Fokus

Kapolri ‘Tito Karnavian’ Bongkar Misteri Pembongkaran Kalijodo

Jum’at, 05 Agustus 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Kapolri, Jenderal Tito Karnavian sekitar sembilan bulan menjabat Kapolda Metro Jaya sebelum dilantik jadi Kapolri. Sejumlah keberhasilan diraih termasuk membersihkan lokalisasi Kalijodo, Jakarta Barat.

Tito menjadi pembicara utama dalam acara ‘Dialog Bersama Kapolri’ yang digelar Center for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC) di kantor CDCC, Jalan Kemiri, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (4/8/2016) sore tadi. Para tokoh lintas agama hadir dalam kesempatan itu.

Awalnya, Tito memaparkan tentang toleransi dan kerukunan agama di Indonesia. Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta menyinggung soal hubungan Tito dan Ahok.

“Sekarang saya gabung di lawan Ahok. Saya ini kejar Bapak kenapa, (karena) Bapak punya statement ini dipakai oleh teman-teman Ahok untuk nakut-nakutin kita, Pak, bahwa sekarang yang jadi Kapolri ini adalah teman Ahok,” ujarnya. (Baca: Ancaman AHOK Terbukti, Ratusan Personel Gabungan ‘Geruduk’ Kalijodo)

“Saya enggak percaya, Pak. Karena saya percaya Bapak pprofesional. Bapak naik (Jadi Kapolri) bukan karena Ahok, Pak,” sambungnya.

Menanggapi hal itu, Tito mengatakan bahwa dulu dia menjabat Kapolda Metro Jaya. Para pemimpin di sebuah provinsi seperti Kapolda, Gubernur, Pangdam, tokoh agama harus akrab agar dapat bekerjasama dengan baik untuk masyarakat.

“Kalau seandainya para pemimpin di satu provinsi ini bentrok, saya enggak bisa bayangkan bagaimana rakyatnya nanti,” kata Tito.

Tidak hanya saat di DKI Jakarta, Tito mengungkapkan pola itu juga diterapkannya saat menjabat Kapolda Papua.

“Jadi prinsip utamanya bagaimana para pemimpin satu daerah kompak dulu, tapi kompaknya positif. Jadi hubungan saya sama Pak Ahok sebatas hubungan saya sebagai muspida yang harus kompak,” ujarnya.

Tito mencontohkan saat operasi pembersihan lok#Ahoalisasi Kalijodo. Kata Tito, pembersihan Kalijodo itu awalnya merupakan ide Tito. (Baca: Operasi Pekat Perdana ‘Wisata Cinta’ Kalijodo Dobrak Kafe)

Sebab, lanjut Tito, saat itu ada peristiwa yang menyebabkan delapan orang meninggal karena ditabrak mobil. Polisi yang menangani kasus itu menemukan ternyata akar masalahnya karena minuman keras.

“Saya langsung telepon Pak Ahok. ‘Pak Gubernur, ini mau diapakan Kalijodo, ini ada korban 8 orang meninggal ditabrak, habis minum-minum dari Kalijodo. Kalijodo mau kita apakan itu, itu harus bersih dari maksiat,” tutur Tito mengisahkan.

“Jawaban beliau (Ahok) apa, ‘wah kebetulan sekali Bapak tanya soal itu, dari dulu saya sudah mikir bagaimana bersihkan Malioboro’,” sambung Tito menirukan ucapan Ahok.

Setelah itu, kata Tito, baru kemudian mereka membuat konsep apa yang dibangun jika Kalijodo sudah bersih. Ahok lalu mengutarakan berencana membangun taman hijau di lokasi itu.

“Oke, Bapak (Ahok) jangan bergerak, biar kami (polisi),” ujar Tito.

Tito kemudian meyakinkan Ahok bahwa membersihkan lokalisasi jauh lebih mudah dibanding tempat masyarakat biasa. Karena terlalu banyak pelanggaran yang ada mulai dari pelacuran, minuman keras, narkotik, pencurian listrik dan lainnya.

“Saya bilang, saya masuk duluan ya, Bapak (Ahok) jangan ikut campur, ini operasi kepolisian (terkait) penyakit masyarakat,” kata Tito.

Jajaran Polda Metro Jaya kemudian menghitung berapa preman yang ada di Kalijodo. Setelah diketahui jumlahnya, personel Polri dan TNI dikerahkan untuk menutup area Kalijodo.

“Setelah ditutup, ketemu itu premannnya, mirasnya, sajam dan lainnya. Saya bilang bersihkan, setelah bersih, jaga kanan kiri.Semua orang laki-laki yang keluar-masuk ditanya identitasnya. Kosong,” paparnya.

Dari situ, lanjut Tito, kemudian diketahui bahwa para pekerja seks komersial (PSK) di Kalijodo ternyata diambil dari kampungnya masing-masing dan dibayar Rp 50-70 juta tergantung kecantikannya.

“Jadi germo-germonya begitu lihat enggak ada yang datang, sepi, rugi. Keluarin semua WTSnya, WTSnya sudah enggak ada, germonya juga, tinggal masyarakat. Masyarakat kita dekati. Tunjukkan rumah susun dan seterusnya. Bersih,” tuturnya.

“Jadi bukan karena saya mau bantu Pak Ahok, saya punya kepentingan sebagai Kapolda ingin bersihin Kalijodo. Dan Sudah bersih sekarang, alhamdulillah,” urai Tito yang disambut tepuk tangan para peserta dialog. (SFA/DetikNews)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: