Fokus

Iyyas Subiakto: Bom yang Lebih Besar Telah Ada Dimana-mana

Otak Radikal

SURABAYA – Terperanjat luar biasa kita menyaksikan penangkapan 3 mahasiswa UNRI di dalam kampus dengan bukti kelengkapan bahan baku bom. Apakah cuma itu, apakah tidak ada sebelumnya, sudah berapa lama mereka membuatnya, kemana saja sudah dikirimnya dan kepada siapa.

Baca: Iyyas Subiakto: Roy Korban Informasi Sesat Bani Micin

Dari penjelasan BNPT kampus-kampus besar di Indonesia telah terpapar paham radikalisme sebagai bibit unggul terorisme. Seberapa luas bibit itu telah menyebar, seberapa kokoh akarnya telah menghujam ke dasar pikiran mereka bahwa negeri nenek moyangnya harus dihancurkan karena dianggap thogut, dan orang lain diangap najis, tidak kaffah seperti mereka dalam beragama. Kaffah beragama, tapi jadi sampah buat negara, artinya sama saja mereka tak beragama, sayangnya mereka tetap memakai simbol agama yang diteriakkan sebagai agama yang paling mulia namun dipraktekkan dengan cara sangat celaka.

Bom sebagai materi yang dibuat dengan pikiran dan ilmu bagaimana merakitnya. Saya teringat statement pejabat Iran kepada Amerika. Rudal kami bisa kalian hancurkan, tapi pikiran dan ilmu kami akan melahirkan ribuan rudal susulan.

Baca: Surat Pedas Iyyas Subiakto Kepada Amien Rais

Kebayang kampus yang telah kerasukan bibit perusak negara, seberapa banyak mahasiswa yang sudah menjadi pengikut dan pikiran dendam kepada pemerintah yang sah. Mencari bom ada dimana, ada pasukan gegana, tapi menelisik bom yang ada dipikiran mereka bukan kerjaan mudah dan tidak bisa diberi tausiah semata.

Pikiran radikal yang berujung menjadi teroris lebih luar biasa besarnya. Karena mereka bisa kemana-mana dan ada dimana-mana sehingga bom yang lebih besar dan merata bisa terjadi kapan saja.

Otak-otak manusia kaum kiri, oposisi tak berbudi, politisi kelas gali juga menjadi musuh utama negeri. Lihat saja seorang politisi senayan yang hidup diawang-awang, duduk tenang, makan kenyang dengan kursi tanpa partai. KPK pernah mau dibubarkannya, Densus masuk kampus dia protes keras, mulutnya manyun saat rakitan bom ditemukan di kampus, pikirannya lebih radikal dan lebih menteror kita semua, tapi entah apa alasan negara membiarkannya, kenapa sumber malapetaka ini tidak sekalian diberangus.

Baca: Iyyas Subiakto Semprot Karni Ilyas

Negeri indah ini sedang menjalani kehidupan dengan dua sisi. Sisi positifnya sedang mendapat pemimpin yang bijaksana namun sekaligus dibarengi dengan munculnya manusia-manusia musuh menjadi perusuh negara. Orangnya tua-tua, kelakuannya kayak kera, menularkan cara pikir kentir kepada anak muda, inilah yang lebih berbahaya daripada bom yang ada.

Apakah kita akan terus membiarkannya, terserah kita, karena bom sekarang ada ditangan mereka. Dan kapan saja mereka bisa memakainya membuat Indonesia terbelah entah jadi berapa. (SFA)

Sumber: Akun Facebook Iyyas Subiakto

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: