Fokus

Inilah Penjelasan Kapolri Tentang Cara Komunikasi Jaringan Teroris

Kamis, 22 Desember 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian menyebut saat ini kelompok teroris sudah memanfaatkan dunia maya untuk berkomunikasi, merekrut anggota baru hingga pendanaan. Seperti apa bentuk komunikasi mereka di dunia maya?

Anggota jaringan teroris salah satunya berkomunikasi lewat jejaring sosial Facebook. Hal itu dilakukan oleh Abdul Rahman alias Omen, terduga terorisme yang tewas dalam penggerebekan di Setu, Babakan, Tangerang Selatan pada Rabu (21/12/2016) kemarin. (Baca: Kapolri: Saya Siap Dicopot Kalau Memang Penangkapan Teroris Adalah Pengalihan Isu)

Omen adalah bekas anak punk yang dijatuhi hukuman 7 tahun penjara karena kasus pembunuhan. Dia sempat ditahan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang lalu dipindah ke Lapas Subang di Jawa Barat. Dia bebas pada 17 Agustus 2016 setelah mendapatkan remisi.

Setelah bebas, Omen yang direkrut oleh Raja Keong alias Abu Haikal itu kemudian menjalin komunikasi dengan anggota teroris lainnya melalui Facebook dengan akun @Juhaiman Al Arkhabiliy.

Omen menggunakan akun @Juhaiman Al Arkhabiliy untuk berkomunikasi dengan beberapa anggota Jamaah Anshorut Tauhid, antara lain @Ammar_Barbarossa milik Achmad Taufik alias Ovie, terpidana kasus teroris bom Kedubes Myanmar. Komunikasi keduanya terjadi setelah Omen bebas dan minta dijemput.

Orangnya Ammar Barbarossa alias Ovie berencana menjemput Omen di Jakarta, namun tidak ketemu. Omen kemudian dijemput oleh oleh orangnya Wikra Wardana alias Oca yang memiliki akun Facebook @Zacky_Umarov. (Baca: Denny Siregar “Semprot” Eko Patrio, Datang Dong,Tuh Dipanggil Bareskrim)

Pada 28 Agustus 2016 Omen dengan akun Facebooknya @Juhaiman Al Arkhabiliy menjalin komunikasi akun @Ahmad Al Sam miun. Kepada Omen, Ahmad Al Sam miun mengirimkan sebuah KTP atas nama Ivan Armadi Hasugian alias Abdurahman Madi. Omen mengaku tak mengenal nama seperti ditulis dalam KTP tersebut.

Namun Omen dan Ivan kemudian menjalin komunikasi melalui Facebook. Melalui Facebook juga Omen mengajari Ivan cara meracik bom. Ivan menggunakan akun Facebook @Abu-Kafka.

Omen mengaku kepada Ivan berasal dari Medan. Dia pun mengajak Ivan Hasugian untuk melakukan amaliyah atau serangan bom bunuh diri bersama di Medan. Mereka berdua juga menjalin komunikasi di Telegram.

Beruntung polisi berhasil mencegah Omen dan Ivan melakukan bom bunuh diri. Pada Rabu (21/12/2016) kemarin, Omen bersama Irwan dan Helmi tewas dalam penggerebekan oleh Tim Detasemen Khusus Antiteror Markas Besar Polri di Setu, Babakan, Tangerang Selatan. (Baca: TEGAS! Wakapolri: Jangan Anggap Remeh Terorisme dan Ini Bukan Pengalihan Isu)

Komunikasi jejering teroris di dunia maya ini menjadi perhatian serius Polri. Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengatakan, polisi membentuk tim cyber yang khusus mengawasi gejala terorisme yang menyebar di internet. Cara tersebut digunakan sebagai perlawanan dan mencari jejak jaringan teroris.

“Oleh karena itu kita gunakan kemampuan untuk lakukan cyber counter terorism juga. Intinya ada cyber army, cyber troop yang tiap hari kerjanya hanya membaca website mereka. Ketemu chating roomnya mereka. Masuk dengan mereka. Kepada mereka kita lakukan cyber patrol kita lakukan cyber attack termasuk cyber surveillance kita juga men-track melalui dunia maya ini kita lakukan sehingga ini beberapa hasil terakhir banyak kita lakukan dari kegiatan cyber counter terorism itu,” kata Tito kepada wartawan di Aula Bimasena, Jalan Dharmawangsa Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (21/12/2016). (SFA)

Sumber: DetikNews

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: