Asia

Intelijen AS: Tidak Lama Lagi Korut Serang AS dengan Rudal Nuklir

Kamis, 25 Mei 2017 – 02.05 Wib,

SALAFYNEWS.COM, AMERIKA – Direktur Badan Intelijen Militer AS, Letnan Jenderal Vincent Stewart menyampaikan dalam sidang Senat AS bahwa jika AS tidak menahan dan merintangi Korea Utara dalam mengembangkan rudal baru yang mampu membawa senjata nuklir maka Pyongyang kemungkinan besar dapat menyerang AS. (Baca: Takut Hadapi Korut, AS Bentuk Pusat Intelijen di Korsel)

Pernyataan Stewart ini disinyalir mengisyaratkan bukti terbaru akan meningkatnnya kekhawatiran AS tentang perkembangan program rudal dan senjata nuklir Pyongyang dan Korea Utara menegaskan bahwa hal ini diperlukan untuk mempertahankan diri dan melindungi negaranya.

Anggota parlemen AS mendesak Stewart dan direktur Intelijen Nasional AS, Dan Coates untuk memperkirakan berapa lama waktu yang dibutuhkan Korea Utara untuk memiliki rudal balistik antar benua yang mampu mencapai AS.

Para pejabat AS telah berulang kali memperkirakan jangka waktu tertentu dan hal ini secara tidak langsung mengisyaratkan tentang tingkat kesadaran Washington akan kemampuan Korea Utara di mana Stewart memperingatkan tentang bahaya yang sedang berkembang dari arah Korea Utara.

Sebagaimana yang dilansir Reuters, Stewart mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “jika Korea Utara dibiarkan begitu saja saat ini maka tanpa diragukan lagi Pyongyang akan berhasil di akhir usaha mereka dalam menciptakan dan menyebarkan rudal yang membawa senjata nuklir yang mampu mencapai wilayah AS”. (Baca: Korut Ancam Tenggelamkan Kapal Selam Nuklir AS Jadi Hantu Bawah Laut)

Ia menambahkan bahwa “meskipun hampir tidak mungkin memprediksi kapan Korea Utara akan mencapai kemampuan ini namun Korea Utara saat ini telah berada di jalur yang akan mengantarkannya untuk memiliki kemampuan ini”.

Para ahli militer percaya bahwa Korea Utara sudah belajar dari kemunduran dan bisa mengembangkan rudal balistik antar benua pembawa hulu ledak nuklir yang dapat mencapai wilayah AS dalam empat tahun mendatang. Senjata nuklir dengan rudal antar benua Korut inilah yang diduga jadi pertimbangan AS untuk berpikir dua kali jika nekat menyerang Pyongyang.

Pekan lalu, DK PBB menuntut agar Korea Utara menghentikan uji coba rudal nuklir dan balistiknya dengan sebuah pernyataan yang disepakati dengan suara bulat, di mana PBB mengecam uji coba rudal Pyongyang. Dewan Keamanan PBB kemudian mengadakan pertemuan tertutup untuk membahas uji coba rudal Pukkuksong-2 yang dilakukan Pyongyang pada hari Minggu lalu (21/05) yang menggunakan bahan bakar padat yang dianggap melawan resolusi dan sanksi DK PBB.

Sejumlah sanksi PBB terhadap Pyongyang mencakup larangan semua perdagangan senjata, aplikasi semua teknologi terkait dengan nuklir, perdagangan roket, maupun bahan bakar pesawat terbang.

Sanksi lainnya menyangkut pelarangan penjualan batu bara, besi, bijih besi, dan bahan logam lain dari Korea Utara, juga pelarangan penjualan karpet mewah, permata, dan kapal pesiar kepada Korea Utara. Demikian juga pembekuan sejumlah operasi finansial Korea Utara, termasuk pembekuan rekening pengusaha Korea Utara di luar negeri.

Namun, Korea Utara yang sudah berada di bawah serangkaian sanksi atas program rudal dan nuklirnya, mengatakan bahwa pihaknya tidak akan meninggalkan program rudal dan nuklirnya kecuali AS mengakhiri permusuhannya terhadap Pyongyang.

Sebelumnya Korea Utara kerap melontarkan ancaman-ancaman provokatif terhadap Amerika Serikat di tengah ketegangan yang semakin memuncak. Sebelumnya Washington dikabarkan mempelajari opsi perang konvensional jika Korea Utara bersikeras melanjutkan uji coba nuklir. namun Pyongyang malah balik menggertak akan menyerang dengan senjata pemusnah massal.

Terkait hal ini, China telah menyerukan dialog dengan Korea utara dan agar Korea Utara menjalankan penuh sanksi PBB terhadap Pyongyang atas uji coba nuklir dan uji coba rudal balistik. Beijing sebelumnya mewanti-wanti Pyongyang agar tidak memperparah eskalasi konflik dengan melanjutkan uji coba senjata nuklir.  Sementara itu, Pyongyang tidak memberikan jawaban langsung atas pertanyaan tentang pembicaraan Beijing dan Washington terkait kemungkinan diberlakukannya sanksi baru. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: