Fokus

Kepala BNPT Laporkan Terorisme di Jatim kepada Presiden Jokowi

Senin, 10 April 2017 – 14.12 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Teror mengguncang Tuban. Pos polisi ditembaki teroris. Presiden minta BNPT lebih efektif lagi dalam mencegah terorisme. Dan juga kasus penjemputan kader PKS oleh Densus 88 di bandara Juanda. (Baca: Surat Terbuka Aznil ST: Indonesia Menggugat PKS)

Hari ini Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius menyambangi Istana Kepresidenan untuk melaporkan perkembangan penanggulangan tindak kriminal terorisme di Jawa Timur kepada Presiden Joko Widodo.

“Saya paparkan ke beliau perkembangan dan situasi aktual, termasuk juga apa yang sudah kita lakukan selama ini di samping penindakan atau hard approach yang kita kembangkan juga ada juga soft approach,” kata Suhardi ditemui di Komplek Istana Kepresidenan usai bertemu Jokowi pada Senin.

Menurut Suhardi, selain penindakan BNPT juga melakukan upaya pencegahan melalui pembinaan mantan napi teroris sehingga penanganannya berimbang.

Presiden, ujar Suhardi, meminta kepada BNPT untuk menindaklanjuti program penanganan tindak kriminal terorisme yang berjalan efektif. (Baca: BNPT Minta Warga Jatim Waspadai Rekrumen Teroris Gaya Baru)

“Yang sudah baik tolong diteruskan, yang masih belum tolong cari pola-pola yang baik untuk bisa lebih tepat dalam rangka melakukan sosialisasi kepada masyarakat,” kata Suhardi menjelaskan arahan Presiden kepada BNPT.

Selain itu, BNPT juga meminta agar pemerintah daerah dapat bekerja secara simultan dengan pemerintah pusat dalam menangani mantan napi terorisme maupun WNI yang dideportasi dari luar negeri akibat dugaan terkait kegiatan teror atau Negara Islam Irak-Suriah (ISIS). (Baca: Kepala BNPT: Indonesia Seperti Suriah JIKA TIDAK Punya UU Terorisme Yang Pas)

Suhardi menjelaskan kerjasama pemerintah daerah diperlukan dalam memantau identitas dan kegiatan sejumlah mantan napi teroris maupun “deportan” sebagai tindak pencegahan.

“Harusnya peranan media dan peranan Pemda itu harus ada. Jangan diam saja dan akses keamanan bisa dari Polri dan TNI, tapi akses sosial dan sebagainya itu keterlibatan dari pemerintah daerah. Jadi jangan cuma nanti pas ada kejadian baru ribut,” ujar Suhardi.

Sebelumnya, petugas gabungan dari Polres Tuban, Brimob dan TNI menembak mati enam terduga teroris saat kontak senjata pada Sabtu (8/4) sore di Tuban, Jatim.

Para terduga teroris menyerang pos lalu lintas di Jenu, Tuban dengan menumpangi mobil H 9037 BZ dan menembak salah satu anggota Satlantas Polres Tuban.

Dari hasil pemeriksaan sementara, terungkap bahwa pelaku bernama AH (alamat Tersono, Batang, Jateng), SA (Ngaliyan, Semarang, Jateng), YR (alamat Gemuh, Kendal, Jateng) dan EP (Tersono, Batang, Jateng).

Keterangan Polisi menjelaskan para pelaku diduga merupakan anggota jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Semarang yang diketuai oleh amir JAD Semarang yakni Fauzan Mubarok. (SFA/BerbagaiMedia)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: