Artikel

Inilah Rahasia Kenapa Assad Tak Tanggapi Serangan Zionis Israel di Suriah

Sabtu, 21 Januari 2017 – 09.00 Wib,

SALAFYNEWS.COM, SURIAH – Air mata mengalir, mengapa? Serangan Zionis disambut dengan suka dan duka, ratapan terhadap Suriah dan integritas wilayahnya, mengapa Suriah tidak menanggapi agresi Zionis secara langsung, mengapa Suriah meresponnya secara tidak langsung?

Semua orang tahu bahwa Suriah berada dalam blokade laut, darat dan udara yang dikenakan oleh Liga Arab selama bertahun-tahun, dan dilaksanakan oleh negara-negara Arab dan NATO dengan segala cara, berdasarkan fakta ini, mungkin kita bertanya: (Baca: Analis: Keberanian Suriah dan Kegagalan Zionis Israel Provokasi Assad)

Apakah Suriah memiliki minyak yang cukup untuk modal perang melawan entitas musuh dalam keadaan terkepung seperti ini? Siapakah yang menguasai ladang-ladang minyak dan gas Suriah? Bagaimana jika militer kita diblokade oleh Barat-Arab? Akankah tank-tank kita hanya terdiam di jalan-jalan, dan pesawat-pesawat kita mangkrak di pangkalan? Pengiriman minyak dari mana yang memungkinkan untuk pergerakan tentara kita dan kehidupan rakyat?

Apakah Suriah memiliki cadangan  gandum dan obat-obatan yang cukup untuk menghadapi perang ini, dengan kebutuhan yang mendesak, sedangkan musuh akan menyerang pelabuhan Suriah selama pertempuran?

Mereka yang menyeru agar Suriah menanggapi langsung serangan Zionis, lalu bagaimana dengan pasokan air yang diputus oleh “oposisi moderat” di ibukota setidaknya 20 hari lamanya? Itu juga berlaku pada Aleppo, kota kedua terbesar di Suriah. Perlu dicatat di sini, bahwa jenderal “Gouraud” ketika ia menyerang Damaskus, ia membuat aliran sumber air dari Fijeh ke ibukota, namun sekarang cucu-cucunya malah membuatnya terkepung kehausan. (Baca: Inilah Alasan Kenapa Suriah Tidak Membalas Serangan Israel)

Pertama kita harus meneliti sisi-sisi yang “menuntut” untuk menanggapi serangan, kebanyakan yang menyerang negara Suriah adalah para pejabat dan saluran televisi, surat kabar, para analis dan aktivis, mereka semua terkait erat dengan perang melawan Suriah, dan berpartisipasi pada saat yang sama dalam perang melawan pemerintah Suriah melalui invasi teroris, seperti Jabhat al-Nusra, ISIS dan lainnya.

Sebelum agresi pada bulan Juli 1967 dilakukan, kenyataan ini sama saat Mesir dipimpin oleh mendiang Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser, ketika ia ditekan secara politik, media dan publik untuk menutup Selat “Tiran” bagi pelayaran Zionis, dan menutup akses ke pelabuhan Eilat, itu semua bukanlah untuk melindungi tanah Palestina, tidak juga arogansi yang membuat Nasseri menjadi ramah dengan Zionis … tapi untuk menyeret Mesir ke dalam perang yang secara militer belum siap, dan tak mampu melawan dengan disintegrasi kawasan Arab… itulah apa yang mereka inginkan sekarang di Suriah, dan mereka berusaha untuk mengulangi skenario yang sama di Suriah, dengan lebih kompleks dari kasus sebelumnya di Mesir. (Baca: Kenapa Zionis Israel Tidak Berani Perang dengan Hizbullah? Ini Jawabannya)

Hampir seminggu yang lalu, Pentagon berbicara tentang operasi khusus untuk memerangi ISIS di barat kota Deir Ezzor, yang menyebabkan kematian sejumlah pemimpinnya dan anggota serta tawanan, yang aneh adalah bahwa Pentagon telah “membuat kesalahan” beberapa bulan yang lalu ketika ia dan sekutunya menyerang lokasi-lokasi tentara Suriah di Gunung Tardah, ini bukanlah serangan yang lazim, melainkan serangkaian serangan yang berlangsung cepat 45-90 menit!. Kami berhak untuk bertanya, apakah Washington dan sekutunya memiliki operasi tersendiri terhadap konvoi ISIS atau malah menjatuhkan alat tempur canggih untuk teroris ini dan rekan-rekanya,  untuk memulai pertempuran untuk menguasai Deir Ezzor. Namun “ketegangan” ini hilang hanya dalam waktu dua hari saja dari “serangan” ini, apakah mungkin bagi Suriah menyerang dengan rudal sedangkan ia masih di hadapan perang terbuka dengan pasukan Amerika di atas wilayah Suriah? Bagaimana jika ISIS maju ke jantung kota Deir Ezzor, saat Suriah sibuk berperang dengan entitas Zionis, akankah tentara Suriah bisa  menyelamatkan kota tersebut atau malah mengejar perang dengan Zionis Israel?

Dalam beberapa bulan terakhir dunia diguncangkan dengan pernyataan yang dikaitkan dengan politisi dan wartawan yang mengatakan bahwa “ISIS” adalah ciptaan pemerintah Suriah, tanpa sedikitpun menyinggung pernyataan yang dibuat oleh Wakil Presiden AS, Joy Biden, dan pengakuan Hillary Clinton saat menjabat Menteri Luar AS dan lainnya, tentang tanggung jawab Washington dan sekutunya karena sudah menciptakan “ISIS” dan dukungan mereka terhadapnya … pernyataan Kerry mulai dibocorkan oleh media AS untuk menghapus semua keraguan. “Kami melihat bahwa kekuatan ISIS sedang bangkit dan kami percaya bahwa Bashar Assad sudah terancam… kita tahu bahwa ISIS tumbuh dewasa dan semakin mengganas, dan kami mengikuti ide bahwa dengan itu kita dapat membawa Assad untuk bernegosiasi, serta  sebagai ganti dari negosiasi yang dimenangkan karena dukungan dari Putin”.  John Kerry pada enam bulan yang lalu mengatakan “Assad-lah yang membuat ISIS.” Kalimat ini dan fakta-fakta lainnya, menetapkan bahwa yang disebut oposisi moderat atau kelompok teroris, tidak lain adalah alat yang melakukan fungsi ganda yaitu invasi Suriah dan upaya menekan pemerintah … untuk mencapai satu tujuan yaitu menundukkan pemerintah Suriah atas perintah Washington. Hal yang sama juga berlaku bagi Jabhat Nusra, Jais al-Hurr dan lainnya, mengingat bahwa beberapa ribu dari mereka dirawat di rumah sakit Zionis … kelak mereka akan menjadi tentara Washington dan Tel Aviv dalam pertempuran mendatang, lalu apakah hikmah di balik penarikan ke dalam pertempuran ini? (Baca: Komandan Operasi Aleppo: AS, Saudi dan Israel Pindahkan Teroris dari Mosul ke Suriah)

Beberapa orang membandingkan reaksi langsung gerakan Hizbullah di setiap agresi Zionis terhadap anggotanya atau pada wilayah Lebanon, dan respon Suriah yang lambat atau tidak langsung,  perhatian anda akan teralihkan pada dua faktor;

Perang pada Juli 2006, membuktikan bahwa Suriah adalah tumpuan Hizbullah dalam perang, baik secara politik, militer, dan logistik. Meskipun sampai sekarang tidak ada bukti-bukti nyata dari semua aspek tersebut.

Gerakan perlawanan Hizbullah bergantung pada pola perang asimetris, tidak memiliki sistem dan kamp-kamp yang tetap, apalagi kendaraan lapis baja dan bandara … yang bertentangan dengan realitas situasi di Suriah, yang memerangi tentara reguler, dan memerlukan penyediaan elemen penting seperti angkatan udara yang tangguh, serta jaringan pertahanan udara yang efektif. Di sini yang harus diingat adalah fakta-fakta yang sudah terbukti bahwa apa yang kita hadapi bukan invasi alat terorisme, dan pembicaraan palsu tentang oposisi, yang menyerang stasiun-stasiun pengawasa, sistem radar dan pertahanan udara Suriah, ini adalah sejumlah situs yang dihancurkan secara menyeluruh atau sebagiannya yang ada di sektor barat daya Suriah, berdasarkan informasi militer yang telah terdokumentasikan, seperti:

Damaskus:

Batalyon pertahanan udara di Maliha, Hajar Aswad, bandara Marj al-Sultan, Otaiba, Outaya … Batalyon Teknis di Alafteras, dan pertahanan udara di Maliha.

Qalamon:

Brigade radar di Qalamon timur, Deir Atiyah. Brigade pertahanan udara di Jubb’adin dan Dhomir ….

Ghouta Barat:

Batalyon pertahanan udara di Khan Al-shih, Kiswa …

Daraa dan Suwaida:

Batalyon dan Brigade pertahanan udara di Naemeh, Abtaa, Alshoh, Khirbet Ghazaleh, Alama, Sheikh miskin, Thala, Daur, Sidon …

Selain menargetkan departemen pengawasan dan anti-spyware seperti yang terjadi di Sasa, pusat keamanan militer, dan pusat penawasan yang dikembangkan di Gunung Haara.

Kesimpulan:

Terlepas dari serangan Zionis ke pangkalan militer Suriah, dan daerah di sekelilingnya, dalam sebuah wawancara dengan Sunday Times, 13 Maret 2013, Presiden Bashar Assad merespon pertanyaan surat kabar itu: surat apa yang anda kirim ke Israel setelah serangan udara yang diluncurkan pada Suriah? Apakah anda akan membalasnya? Bagaimana anda akan membalas pada setiap serangan berikutnya oleh pasukan Israel, terutama karena pemerintahannya telah mengatakan akan melakukannya lagi jika diperlukan? Assad mengatakan “Suriah telah membalas disetiap serangan, tapi dengan caranya sendiri, bukan dengan serangan serupa, hanya orang-orang Israel sendirilah yang tahu apa yang kami maksud, yakni bagaimana kita merespon? Ketika ditanya oleh The Sunday Times: apa yang kamu miliki untuk melakukan hal itu, dia menjawab, “Ya, serangan tidak berarti rudal dibalas rudal atau peluru dibalas peluru, respon kami tidak perlu dipublikasikan; dan Israel sendiri tahu apa yang saya maksud..” Lalu  Sunday Times bertanya: Tapi kau tidak memberitahu kita bagaimana? Assad menjawab: “Kami tidak akan mengungkap hal itu.”

Saya percaya orang ini, dan percaya apa yang dia katakan, dan saya tahu pasti bahwa dia tidak mengatakan ia jadi sasaran, dan masih saja mereka menargetkannya … Tidak ada yang lebih benar dari John Kerry “Kami berpikir bahwa kita dapat membawa Bashar Assad untuk bernegosiasi “yang dimaksud dengan kata “bernegosiasi” untuk menyerah, tapi dia tidak bernegosiasi dan tidak menyerah, namun bersabar untuk menang, kemenangan tidak akan ada sampai hilangnya entitas ini dari akarnya, dan itu adalah kata-kata Assad yang tersirat, oleh karena itu ia menyimpan rudal-rudalnya. (SFA)

Sumber: Samir Faza – Syam Times.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: