Eropa

Kelompok Oposisi Rusak Perundingan Astana

Selasa, 24 Januari 2017 – 07.21 Wib,

SALAFYNEWS.COM, ASTANA – Duta Besar Suriah untuk PBB yang menjadi kepala delegasi Damaskus dalam pembicaraan Astana, Bashar Jaafari, mengecam para delegasi dari kelompok oposisi yang disponsori oleh barat, karena telah meningkatkan provokasi dan tidak realistis selama negosiasi.

Bashar Jaafari mengatakan kepada wartawan di ibukota Kazakhstan, pada Senin sore (23/01), bahwa peserta dalam pertemuan tersebut terkejut dengan pernyataan tidak etis dan tidak bertanggung jawab dari oposisi. (Baca: Persekongkolan Jahat Turki-Teroris Tekan Rusia dalam Perundingan Astana)

Diplomat Suriah mengatakan perwakilan oposisi secara mengejutkan membela kejahatan perang yang dilakukan oleh Jabhat Fath al-Sham, yang sebelumnya dikenal sebagai Jabhat al-Nusra, kelompok teroris di Wadi Barada, yang telah terjadi pertempuran sengit sejak Desember 2016. Pasukan pemerintah telah berjuang untuk merebut Wadi Barada yang terletak di pinggiran Damaskus, melawan militan Takfiri, mereka telah merusak fasilitas pengolahan air disana dan memotong aliran air bagi 5,5 juta orang di ibukota dan sekitarnya.

“Perwakilan oposisi mendukung kejahatan perang yang dilakukan oleh elemen Jabhat al-Nusra di Suriah, dan mengecam operasi tentara Suriah. Mereka menggambarkan keracunan air sebagai hal yang dibenarkan dan diperbolehkan. (Baca: Tentara Suriah Kuasai Sumber Mata Air dan Kota Basimah di Wadi Barada)

“Setiap pengamat atau jurnalis akan melihat apa yang terjadi sebagai tindak pidana. Hal ini sangat provokatif. Itu akan merusak perjanjian sebelumnya, dan tentu tidak cocok untuk upaya yang telah dilakukan dalam penyelesaian krisis Suriah,” terang Jaafari.

Utusan Suriah lebih lanjut menyatakan bahwa delegasi dari kelompok oposisi yang berusaha merongrong pembicaraan intra-Suriah di Astana, dan menggagalkan upaya yang telah dilakukan untuk mengakhiri konflik yang berusia hampir enam tahun di Suriah.

Dia juga menggarisbawahi bahwa poin utama pembahasan pada pertemuan Astana belum dimulai, dan menekankan bahwa perwakilan pemerintah Suriah tidak akan terprovokasi dan menjadi bagian dari skenario yang akan menyebabkan kegagalan pembicaraan di Kazakhstan.

“Kami datang ke Astana untuk memenuhi dan melaksanakan ketentuan perjanjian yang disepakati pada tanggal 29 Desember 2016. Kami harus bertindak atas dasar perjanjian. Ini semua kerangka untuk pertemuan dan pembicaraan di Astana,” ujar Jaafari.

Diplomat Suriah juga mengecam keras kepala utusan dari kelompok oposisi, dan mengatakan, “Orang-orang ini tidak profesional dalam berpolitik. Mereka tidak tahu apa betapa pentingnya kesempatan ini”.

Jaafari juga menyatakan terkejut tentang dukungan para delegasi kepada kelompok militan Jabhat Fath al-Sham, yang bukan bagian dari perjanjian gencatan senjata dan telah diberi label sebagai teroris oleh Dewan Keamanan PBB. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: