlibat dalam politik, tidak terliput media dan bahkan tidak dalam posisi apa-apa. Penjara tidak membunuhnya, bahkan semakin menjadikan wangi namanya. Tulisan tangannya selalu dinanti sebagai bagian dari motivasi diri.

Saya jadi teringat kata Nelson Mandela dalam film Invictus yang begitu menginspirasi. “I am the master of my fate, the captain of my soul.”

Ahok adalah tuan dari takdirnya dan komandan dari jiwa sendirinya..

Ingin saya suguhkan secangkir kopi, sekadar rasa terimakasih, karena sudah mengajariku bagaimana menemukan diri sendiri. Seruput. (SFA)

Artikel ini telah di muat di Tagar.id dengan judul ‘Ahok, Seorang Petarung Sejati

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: