Eropa

Jerman Bersitegang dengan Turki

Selasa, 31 Januari 2017 – 08.52 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JERMAN – Majalah Spiegel dan channel ARD Jerman dalam laporannya mengatakan sekitar 40 tentara Turki, yang sebagian besar dikerahkan dalam pasukan NATO, meminta surat suaka di Jerman. Hal ini disebabkan pemecatan, penangkapan dan penyiksaan yang diterima militer Turki oleh otoritas Ankara yang berimbas dari upaya kudeta gagal pada 15-16 Juli tahun lalu. (Baca: Koran Jerman: Operasi ‘Perisai Efrat’ Tidak Hanya Berbahaya Bagi Timur Tengah, Tapi Eropa)

Salah satu tentara Turki mengatakan pada wartawan “Jika saya kembali ke Turki mungkin saya akan dipenjara dan disiksa”.

Militer Turki menegaskan bahwa hal itu tidak ada hubungannya dengan kudeta yang gagal, dan menekankan bahwa mereka “tidak akan bersimpati dengan para pemberontak yang mencoba melakukan kudeta”.

Kedua Majalah tersebut mengatakan bahwa Kementerian Dalam Negeri Jerman dan kantor imigran dan pengungsi dalam negeri, menegaskan bahwa permintaan tersebut akan dipelajari seperti permintaan suaka lainnya.

Informasi ini datang setelah Mahkamah Agung Yunani, pada Kamis lalu, menolak permintaan pihak berwenang Turki untuk menyerahkan delapan tentara Turki yang melarikan diri ke wilayah Yunani setelah terjadinya kudeta yang gagal, langkah ini membuat Ankara marah, dan mengancam akan membatalkan perjanjian dengan Athena tetang pengembalian imigran ilegal. (Baca: Lagu Sindiran Kepada Erdogan Sebabkan Dubes Jerman Dipanggil Pemerintah Turki)

Presiden Turki dan pemimpin Partai Keadilan dan Pembangunan, Recep Tayyip Erdogan, menerapkan kampanye sapu bersih yang belum pernah terjadi sebelumnya yang ditujukan untuk semua sektor, mulai dari pendidikan, pers, lembaga militer dan peradilan.

Menteri Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial Turki, Mohammed Muazin Ihsanoglu, pada 10 Januari mengungkapkan bahwa pihak berwenang harus memecat sekitar 100 ribu karyawan setelah aksi kudeta militer yang gagal.

Ihsanoglu dalam sambutannya pada saluran CNN Turki, mengatakan hal ini sudah diteliti dan dikaji bahwa sekitar 135.356 karyawan sipil dan pejabat di lembaga-lembaga negara, ditambah 97.679 orang telah dicopot dari jabatan mereka.

Sementara suara parlemen, dimana Partai Keadilan dan Pembangunan mendominasi keputusan itu, pada awal Januari, serta menginginkan perpanjangan keadaan darurat di negara menjadi tiga bulan, dalam sebuah langkah yang diambil pemerintah yang mengatakan bahwa sangat diperlukan untuk melanjutkan kampanye sapu bersih, dan menargetkan para pendukung ulama oposisi Turki yang tinggal di AS, Fethullah Gulen, yang dituduh oleh Ankara sebagai dalang dalam upaya kudeta.

Majalah Spiegel dan channel ARD mempublikasikan laporan beberapa hari sebelum kunjungan Kanselir Jerman, Angela Merkel ke Turki pada tanggal 02 Februari mendatang, Ankara dan Berlin masih dalam kondisi bersitegang. (Baca: Erdogan Berlumuran Darah Rakyat Turki dan Suriah)

Pemerintah Jerman yang sebelumnya telah berusaha untuk tidak membuat marah Ankara, sebagai mitra utamanya untuk mencegah arus pengungsi ke Eropa, menekankan akan memperketat retorika dalam beberapa pekan terakhir terhadap pemerintah Erdogan. (SFA)

Sumber: Arabic21

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: