Nasional

“Kaum Sumbu Pendek” di Mata Gus Dur

Rabu, 07 Februari 2018 – 06.39 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Beberapa tahun terakhir ini fenomena sosial-politik-keagamaan sangat menarik untuk disimak. Animo masyarakat pengguna media sosial meningkat tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Arus informasi kian mengalir deras, tak sekadar mengandalkan media mainstream seperti online, cetak, dan elektronik semata.

Namun, peran media sosial menjadi sangat vital, bahkan cenderung menjadi kebutuhan primer. Sebagai konsekuensinya, opini publik semakin liar tak terarah. Siapa saja yang mampu mengendalikan media sosial -sesekali didukung media mainstream- maka dialah yang mampu menguasai opini publik.

Baca: Buya Syafii Maarif: Saya Tidak Rela Negara Ini Dikuasai Sumbu Pendek

Media sosial telah betul-betul mampu untuk menggiring opini masyarakat. Akibatnya, perang opini pun tak terhindarkan. Bukan saja soal isu politik, sosial, ekonomi, namun justru yang paling hangat diperdebatkan adalah kepentingan politik yang dibungkus dengan isu agama.

Sebut saja fenomena kaum ”sumbu pendek”, “pentol korek” atau kaum ”bumi datar” yang baru-baru ini amat populer di media sosial. Tiga fameo ini bergulir menggelinding menuju kelompok-kelompok yang mudah marah dalam menyikapi perbedaan. Mudah menyalahkan orang atau kelompok lain yang tidak sesuai dengan pendapat serta pendapatannya dengan mereka.

Tak ada yang pasti apa definisi dari kaum ”sumbu pendek”, “pentol korek” dan ”bumi datar”. Namun yang beredar di media (sosial maupun mainstream), kaum “bumi datar” tak memiliki perbedaan arti dengan “sumbu pendek” dan “pentol korek”. Pada intinya, ketiga kaum ini memiliki cara pandang searah, mudah marah, serta mudah menyalahkan orang lain.

Jika dirujuk pada awal pemikiran kaum bumi datar, mereka menganggap sains dan ilmu pengetahuan selalu dialamatkan kepada “Hanya Allah yang Maha Tahu”. Kaum bumi datar ini selalu menganggap pemikirannyalah yang paling baik, paling benar, dan menggap sudah paling sesuai perintah Tuhan. Sedang “pentol korek” untuk menyebut kelompok atau orang yang mudah marah.

Baca: Ramalan Gus Dur Terbukti, Infiltrasi Islam Garis Keras ke Muhammadiyah

Hanya Bagian Kecil

Kaum ”sumbu pendek”, “pentol korek” atau ”bumi datar” ternyata sudah ada sejak masa al-maghfur lah KH. Aburrahman Wahid, akrab disebut Gus Dur, menjadi ketua PBNU. Pada tahun 1990, Gus Dur menyebut kaum ”sumbu pendek”, “pentol korek” atau ”bumi datar” itu dengan sebutan ”kaum marah”.

Dalam buku “Tabayun Gus Dur, Pribumisasi Islam, Hak Minoritas, Reformasi Kultural” diceritakan kala Gus Dur menghadapi kelompok kaum mudah marah itu. Saat itu, Gus Dur diwawancarai oleh majalah “editor” untuk menanggapi kelompok-kelompok yang “menyerang”-nya.

”Ya, itu hanya bagian kecil saja. Boleh saja para mubaligh (kalau sekarang selalu mengatasnamakan “ulama”) itu menyerang. Dan ini (mubaligh) tidak saja NU dan Non-NU. Kaum marah itu ada di mana saja. Tapi jumlahnya sangat kecil, tidak punya pengaruh apa apa pada batang tubuh umat,” jawab Gus Dur, seperti dikutip pada halaman 64 buku terbitan LkiS, Yogyakarta 1998 itu.

Baca: Wejangan Gus Dur Terbukti ‘Akan Tiba Saatnya Orang yang Tidak Pernah Belajar di Pesantren Dianggap Alim’

Selanjutnya, Gus Dur menyebut kaum marah itu dengan kaum “rendah diri” atau dengan kata lain, hina. Mengapa demikian, hemat Gus Dur, orang yang mudah ngamuk merupakan betul-betul ciri orang rendah diri. Hal itu terungkap ketika Gus Dur ditanya: “Mengapa Anda menuduh mereka rendah diri?” Pernyataan inilah yang pada waktu itu semakin membuat kaum marah lebih marah.

Rendah Diri

“Nyatanya memang begitu kok. Sebetulnya itu ‘kan rasa rendah diri yang diselubungi’. Yang begitu itu, kalau kita tuding ya tambah ngamuk dan ngamuknya itu menunjukkan bahwa mereka itu betul-betul rendah diri,” jawab Gus Dur.

Pada tahun 1990, Gus Dur lagi sangat “seksi-seksinya” diburu media. Selain karena pandangan politiknya terhadap rezim Orde Baru, Gus Dur juga kerap berselisih pandang dengan kelompok-kelompok kecil yang menentangnya. Karena itulah Gus Dur menjadi buruan para wartawan.

Salah satunya ketika menyikapi pemberitaan majalah Editor, yang memuat profile tokoh yang paling berpengaruh. Pada waktu itu, Gus Dur dianggap membela Tabloid yang telah melecehkan Nabi Muhammad Saw yang menempatkan popularitas pada urutan sebelas. Gus Dur menilai, marah dan melakukan kekerasan bukan solusinya.

“Ini bukan soal marah atau tidak marah. Sebab kalau soal itu saya sendiri juga marah, kok. Tapi sikap untuk melakukan kekerasan, tuntutan-tuntutan yang tidak masuk akal, bahkan pada pencabutan SIUPP, itu kan menunjukan sikap yang tidak wajar. Yang enggak bener pada sebagian dari umat kita,” sambung Gus Dur.

Hematnya, kelompok yang tidak benar ini jumlahnya kecil namun vokalnya sangat keras. “Jumlahnya kecil, tapi vokal dan mungkin terorganisirkan lebih baik daripada mayoritasnya. (Kelompok kecil ini) ditangkap oleh media dan disebarkan,” ucap Gus Gur.

Baca: Buya Syafii kepada Jokowi: ISIS Rongsokan Peradaban Arab

Kini, pembicaraan Gus Dur mengenai kaum mudah marah menemui titik terang. Kaum mudah marah yang saat ini populer dengan sebutan kaum “sumbu pendek”, “pentol korek”, “bumi datar”, jumlahnya sangat kecil. Namun, vokalnya sangat nyaring sehingga ditangkap media dan menjadi seakan-akan kelompok mereka besar. Kelompok marah inilah yang belakangan kerap menghujat sana-sini, termasuk kepada Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siradj. (SFA)

Sumber: Gus Dur Files

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: