Artikel

Inilah Sumber Konflik dan Perang Suriah

Rabu, 24 Agustus 2016,

SALAFYNEWS.COM, SURIAH – Peran media mainstream menjadi vital dalam penghancuran Suriah. Dan Beberapa media Arab seperti Al-Jazeera sendiri merupakan media milik dan dioperasikan oleh pangeran dari Qatar -yang juga merupakan pendana utama FSA-. Sementara AS menyediakan senjata, persediaan dan gambar militer dari satelit, semua gaji, uang suap dan pengeluaran lainnya dibayar oleh pangeran Qatar dan raja Saudi. Krisis Suriah merupakan produk kerjasama antara AS, Uni Eropa, NATO, Turki, Yordania, Israel, Saudi Arabia, Qatar dan Yordania. CIA sendiri menyatakan bahwa penyerangan frontal tak pernah menjadi masalah bagi AS. Yang terpenting, pendanaan harus disediakan dari negara lain, karena AS tak peduli soal nasib Suriah, yang penting mereka dapat keuntungan dalam perang ini. (Baca juga: Isu Sektarian Senjata Ampuh Barat-Arab Saudi Hancurkan Suriah dan Assad)

Beda Pemeberontak dan Tentara Suriah

Al-Jazeera, CNN , BBC dan France24 kemudian langsung memulai kampanye propaganda massal dan masifnya untuk mendiskreditkan pemerintahan Suriah dan menggambarkan para teroris sebagai pejuang ‘kebebasan’ lokal atau sebagai “Mujahidin”. Kadangkala, propaganda mereka terdengar seperti kaset rusak, yang bisa ditebak ditulis dari satu kantor yang sama.

Media Barat

Media-media itu berpura-pura tahu apa yang terjadi di dalam Suriah. Hingga kini, rakyat Suriah sendiri masih sulit memahami, mengapa Barat bisa memihak teroris asing dan ekstrimis ketimbang warga sipil Suriah. Sebagai film berskala ‘besar’, Barat menggunakan rekaman ponsel murah yang lalu kemudian menjadi viral ke seantero dunia, menggambarkan ‘pemberontak’ Suriah sedang mengalami perjuangan dramatis demi kemerdekaan dan keadilan -ala Amerika-. Sejak awal krisis, Al-Jazeera memberi hadiah $100 untuk setiap video amatir dari Suriah. Industri baru langsung tumbuh subur di Suriah, dengan ‘sutradara’ dan ‘aktor’ menjamur demi kekayaan. Keaslian video itu tak pernah dipertanyakan, media hanya menginginkan konten yang bisa mendukung propaganda mereka. (Baca juga: Jurnalis Indonesia Beber Fakta Suriah Sebenarnya Pasca Kunjungan ke Lokasi Konflik)

Dan itu sangat jelas kelihatan saat pemilu di Suriah, telah terjadi sebuah distorsi media, Menteri Luar Negeri AS, Kerry, menyatakan pemilu di Suriah adalah “lelucon”. Kemudian, seperti diberi aba-aba, National Public Radio, Associated Press, ABC dan media barat lainnya langsung menyajikan cerita yang mendukung klaim tersebut. Pengamatan yang jeli kemudian mengungkap bahwa media-media tersebut telah melebih-lebihkan, mendistorsi dan berbohong tentang pemilu di Suriah.

AS Dan Sekutunya Hancurkan Suriah

Berikut adalah beberapa contoh dari beberapa berita tersebut :

Contoh Pertama, “Ribuan Orang Melarikan Diri Jelang Pemilu Suriah” oleh Bassem Mroue, AP.

Pada hari Sabtu 31 Mei  2014, Associated Press mendistribusikan cerita yang mengklaim bahwa ribuan warga sipil Suriah telah “meninggalkan kota-kota Suriah yang dikuasai pemerintah”. Di koran lokal saya,  ada foto terlampir yang menunjukkan para pemuda diatas  truk, difoto dari belakang. Kesan yang akan ditimbulkan bagi para pembaca  penampil adalah bahwa orang-orang melarikan diri. Tetapi kenyataannya adalah sebaliknya: foto itu justru menunjukkan para pemuda yang  antusias untuk mengikuti pengambilan suara  dalam pemilu dengan bahkan memberi  isyarat tangan menunjukkan perdamaian.  Jauh dari terlihat “melarikan diri”, para pemuda ini sebenarnya justru sedang  berkeliling kota mengungkapkan antusiasme mereka untuk pemilu.

Dimana bukti untuk mendukung klaim AP itu? Ternyata semua itu hanya  “menurut aktivis dari pihak oposisi”. Itu saja, tidak ada bukti lain. (Baca juga: BELAJAR DARI SURIAH, Inilah Karakteristik Ashabul Fitnah yang Hancurkan Sebuah Bangsa)

Bertentangan dengan klaim cerita AP ini, banyak orang membanjiri Suriah untuk berpartisipasi dalam pemilu. Banyak warga Suriah terbang dari seluruh dunia untuk kembali ke rumah demi ikut serta dalam pemilu. Ada puluhan orang Suriah Amerika dari California selatan yang pulang ke negaranya untuk memilih.

Contoh Kedua, “Bagaimana bisa adil sebuah Pemilu dalam Zona Perang?”, Frederick Pleitgen, CNN.

Cerita CNN ini melaporkan bahwa oposisi dan negara Barat “mengatakan tidak mungkin untuk mengadakan pemungutan suara ketika pemberontak menguasai banyak wilayah di utara dan timur negara itu. Dan mereka mengatakan pemilu tidak akan bebas atau adil, bahwa pemilu akan dicurangi dan Assad akan dinyatakan sebagai pemenang “. Cerita CNN ini gagal untuk menyertakan informasi yang relevan seperti:

  1. Pemilihan beberapa saat sebelumnya juga diadakan di Afghanistan, Irak dan Ukraina dimana ada juga konflik dan daerah yang berada di luar kendali pemerintah. Tanggapan AS disana tidak mengabaikan pemilu tetapi malah mengucapkan selamat kepada pemerintah dan rakyat! Kenapa berbeda dengan Suriah?
  2. AS sendiri mengadakan pemilu 1864 di tengah-tengah Perang Saudara.

Dan seperti biasa klaim akhirnya adalah tentang kecurangan pemilu. Sebuah  propaganda sederhana tanpa bukti. Mungkin CNN tidak mengacu pada polling atau survei, karena jajak pendapat yang kredibel, termasuk yang dikontrak oleh Doha Qatar dan NATO, telah secara konsisten menunjukkan Assad memiliki dukungan luas.

Contoh Ketiga, “Pemilu Suriah : Pertimbangan para Ahli dalam Voice of America,” Cecily Hilleary, 2 Juni 2014.

Dalam laporan VOA ini para “ahli” jelas telah dipilih dengan Bias. Hanya satu dari delapan ahli itu yang tidak anti-Assad. Para “Ahli” itu kemudian  diminta untuk menyuarakan segala macam omong kosong. Misalnya Zaher Sahloul mengatakan pemerintah Suriah “menargetkan sistem kesehatan”. Untuk mengecek apa yang sebenarnya terjadi,  pembaca yang tertarik dapat melihat video dari pemberontak yang meledakkan Rumah Sakit Kindi di Aleppo. Di tengah teriakan Alahu Akhbar kita dapat melihat truk perlahan berkendara di jalan dan kemudian meledakkan rumah sakit baru yang menjadi sebelumnya menjadi simbol bagi Suriah.

Sahloul kemudian meneruskan sebagai berikut: “Rakyat Suriah yang cukup beruntung untuk bisa tetap hidup atau terhindar dari mengungsi tidak punya pilihan selain untuk memilih (Bashar Assad).”  Ini tidak benar!  Tidak ada persyaratan untuk memilih, juga tidak ada cara untuk menekan bagaimana seseorang harus memberikan suaranya.  Klaim Sahloul adalah bagian dari penyampaian rumor dan klaim palsu, pernyataan tanpa bukti.

Contoh Keempat, “Lima Hal Untuk Diketahui  tentang Pemilu Selasa di Suriah”, ABC News, oleh Zeina Karam AP.

Menurut artikel ini “Pemilu Suriah mengindikasikan bahwa  perang saudara kemungkinan akan berlangsung  lama.” Sebaliknya, jika pemilu menegaskan bahwa pemerintah Suriah memiliki dukungan rakyat yang signifikan, maka selanjutnya hal itu akan lebih merusak kredibilitas oposisi bersenjata dan menyebabkan konflik bersenjata pada akhirnya. Itu, tentu saja, adalah apa yang mereka khawatirkan.

Klaim lain dalam artikel ini adalah bahwa “kelompok oposisi internal Suriah … juga memboikot (pemilu)”. Ini tidak benar. Partai-partai dan kelompok oposisi non-kekerasan secara aktif berpartisipasi dalam pemilu.

Artikel lebih lanjut mengklaim bahwa “Sekitar 2,5 juta pengungsi Suriah tersebar di negara-negara tetangga. Sebagian besar dari mereka telah jika tidak dikecualikan maka telah memboikot pemungutan suara. “Ini tidak benar. Para pengungsi yang melintasi perbatasan ke Lebanon atau Yordania dengan paspor mereka juga ikut pemungutan suara pada hari Rabu, 28 Mei 2014. Partisispasi pemilih dari Suriah di pengasingan sangatlah besar, bahkan jauh melebihi harapan. (Baca: Rusia Hancurkan Reputasi AS di Suriah)

Para pengungsi yang melarikan diri melintasi perbatasan selama beberapa tahun terakhir dan hanya memiliki KTP nasional mereka, bisa memberikan suara mereka di TPS di wilayah perbatasan dengan Suriah pada hari pemilihan 3 Juni.

Singkatnya, beberapa warga Suriah di luar negeri memang ada yang tidak diizinkan untuk memberikan suara di negara-negara seperti Amerika Serikat dan Kanada dimana Kedutaan Suriah disana telah ditutup. Mereka tidak diizinkan untuk memberikan suara di negara-negara Eropa seperti Jerman, Belgia dan Perancis di mana negara tuan rumah telah melarang adanya pemungutan suara. Jadi klaim dari artikel itu tidak benar. Adalah negara-negara Barat dan sekutu mereka yang mencegah rakyat Suriah di negara mereka untuk memilih, bukan pemerintah Suriah.

APA YANG DIPERTARUHKAN?

John Kerry dan mereka yang mencari perubahan rezim di Damaskus tahu pentingnya pemilu Suriah. Itu sebabnya Kerry telah begitu kasar dan kuat dalam mencela. Media, seperti di masa lalu, telah jatuh ke dalam jaringan mereka dan gagal untuk  melaporkan secara objektif.

Rakyat Suriah, baik yang di dalam negeri dan di luar negeri, juga tahu arti dari pemilu. Itu sebabnya mereka berbondong-bondong pergi ikut memilih di Beirut (bagi yang di Lebanon). Itu sebabnya rakyat Suriah yang berada di seluruh penjuru dunia telah melakukan perjalanan pulang, demi untuk bisa memilih di tanah air mereka. Dan itulah mengapa itu akan menarik untuk melihat berapa banyak boikot VS berapa banyak pemilih di pemilu Suriah. Satu hal yang jelas: Kami tidak akan mencari tahu dari media mainstream atau pengikut mereka. (SFA)

Rick Sterling adalah anggota pendiri dari Gerakan Solidaritas Suriah. Dia berada di Damaskus, Latakia dan Homs pada bulan April 2014 bersama dengan International Peace Pilgrimage. (SFA)

Sumber: Counterpunch.com, penulis  RICK STERLING dan berbagai Media.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: