Fokus

Kelompok Radikal “Rampok Kampus-kampus Sekuler” di Indonesia

Minggu, 07 Mei 2017 – 11.28 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Tulisan menarik Prof Sumanto Al-Qurtuby di akun facebooknya tentang konservatifsme Agama  di “Kampus Sekuler”, jelas sekali kelompok radikal telah merampok kampus sekuler untuk menyebarkan doktrin radikal mereka, beriktu tulisannya:

Menarik untuk diperhatikan ada perbedaan mendasar antara “kampus agama” dan “kampus sekuler” di Indonesia dan di Tanah Arab berkaitan dengan perkembangan konservatisme agama. Di Tanah Arab, konservatisme agama biasanya bersarang di kampus-kampus agama (baca “kampus Islam”) yang menawarkan studi-studi keislaman. Untuk di Saudi misalnya Universitas Islam Madinah atau Al-Imam Muhammad bin Saud Islamic University. (Baca: Sumanto Al-Qurtuby: Waspadai Gerakan Kelompok “Islam Sontoloyo”)

Sementara itu “kampus-kampus sekuler” (baca, kampus-kampus yang mengfokuskan pada disiplin atau bidang-bidang kajian diluar studi-studi keislaman), seperti kampusku ini, tidak begitu konservatif, bahkan sebaliknya sangat terbuka dengan berbagai perubahan dan pemikiran.

Di kampus-kampus jenis ini, masalah kajian keislaman hanya “pelengkap” saja, bukan sesuatu yang primer. Yang menjadi fokus utama adalah kajian-kajian mengenai komputer, bisnis, ekonomi, hard science, geo-science, teknologi, engineering, petroleum & mineral, dlsb. “Konservatisme ekstrim” tidak laku di kampus-kampus tipe ini.

Menurut murid-muridku, para siswa SMU yang Index Prestasi atau nilainya pas-pasan akan masuk ke kampus-kampus Islam, sementara yang pinter-pinter akan berhamburan mendaftar ke jurusan-jurusan atau kampus-kampus non-Islamic studies. (Baca: Sumanto Al-Qurtuby: Kalian ini penyembah Tuhan atau pemuja Setan?)

Menurut data statistik, kampusku menjaring ranking 1-5 anak-anak alumni SMU seantero Saudi. Kalau tidak diterima disini baru mendaftar di kampus-kampus lain. Tujuannya pragmatis: bisa gampang cari kerja setelah selesai. Karena bekerja di sektor publik maupun swasta membutuhkan kemampuan Bahasa Inggris memadai, maka kampusku menjadi favorit dan diminati banyak orang apalagi mereka yang ingin bekerja di perusahan-perusahaan besar, baik lokal maupun transnational, yang mensyarakatkan kemampuan berbahasa Inggris.

Nah di Indonesia, menariknya, justru sebaliknya. Kampus-kampus sekuler (seperti IPB, ITB, ITS, dlsb) justru menjadi sarang konservatisme agama. Simpatisan HTI, Pilkaes, dan ormas-ormas Islam sejenisnya laku keras di kampus-kampus jenis ini. (Baca: Sumanto Qurtuby: Jangan Mau Dikibulin, Konsep “Daulah Islamiyah” Sekuler)

Sebaliknya, mereka tidak laku di kampus-kampus Islam (seperti UIN, IAIN, STAIN, dlsb). Kenapa? Karena para mahasiswa & mahasiswi di kampus-kampus Islam ini rata-rata alumni Madrasah Aliyah dan pondok pesantren yang sudah terbiasa dengan berbagai kajian, pandangan, dan literatur keislaman. Apalagi dosen-dosennya sudah malang-melintang di jagat kajian keislaman. Dengan demikian, mereka tidak mudah untuk “disusupi” oleh berbagai ormas/parpol Islam “semprul”. Bisa terkencing-kencing kalau ormas-ormas Islam konservatif itu “berdakwah” di UIN/IAIN, dlsb. (Baca: Sumanto Al-Qurtuby: Menjaga Indonesia sebagai “Rumah Bersama”)

Sebaliknya, para mahasiswa/i kampus-kampus sekuler bisa dipastikan “non-njendol” soal kajian, pemikiran, dan literatur keislaman ini karena mereka umumnya dari SMU sehingga gampang untuk dikibuli oleh para aktivis dan makelar ormas/parpol Islam konservatif dengan modal satu-dua dalil. Para dosennya juga sama mayoritas “nol-jumbo” soal studi, pemikiran, dan literatur keislaman. Maka, tidak heran kalau kampus-kampus sekuler menjadi “pangsa pasar” empuk bagi cheerleaders ormas-ormas Islam konservatif bin “semprul” yang sedang “berbulan madu” dengan Islam. (SFA)

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Eko Kuntadhi: Pakde Jokowi Saatnya Bersih-bersih Benalu dan Parasit NKRI | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: