Fokus

Iyyas Subiakto Semprot Karni Ilyas

ILC Karni Ilyas

SURABAYA – Ungkapan kesal dan jengkel terlihat dari tulisan Iyyas Subiakto dalam akun Facebooknya yang memberikan kritikan pedas kepada TvOne dan khususnya kepada Karni Ilyas, berikut tulisannya:

KARNI ILYAS YANG BUAS

Sudah hampir 4 thn saya tidak lagi memasukkan chanel TvOne dalam ingatan saya. Sejak kemenangan Jokowi, dan TvOne langsung berseberangan, mengambil posisi sebagai oposisi padahal mereka adalah sebuah institusi media yang punya ruh netralitas dan harus di jaga. Acara ILC sebagai acara unggulan TvOne untuk mendulang rating makin hari makin “jorok” isinya dan nyaris tak beradab.

Baca: Surat Pedas Iyyas Subiakto Kepada Amien Rais

Tamu-tamu yang diundang bak bintang keburukan yang dikontrak Karni, Fadli Zon, Ridwan Saidi, dan sejenisnya yang sinis terhadap pemerintah menjadi corong meletupkan rasa tidak suka terhadap apa saja yang menyangkut kebijakan pemerintah. Ironis sebuah media yang seharusnya bisa dijadikan saluran berita apa saja, malah dijadikan corong yang mendorong dan menyuburkan mind set kebencian bagi orang-orang yang punya bibit benci makin menjadi-jadi, makin jauh dari sembuh. Ibarat orang munafik naik kelas jadi fasik.

Adalah acara ILC yang membahas tentang sertifikasi ustadz menjadi amunisi menyerang kebijakan pemerintah cq menteri agama. Kebijakan ini seolah menjadi dosa tak terampuni, minta di batalkan, memecah belah umat, dan cemooh seolah kebijakan ini jadi teroris untuk para ustadz.

Baca: Putra Amien Rais Serang Jokowi dengan Isu Rasis, Ini Jawaban Pedas Iyyas Subiakto

Orang-oran ini dengan kadar intelektual diatas rata-rata, tapi karena hatinya dipenuhi kebencian maka yang keluar jadi “picisan” bukan pencerahan, malah mengarah kepenghasutan yang bisa membuat perpecahan.

Kebayang zaman orba, jangankan menghujat pemerintah “ngerasanin” saja bisa tak berbekas kita. Ingat saja para aktivis yang masih hilang 13 orang, semua jelas mengarah kepada PS tapi kan sampai sekarang tidak satupun yang bisa menyelesaikan, ini sejarah kelam, sebuah perjuangan para martir untuk menegakkan demokrasi. Sekarang kita telah memasuki era demokrasi yang luar biasa bebasnya sampai kita lupa membedakan mana kebebasan, mana makian yang dilontarkan. Saya tidak faham apakah memang seperti ini sebuah perubahan peradaban, seperti orang bangun tidur kesiangan, silau melihat cahaya, asik “mengucek” matanya.

Baca: Iyyas Subiakto: Kebiadaban Travel Pemalak

Tidak terbayang endingnya apa bila media merajalela tanpa ruh kebenaran dan netralitas. Penghasutan dan cemooh atas sertifikat ustadz ini bisa dijadikan alat pemecah belah yang luar biasa. Negeri yang indah ini knp tidak diinginkan untuk bertahan dalam kedamaian. Jokowi kerja di cerca, PS yang gak jelas mau kemana malah di puja-puja. Bayangkanlah, program sertifikasi ustadz sebuah usaha menangkal radikalisme yang bisa menjadi bibit teroris, kenapa malah dihadang.

Ini sama kasusnya dengan Pembubaran HTI yang juga dihadang. Pancasila pondasi bangsa dan ideologi negara mau diganti kok malah sumbernya dibela-belai. PKS yang terang-terangan menolak azas tunggal dibiarkan dan malah dikasi ruang. Negara katanya disayang sekaligus sedang di panggang, dibuat baberque, dikeringkan sampai mencapai titik gurih untuk di santap rame-rame menjadi tinggal tulang. Kaum pemalak negeri ini harus dihentikan kalau tidak kita yang waras bisa mereka kerdilkan. KITA HARUS MELAWAN, AGAR MEREKA TIDAK SEMBARANGAN.

Baca: Denny Siregar: Ajal HTI Ditangan Jokowi

Ini semua gara-gara Jokowi sedang membasmi keburukan, maka dia di jadikan musuh beneran. Ribut mau ganti presiden, calonnya saja sampai sekarang tak ada. Kalaupun ada cuma barang baru stok lama. Semoga saja media dan TvOne khususnya bisa cepat disembuhkan menjadi media membangun Indonesia, bukan sebaliknya. (SFA)

Sumber: Akun Facebook Iyyas Subiakto

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Erick Thohir Senjata Jokowi Hadapi Lawan | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: