Headline News

Kalah di Yaman, Raja Salman Ngemis Bantuan 10 Milyar Dolar ke Kuwait

Sabtu, 25 Februari 2017 – 13.31 Wib,

SALAFYNEWS.COM, YAMAN – Telah diperoleh Informasi penting yang ditemukan diantara barang-barang milik tentara bayaran Saudi setelah jatuhnya markas mereka ke tangan tentara Yaman, dan akhirnya terungkap bahwa telah terjadi konflik diantara pasukan agresinya, dan juga penghinaan Saudi terhadap tentara bayarannya, dan tentang kritisnya kondisi keuangan rezim Saudi yang tengah menggempur Yaman, seperti dilansir Middle East Panorama (24/02). (Baca: Kehidupan Glamor Raja Salman Ditengah Kemiskinan Rakyat Saudi)

Informasi tersebut berisi 4 poin utama yang berkaitan dengan kondisi rezim Saudi yang terus melancarkan agresinya di Yaman dan hubungannya dengan para tentara bayaran, empat informasi itu adalah:

Pertama, informasi yang berkaitan dengan kebencian rezim Saudi untuk meminta bantuan dana yang diungkapkan oleh Ali Mohsen al-Ahmar, dia menyebutkan bahwa wakil Angkatan Bersenjata Saudi Fahd bin Turki yang diperintahkan untuk meminta dana, dia mengatakan bahwa “kerajaan tidak mengalami kemunduran, Raja Salman hanya sedang meminta bantuan untuk kerajaan sebesar 10 miliar dollar dari Emir Kuwait untuk menunjang agresi Saudi di Yaman”.

Mengenai permintaan Saudi ke Kuwait ini, informasi yang diperoleh menunjukkan bahwa Raja Salman berkata kepada Emir Kuwait “kalau bukan karena kondisi yang sulit dan buruk, kerajaan Saudi tidak mungkin meminta bantuan keuangan dari Kuwait”. (Baca: Kerajaan Wahabi Saudi Akan Dirikan 3 Universitas di 3 Kota Besar Indonesia)

Kedua yang diungkap staf Yaman adalah terkait badan intelijen Arab Saudi, yakni Brigadir Jenderal Mohammed al-Qahtani pernah meminta kekuatan Arada untuk menyediakan tempat yang aman di Ma’rib untuk staf dan pekerja stasiun Sana’a.

Ketiga, al-Qahtani adalah orang yang mengarahkan mantan presiden yang melarikan diri Abdur Rabbuh Hadi untuk melengserkan Ezzedine al-Asbahi dari jabatannya sebagai Menteri Hak Asasi Manusia pada pemerintahannya, dan mengangkat Samir al-Shaibani, dan ini adalah apa yang terjadi sebenarnya, saat ini al-Asbahi telah dilengserkan tanpa adanya keputusan yang diumumkan dan kemudian diangkat sebaga duta besar untuk Maroko.

Keempat, berkaitan dengan pendahulunya dan juga menjelaskan bahwa pimpinan tentara bayaran Ahmed Obaid bin Dagr merekomendasikan Wakil Menteri Pekerjaan Abdul Malik agar ditunjuk sebagai Menteri HAM menggantikan al-Asbahi, dan menerima apa yang dipilih dan diinginkan Saudi.

Sementara itu dokumen-dokumen tersebut juag mengungkap fakta sebenarnya dari kehidupan yang dijalani mantan presiden Hadi di Aden di bawah pendudukan yang terlihat dalam informasi keempat yang menjelaskan tentang dokumen-dokumen dari tentara bayaran di salah satu markas militer mereka, yang mengungkapkan bahwa mantan presiden Hadi yang telah melarikan diri ini tidak bisa bertindak dengan bebas dan ia juga tidak bisa mengambil setiap gerakan di dalam Aden kecuali dengan izin dari petugas pasukan pendudukan asing. (Baca: TANPA AMPUN, Tentara Yaman Hancurkan Tank dan Pos-pos Militer Saudi di Ma’rib)

Menurut informasi tersebut, telah terjadi perselisihan antara mantan presiden Hadi dengan komandan pasukan Saudi di Aden, Kolonel Abu Sakr yang mana kerajaan Saudi tengah membangun bangunan untuk pasukannya di Aden dan Hadi meminta untuk mengunjungi bangunan tersebut namun permintaan Hadi ditolak oleh petugas Saudi Abu Sakr tersebut.

Informasi keempat tersebut juga menjelaskan bahwa Abu Sakr menyampaikan kepada salah satu orang terdekat dari mantan presiden Hadi yang dipanggil Yasser bahwa bangunan yang sedang dibangun adalaj milik Saudi dan tidak ada satupun yang diperbolehkan untuk mengunjunginya, ia mengancam untuk memotong tangan setiap prajurit Yaman yang berani memasukinya. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: