Eropa

Jerman Keluarkan UU Mencengangkan Terkait Imigran

Jum’at, 24 Februari 2017 – 10.00 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JERMAN – Pemerintah Jerman, Rabu (22/02), mengadopsi rancangan undang-undang kontroversial untuk mempercepat pengusiran ribuan pencari suaka yang identitas mereka di tolak, sementara perdebatan di dalam negeri semakin meluas tentang re-migran ke Afghanistan. (Baca: Angela Merkel: Tak Mungkin Hadapi Ancaman Dunia Sendirian)

Langkah-langkah ini diambil oleh pemerintah Angela Merkel, dan harus disetujui di parlemen, dalam kesepakatan awal dua minggu lalu di antara lembaga pemerintah dan pemerintahan federal yang bertanggung jawab untuk melaksanakan proses pengusiran.

Merkel berusaha untuk mengemas sebisa mungkun undang-undang ini, pada saat ia menghadapi banyak kritik bahkan di kubu internal militer untuk membuka pintu bagi lebih dari satu juta imigran pada tahun 2015 dan 2016. (Baca: Bualan Terbaru Menlu Saudi di Munich Jerman Tentang Yaman)

Proses ini dipercepat untuk pengusiran para pencari suaka yang identitasnya ditolak, mirip dengan serangan pada 19 Desember di pelabuhan Berlin (12 mati) oleh warga Tunisia Anis al-Amiri, karena ia ditolak untuk mencari suaka di Jerman, namun tidak bisa diusir ke negaranya karena kurangnya kerjasama dari pihak berwenang Tunisia, menurut Berlin.

Jerman sangat menginginkan -program khusus- untuk menahan setiap imigran dan sebagai resikonya demi keamanan, mungkin 4-10 hari menunggu untuk di deportasi.

Dan memberikan hukuman lebih keras terhadap para pencari suaka yang berbohong tentang identitas mereka atau melanggar hukum, termasuk memberikan e-ktp  kepada mereka agar pemerintah bisa memantau gerakan mereka.

RUU ini juga berwenang memberikan akses ke data di ponsel pencari suaka dalam hal keraguan mengenai identitasnya. (Baca: KETAKUTAN! Ratusan Teroris Asal Jerman Balik Kandang)

Partai oposisi de Linke (garis keras kiri) Rabu, mengkritik prosedur ini, dan menunjukkan bahwa “ponsel, komputer dan laptop masuk dalam lingkaran kehidupan yang sensitif”, sedangkan pemimpin Partai Demokrat Liberal Christian Linder meminta “jaminan” yang solid.

Dalam konteks ini, perdebatan mulai meluas mengenai proses pengusiran pencari suaka asal Afghanistan, setidaknya lima provinsi (dari 16) memutuskan untuk menutup daerah mereka karena kehawatiran yang sedang berlangsung di negeri ini. (Baca: Koran Jerman: Operasi ‘Perisai Efrat’ Tidak Hanya Berbahaya Bagi Timur Tengah, Tapi Eropa)

Sekretaris Jenderal Amnesty International di Jerman Marcos Pico, Rabu, mengatakan bahwa “situasi di Afghanistan jelas memburuk pada tahun lalu”, dengan eskalasi kekerasan antara pasukan pemerintah dan militan Taliban. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: