Amerika

Kebijakan Donald Trump Mirip Rezim El-Sisi Mesir

Rabu, 25 Januari 2017 – 14.21 Wib,

SALAFYNEWS.COM, NEW YORK – The New York Times menerbitkan sebuah artikel berjudul “El-Sisi Amerika” yang ditunjukkan pada Presiden Trump, atas kebijakan-kebijakan militernya yang menimbulkan kontroversial dalam pemerintahanya, serta beberapa komentarnya tentang Islam yang ditolak oleh banyak pihak. (Baca: Inilah Benturan Hebat yang Akan Dihadapi Trump di Awal Masa Jabatannya)

Wartawan Mesir Mona Eltahawy, dalam artikelnya, yang juga dimuat “Arab21” berbicara mengenai Trump, “ia sangat mirip dengan pemimpin rezim kami,” ujar teman saya setelah menonton pidato Presiden AS Donald Trump pada upacara pelantikannya. Secara realita apa yang dia katakan mengarah pada  Presiden Abdel Fattah El-Sisi.

Dia juga menambahkan bahwa “sungguh menakjubkan melihat Trump ketika ia mencoba untuk menempatkan Amerika Serikat seperti Mesir, dimana militer memerintah selama lebih dari enam dekade.”

Dan menyatakan “tidak mengherankan, jika Trump menggambarkan El-Sisi sebagai pria yang luar biasa” dalam pertemuan yang berlangsung di antara mereka di New York tahun lalu, dan pada saat yang sama El-Sisi menjadi pemimpin pertama yang mengucapkan selamat kepada Trump karena memenangkan pemilu”. (Baca: Analis: Trump Angkat Sosok Anti Islam Sebagai Penasehat Keamanan Nasional)

Perlu dicatat bahwa Trump selama pertemuan dengan El-Sisi pada bulan September tahun lalu, telah berjanji untuk mengundang Presiden Mesir untuk melakukan kunjungan resmi ke AS, jika ia telah berada di Gedung Putih, maka negaranya akan “setia” kepada Mesir bukan hanya sekedar “sekutu” saja.

Aktivis politik Eltahawy mengatakan “tidak mengherankan bahwa draft undang-undang presiden baru setelah upacara pelantikannya, langsung memberikan jabatan pada mantan Jenderal James Mattis, sebagai menteri pertahanan, salah seorang pensiun yang kembali bekerja di gedung Pentagon.”

Dia menganggap bahwa “Tidak heran, jika presiden baru yang kontroversial mencaonkan jenderal tersebut untuk posisi dalam pemerintahannya lebih dari mantan presiden,” ia mencatat bahwa “di Mesir, kita mencoba untuk membatasi kontrol militer atas kehidupan politik, namun di Amerika Serikat, Trump bekerja untuk meningkatkannya”.

Dia mengatakan “Sungguh mengherankan melihat Trump, menghancurkan semua yang tersisa dari pidato” menjembatani kesenjangan “yang disampaikan oleh mantan Presiden AS Barack Obama di Kairo tak lama setelah pelantikannya pada tahun 2009”.

Dia menegaskan bahwa Obama pada saat itu, mengatakan “Amerika Serikat tidak akan pernah berperang dengan Islam”, tetapi Trump telah bersumpah untuk “melawan” terorisme Islam, dan menambahkan “Kami akan membumihanguskan kelompok Islam radikal dan terorisme dari muka bumi”. (Baca: Middle East Observer; El-Sisi Jual Pulau ke Arab Saudi Dengan Jam “Rolex”)

Trump tidak hanya menangani masalah ekstremisme saat upacara pelantikannya, dan mengulanginya di markas intelijen Amerika pada hari berikutnya bahwa “tidak ada pilihan bagi AS, kecuali pemberantasan terorisme,” dan menambahkan, “Kami belum melihat kejahatan yang paling keji selain yang dilakukan oleh ISIS”.

Jurnalis dan aktivis Mesir ini tidak menghentikan kritikannya bahkan kepada Obama, dimana ia mengatakan bahwa “meskipun tangan persahabatan dibentangkan oleh Obama untuk Muslim, tetap saja ia ketika meninggalkan jabatannya, militer Amerika terlibat kejahatan di lima negara Muslim”.

Dia menyimpulkan dengan mengatakan, “Saya merasa menggigil ketika mencoba untuk memikirkan sejumlah negara yang berharap Trump menambahkan mereka ke dalam daftarnya”. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: