Headline News

Karena Ikut Demo Pengadilan Saudi Jatuhkan Hukuman Mati Orang Cacat

Senin, 29 Mei 2017 – 03.13 Wib,

SALAFYNEWS.COM, RIYADH – Pengadilan di Arab Saudi telah menjatuhkan hukuman mati bagi seorang penyandang cacat yang ditangkap setelah dia menghadiri sebuah demonstrasi, menurut beberapa aktivis.

Munir al-Adam, 23, dipukuli secara brutal hingga kehilangan pendengaran di satu telinga saat demonstrasi di bagian timur negara pada tahun 2012.

Aktivis hak asasi manusia telah mencela keputusan tersebut, dan menyebutnya “mengejutkan” serta menuntut campur tangan Gedung Putih. (Baca: Pengakuan 6000 Wanita Saudi yang Terkekang di Bawah Hukum Saudi)

Mr Adam dijatuhi hukuman mati dalam sidang tertutup di Pengadilan Pidana Khusus negara pada tahun lalu. Sekarang, sebuah pengadilan banding telah memutuskan bahwa hukuman tersebut harus dilaksanakan, terlepas dari kritik internasional.

Mr Adam hanya memiliki kesempatan untuk mengajukan banding atas keputusan itu sekali lagi sebelum Raja Salman menandatangani surat perintah kematiannya.

“Kasus Munir benar-benar mengejutkan – Gedung Putih harus terkejut bahwa sekutunya, Arab Saudi menyiksa seorang pengunjuk rasa sampai dia kehilangan pendengarannya kemudian menjatuhkan hukuman mati atas dasar pengakuan paksa,” kata Maya Foa, direktur Reprieve , Sebuah badan amal yang mencari keadilan hukum.

Mr Adam disiksa oleh polisi, terlepas dari catatan medisnya yang menunjukkan kecacatanya, dan dipaksa untuk menandatangani sebuah pengakuan palsu, kata para aktivis. Dia sudah mengalami gangguan penglihatan dan pendengaran, yang diakibatkan keretakan tengkorak setelah mengalami kecelakaan masa kecil.

Dia didakwa melakukan tindakan kekerasan dalam sebuah demonstrasi, juru bicara Reprieve mengatakan kepada The Independent, namun tidak ada bukti yang dihasilkan dalam persidangannya selain pengakuan yang ditandatangani – dibuat di bawah paksaan, kata para aktivis. (Baca: Hukum Penggal Kepala di Saudi Buat Rakyat Bukan untuk Keluarga Kerajaan)

Pihak berwenang menuduh Adam “mengirim teks” tapi pekerja kasar itu ternyata terlalu miskin untuk memiliki telepon.

Keputusan tersebut muncul setelah kunjungan Presiden Trump ke negara Teluk baru-baru ini, yang merupakan salah satu algojo paling terkenal di dunia dan juga terkenal karena pelanggaran hak asasi manusia. Pemerintahan sebelumnya telah mengangkat isu hak-hak dengan para pemimpin Saudi, namun para aktivis percaya bahwa kegagalan Trump untuk melakukannya mungkin telah memberanikan negara untuk melanjutkan keputusan kontroversial.

Ms Foa mengatakan, “Penghakiman hari ini menunjukkan bahwa, dengan kegagalan mengangkat isu pelanggaran hak asasi manusia di Arab Saudi, Presiden Trump telah mendorong kerajaan untuk melanjutkan penyiksaan dan eksekusi para pengunjuk rasa. (Baca: Arab Saudi, Negeri Dongeng Tapi Nyata)

“Pemerintahan Trump sekarang harus segera membela nilai-nilai Amerika. Mereka harus menyerukan pembebasan Munir, dan semua orang lain yang menghadapi eksekusi karena hanya menjalankan kebebasan berekspresi.”

Setelah perjalanan Trump ke Arab Saudi, Wilbur Ross, sekretaris keuangan AS, mengatakan bahwa tidak ada satupun tanda adanya pengunjuk rasa di negara tersebut. Pernyataan yang banyak dikutuk karena pembatasan keras Arab Saudi terhadap kebebasan berekspresi. (SFA)

Sumber: Independent.

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: 10 Peraih Nobel Dunia Minta Saudi Hentikan Hukuman Mati Atas Aktifis | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: