Headline News

IRONIS! Donatur Berikan Bantuan Sekaligus Kematian di Yaman

Sabtu, 29 April 2017 – 10.54 Wib,

SALAFYNEWS.COM, YAMAN – Beberapa hari lalu, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerukan sejumlah negara terkait urgensi dana bantuan bagi Yaman yang dilanda perang dan kelaparan untuk segera membantu memulihkan situasi disana. PBB menyebutnya sebagai “krisis kemanusiaan terbesar di dunia”. (Baca: Perang Barbar Saudi di Yaman Hanya Ciptakan Kehancuran Islam)

Antonio Gueterres, Sekretaris Jenderal PBB mengatakan bahwa donatur internasional menjanjikan untuk memberikan bantuan senilai 1,1 miliar dollar untuk Yaman. Alh-alih sebagai bantuan kemanusiaan, hal ini justru menegaskan tentang tanggung jawab yang dipikul oleh kekuatan-kekuatan besar yang berperan dalam krisis Yaman yang justru menghancurkan negara miskin ini. Dan sangat ironis, negara-negara yang telah menjanjikan bantuan saat ini adalah negara yang berkontribusi dalam kehancuran Yaman.

Selain itu, selama ini kita melihat bahwa PBB bersikap pasif menyikapi krisis Yaman, dan tidak melakukan tindakan yang signifikan untuk menghentikan agresi militer koalisi Arab yang dipimpin Saudi. Padahal PBB sangat mengetahui penyebab terjadinya krisis kemanusiaan di Yaman adalah akibat serangan militer yang dilancarkan rezim Al Saud. PBB hanya cukup mengeluarkan pernyataan kekhawatiran, dan menyampaikan seruan yang tidak mengikat.

Sekjen PBB Antonio Guterres mengatakan bahwa Yaman saat ini butuh dana kemanusiaan yang sangat besar. Statemen tersebut disampaikan tanpa menyinggung sama sekali solusi untuk mengakhiri agresi militer, atau setidaknya mengurangi tingkat serangan yang dilancarkan Arab Saudi terhadap negara tetangganya itu.

Menurut UNICEF, sedikitnya satu anak Yaman meninggal setiap 10 menit akibat gizi buruk, diare dan infeksi saluran pernafasan yang merupakan penyebab paling umum kematian anak-anak Yaman. Dan perang Yaman ini juga telah menyebabkan 462.000 anak-anak Yaman mengalami gizi buruk akut dan hampir 2.200.000 anak-anak Yaman membutuhkan perawatan medis sesegera mungkin.

Meritxell Relano, seorang utusan UNICEF mengatakan pada Desember lalu bahwa “tidak ada kasus buruknya kesehatan anak-anak di negara-negara termiskin di Timur Tengah seperti kasus yang terjadi di Yaman saat ini”. Selain itu, sebuah organisasi amal medis di yang bekerja di Yaman “MSF” mengatakan bahwa “situasi di sana sangatah sulit”. Menurut organisasi ini, telah berulang kali rumah sakit-rumah sakit di sana di bom dan menjadi target serangan udara dan penembakan.

Perang tidak manusiawi yang terjadi di Yaman ini juga telah menewaskan lebih dari 10.000 orang dan memaksa jutaan rakyat Yaman meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke wilayah yang lebih aman. Selain itu, korban tewas dan luka-luka mayoritasnya adalah anak-anak, dan perang ini telah menyebabkan kehancuran besar pada sistem perawatan kesehatan. Bahkan sekitar 15.000.000 warga Yaman tidak memiliki askses pelayanan kesehatan di Yaman, termasuk 8.800.000 orang tinggal di daerah-daerah yang minim sekali pelayanan kesehatan. Dan pasokan medis dasar masih jauh dari kata cukup, hanya ada sekitar 45% fasilitas kesehatan yang tersedia. (Baca: Perang Yaman Akibat Tamak Kekuasaan Putra Mahkota Saudi ‘Muhammad bin Salman’)

Selain itu, diperkirkan ada 8.000.000 rakyat Yaman yang telah kehilangan mata pencaharian mereka. Dan rakyat  Yaman saat ini juga membutuhkan bantuan untuk menyingkrikan bom-bom cluster dan bahan peledak lainnya yang begitu berbahaya dan bisa meledak kapan saja yang tersebar di 15 provinsi Yaman. Rakyat Yaman khususnya anak-anak, sangat terancam keselamatan individunya akibat perang yang berkobar di negara mereka ini dan mereka memerlukan bimbingan psikologis dan mental.

Perang Yaman juga menciptakan dampak negatif yang begitu serius pada pendidikan dan perkembangan anak-anak dan remaja. Ada lebih dari 2.000.000 anak-anak Yaman yang tak bersekolah dan membuat lebih dari 1.600 sekolah tidak layak untuk digunakan. Dan sejumlah sekolah-sekolah ini kini diduduki kelompok-kelompkok bersenjata dan sebagiannya ditempati para gelandangan setempat.

Menurut perhitungan Bank Dunia, angka kemiskinan di Yaman meningkat dua kali lipat menjadi 62% sejak awal perang berkecamuk. Adapun gaji di sektor publik di mana sekitar 30% dari populasi Yaman bergantung padanya, harus rela di bayar secara tidak teratur.

Sekali lagi, perang ini sangatlah mengerikan. Salah satu fakta yang begitu menyakitkan adalah warga sipil yang mayoritas adalah anak-anak telah menjadi pion dalam permainan catur yang mematikan antara kelompok-kelompok yang bertikai. Gert Kabilir, Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara mengatakan kepada Associated Press bahwa “tidak ada satupun negara di dunia ini yang anak-anaknya menderita melebihi penderitaan yang dialami anak-anak Yaman saat ini”.

Janji yang dibuat oleh para donatur internasional baru-baru ini yang nilainya mencapai 1,1 miliar dolar yang diperuntukkan untuk Yaman yang tengah dilanda perang, telah menimbulkan pertanyaan penting, “dapatkah seseorang membayangkan bagaimana negara ini akan menggunakan jumlah ini sebelum perang? Berapa banyak sekolah-sekolah, taman bermain anak-anak, puskesmas, rumah sakit dan jalan bisa dibangun dengan uang ini? Sebaliknya, hentikanlah intervensi asing di Yaman yang telah porak poranda, dan itu adalah solusi nyata dala mengurangi penderitaan rakyat Yaman.” (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: