Fokus

Karimunjawa Memanas, Wahabi Benturkan NU dan Muhammadiyah

Sabtu, 09 September 2017 – 07.24 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JEPARA – Wahabi yang sedang giat-giatnya membangun sekolah dan pesantren di beberapa daerah mendapat banyak penolakan dari warga setempat, karena masyarakat sudah melek bahwa Wahabi adalah ideologi radikal, mereka suka sekali mengkafirkan dan merasa paling benar sendiri, hal itulah yang membuat warga khususnya kalangan dari NU merasa perlu untuk menghalau ideologi radikal ini bertumbuh kembang. Namun kelompok Wahabi punya banyak cara untuk merealisasikan keinginannya dengan cara menempel organisasi lain seperti Muhammadiyah, dan akhirnya dibenturkanlah NU dengan Muhammadiyah, inilah salah satu cara culas kelompok radikal.

Haris, perwakilan Yayasan Bina Muwahhidin Surabaya sejak berinisiatif mendirikan bangunan pesantren di Dusun Alang-Alang Rt. 02 Rw. 04, Desa Karimunjawa, ia sudah diingatkan banyak pihak kalau hal itu akan menuai konflik jika tidak hati-hati.

Baca: Ramalan Gus Dur Terbukti, Infiltrasi Islam Garis Keras ke Muhammadiyah

Nyatanya benar. Belum beroprasi saja, pihak ITMAM (Ittihadul Ma’ahid Muhammadiyah/Persatuan Pondok Pesantren Muhammadiyah) yang mengirim 47 orang untuk ke sana tanpa konfirmasi ke Pengurus Daerah Muhammadiyah (PDM) Jepara, berani menuduh masyarakat Karimunjawa yang sudah lama hidup aman dan nyaman dengan sebutan intoleran atas kisruh pesantren tersebut.

Saat ini, kata Hisyam Zamroni, Wakil Ketua NU Jepara, Karimunjawa masih memanas soal bangunan pesantren wakafan dari Bina Muwahhidin. “Belum ada keputusan apa-apa kok sudah mendatangkan santri,” katanya seperti dilansir oleh Dutaislam, Kamis (07/09/2017) malam.

Ia menjelaskan, penolakan warga memang dilatarbelakangi karena yayasan Bina Muwahhidin itu berpaham Wahabi radikal ekstrim yang potensial menyulut paham takfirisme warga Karimunjawa yang sudah lama dikenal heterogen dan nyedulur.

“Ustadz Haris (dari Bina Muwahhidin) sudah menyerahkan ke PP Muhammadiyah. Harusnya, kalau Muhammadiyah membantah yayasan itu sebagai berpaham Wahabi, mbok iyo PP Muhammadiyah menyosialisikan kalau itu bukan Wahabi,” terang Hisyam.

Baca: Buku Agama Islam SMA Ajarkan Radikalisme, Buya : Islam Indonesia Bukan Wahabi

PD Muhammadiyah Jepara juga sudah menjelaskan juga kepada Syuriah PCNU Jepara, KH Ubaidillah Umar bahwa mereka tidak tahu-menahu soal ada santri di bangunan bermasalah tersebut. Sejak awal, PDM dan PCNU sepakat tidak akan menggunakan gedung tersebut untuk kegiatan apapun sebelum jelas ijin operasional dan IMB-nya.

Sayangnya, Yusuf dari ITMAM PP Muhammadiyah justru membuat rusuh dengan menyebut kalau warga NU dan Karimunjawa mengusir santri-santri yang diutus ke sana. “Padahal dia harusnya membaca dulu keputusan PCM dan MWC, lengkap dengan Muspika,” tandas Hisyam.

Karena Ketua PDM Jepara, KH Fahrurrozi, tengah berhaji, PCNU sepakat akan membahas kelanjutan operasional bangunan jika sudah datang dari tanah suci, 5 Oktober 2017. Wajar jika PDM Muhammadiyah tidak tahu menahu.

Baca: Rais ‘Aam PBNU; Wahabi, Salafy, ISIS Ngaku-Ngaku Ahlusunnah

Atas inisiatif Petinggi Desa Karimunjawa, Arief Rahman, SE., rapat dengan tujuan “Klarifikasi Bangunan Milik Yayasan Bina Muwahhidin”, digelar pada Rabu, 6 September 2017 sekitar pukul 19.00 WIB.

Rapat bersama tokoh masyarakat tersebut, termasuk Muspika, Camat dan aparatur daerah, digelar di Aula Balai Desa Karimunjawa. Inilah hasilnya:

  1. Menunggu kesepakatan PDM Jepara dan PCNU Jepara terakit pengelolaan bersama pondok pesantren di Karimunjawa
  2. Apabila melangsungkan kegiatan di pesantren tersebut, harus sudah ada ijin operasional dan IMB.
  3. Santri yang sudah ada di sana untuk kegiatan dauroh, agar ditarik secepatnya (7 hari) dari pondok pesantren tersebut dan dikembalikan kepada ITMAM.

Surat yang ditandatangani Camat Karimunjawa Drs. Budi Krisnanto, SH., bernomor 056/414 itu ditembuskan kepada Kesbangpol Jepara, MUI Jepara, PCNU Jepara, PDM Jepara, MWC NU Karimunjawa, PC Muhammadiyah Karimunjawa dan Bupati Jepara tentunya.

KH Ubaidillah Umar selaku Syuriah PCNU Jepara, bersama Kiai Syadzali dan dua pengurus lain dari PDM Jepara juga sepakat mengikuti hasil keputusan warga Karimunjawa karena sudah ada keputusan resmi warga Karimunjawa malam itu, sebagaimana dimaksud di atas. Kesepakatan itu terjadi saat pengurus teras PDM Jepara tersebut sowan ke ndalem KH Ubaidillah Umar di Bandungharjo, Donorojo, Jepara, pada Kamis siang, 7 September 2017.

Baca: Wahabi Menuhankan dan Menabikan Muhammad bin Abdul Wahab, Benarkah?

Menurut sumber dari Dutaislam, ada alumni 212 yang mencoba memprovokasi kerukunan antara penngurus NU dan Muhammadiyah Jepara yang sudah berjalan dan beriring bersama. Mereka juga sering menggelar acara halal bi halal bersama di Pendopo Kabupaten Jepara. Ketegangan terjadi akibat girangnya ITMAM menerima tanah wakaf tanpa peduli siapa yang mewakafkan dan masalah apa dibalik pengalihan wakaf tanah dan bangunan di Karimunjawa. Wahabi yang jadi donatur wakaf tentu saja keplok-keplok (tepuk tangan busung dada) dari Surabaya sana. (SFA)

Sumber: Duta Islam

1 Comment

1 Comment

  1. Netty Arni, SH - Notaris

    September 21, 2017 at 5:18 pm

    Berhati-hati dan berwaspalah hidup di akhir zaman ini, selalu bertindak di dalam kebenaran dan keadilan serta bijaksana/berhikmah, ……. Betapa banyak berita bohong/hoax dan menyebarkan ujaran fitnah dan kebencian agar tidak ada ketentraman/kedamaian di dalam hidup ini, …… Semoga TUHAN Allah semesta alam melindungi kita dari hasutan/ajakan/godaan hawa nafsu setan/iblis yg terkutuk/terlaknat yg kesukaannya membuat kekacauan/keonaran/kerusakan di muka bumi ini, ….. Ya TUHAN Allah semesta alam lindungilah kami dari kejahatan makhluk-Nya, dan selamatkanlah kami di dunia dan akhirat, ……. Amin – Puji Allah – Allah Maha Besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: