Fokus

Kepala BNPT: JAD Kelompok yang Diwaspadai Saat Ini di Indonesia

Selasa, 06 Desember 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Semakin maraknya aksi-aksi teror baru-baru ini di Indonesia, apalagi mendekati Natal, Pilkada serentak, dan pasca kekalahan teroris ISIS di Suriah dan Irak, saat ini para ekspatriat banyak yang kembali ke negaranya masing-masing. Hal ini juga telah di tegaskan oleh Menteri Hukum dan Dalam Negeri Singapura yang memperingatkan ancaman serangan teror di Asia Tenggara oleh kelompok teroris ISIS yang terus mengalami kemunduran di Irak dan Suriah, seperti dilansir oleh kantor berita Arrahmahnews.com (04/12).

Dan yang lebih khusus lagi di Indonesia, menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius menyatakan Jamaah Anshar Daulah (JAD) merupakan kelompok yang paling diwaspadai pergerakannya di Indonesia saat ini. (Baca: Pelaku Bom Molotov Samarinda dari Jaringan Teror Lama di Indonesia)

“Yang paling diwaspadai JAD tetapi jaringan yang lain juga masih ada. Tetapi yang sekarang punya afiliasi langsung dengan jaringan global, yaitu JAD,” kata Suhardi di sela-sela Seminar Nasional “Preventive Justice Dalam Antisipasi Perkembangan Ancaman Terorisme” di Jakarta, Selasa (6/12/2016).

Senada dengan Suhardi, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, juga menyatakan bahwa “sel-sel” dari JAD memang masih ada tetapi mereka berhubungan dengan jaringan-jaringan yang berada di Suriah dan Irak.

“Jadi, yang bisa kami lakukan di sini adalah berusaha meminimalisir gerakan mereka dan rekrutmen mereka. Tetapi akar masalahnya sendiri yang di Suriah kami harap juga bisa diselesaikan dengan kerja sama internasional,” ucap Tito. (Baca: Radikalisme dan Terorisme Adalah Buah Haram Wahabisme)

Suhardi juga menyatakan bahwa fenonema yang terjadi saat ini adalah bagaimana JAD maupun kelompok teroris lainnya dapat bergerak sendiri-sendiri maupun berkelompok dengan perintah-perintah melalui media sosial.

“Misalnya ISIS, mereka lihai dalam menggunakan “Cyber Space” untuk menyebarkan aksi teror mereka, rekrutmen anggota maupun menghasut ribuan orang,” kata Suhardi.

Selain itu, kata dia, media sosial juga bisa dimanfaatkan untuk melakukan koordinasi antara satu jaringan dengan jaringan lainnya di seluruh dunia.

“Misalnya menentukan lokasi serangan dan sebagai wadah untuk menghimpun dana operasianal untuk melancarkan serangan,” tuturnya dikutip Antara.

Sebelumnya, Juhanda salah satu pelaku dalam peledakan bom di halaman Gereja Oikumene, Samarinda pada Minggu (13/11) adalah anggota JAD Kalimantan Timur. (Baca: Juhanda, Pelaku Bom Molotov Samarinda Ikut Aliran Anti Dzikir)

Pelaku sendiri pernah menjalani hukuman penjara selama tiga tahun enam bulan sejak Mei 2011 atas kasus teror bom Puspitek, Serpong, Tangsel, Banten. Kemudian Juhanda dinyatakan bebas bersyarat setelah mendapatkan remisi Idul Fitri pada 28 juli 2014.

Tak hanya terlibat kasus teror bom di Serpong, Juhanda alias Joh juga diduga terkait dengan kasus bom buku di Jakarta pada 2011 yang tergabung dalam kelompok Pepy Fernando.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

SalafyNews Media Islam Terpercaya, Dan Anti HOAX

Media yang Menjelaskan Tentang Cinta Tanah Air dan Bangsa

Gabung di FP FB Salafy News

Copyright © SALAFY NEWS 2015

To Top
%d bloggers like this: