Fokus

Inilah Fakta Dibalik Kenapa Molornya UU Terorisme

Minggu, 28 Mei 2017 – 19.55 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Inilah salah satu kenapa UU Terorisme terkesan molor dan lambat diketok, siapa ketua pansus revisi UU terorisme? Berita ini dicuplik dari media Seword.

Kepala kepolisian Republik Indonesia (Kapolri), Jenderal Tito Karnavian meminta revisi UU no 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dipercepat. Tito menganggap sangat perlu ada tindakan hukum terhadap proses persiapan seorang teroris sebelum melancarkan aksinya.

“Kita menghendaki ada kriminalisasi sejumlah perbuatan awal. Peristiwa Rabu malam mereka bilang jihad, tapi bagi kita itu adalah tindak pidana terorisme. Konsep mereka tidak ada jihad tanpa i’dad jihad (persiapan),” ujar Tito di RS Polri Keramat Jati. (Baca: Kepala BNPT: Indonesia Seperti Suriah Jika Tidak Punya UU Terorisme yang Pas)

Menurut Pak Tito, dengan dilakukan penindakan pada saat persiapan aksi teror, maka pencegahan terhadap tindak terorisme akan lebih “powelfull“.

Penulis yakin jika Pak Tito minta revisi UU Terorisme dipercepat karena Pak Tito ingin memberikan kenyamanan  yang terbaik buat rakyat Indonesia agar rakyat Indonesia tidak merasa takut dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Penulis pun penasaran siapa sih Ketua Pansus Terorisme di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), terkesan seperti “memperlambat” proses revisinya.

Setelah penulis melakukan pengumpulan data, akhirnya terdeteksi siapa sosok Ketua Pansus Terorisme di DPR.

Dari beberapa sumber yang berhasil dikumpulkan, akhirnya diketahui bahwa sosok Muhammad Syafi’i adalah Ketua Pansus UU Terorisme di DPR.

Raden Muhammad Syafi’i atau yang akrab dipanggil dengan sebutan Romo adalah politisi sekaligus anggota DPR RI dari partai Gerindra asal daerah pemilihan Sumatra Utara. Muhammad Syafi’i terpilih menjadi Ketua Panitia Khusus (Pansus) yang bertugas untuk membahas revisi Undang-Undang (UU) No 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. (Baca: Abu Janda Desak Pemerintah Untuk Segera Sahkan Revisi UU Terorisme)

Berikut ini adalah beberapa “dosa” Muhammad Syafi’i (Romo) tersebut:

  1. Romo pernah “melecehkan” Presiden Jokowi yang ketika itu menghadiri sidang paripurna. Jadi Raden Syafi’i (Romo) ini adalah orang yang membaca doa saat perayaan 17 Agustus 2016 lalu. Jadi jangan heran jika doanya “melecehkan” Presiden Jokowi karena Romo ini berasal dari partai Gerindra. Tolong dicatat ya !!!
  2. Romo ini merupakan salah satu tokoh yang mendukung Aksi 212 yang lalu, bahkan Romo pernah meminta Kapolri, Tito Karnavian untuk mundur bila tidak bisa menangani demo 212 secara persuasif dan manusiawi.

Sombong banget ya Romo dari partai Gerindra ini. Dia berani meminta Kapolri untuk mundur jika Pak Tito tidak bisa menangani demo 212 lalu ???

Romo, Anda siapa ???

Apakah karena Anda dari Gerindra bisa seenaknya meminta Kapolri untuk mundur ???

  1. Romo pernah mengatakan bahwa Teroris Santoso yang ditembak mati oleh Polisi di Poso merupakan Pahlawan dan Polisi di Poso sebagai teroris.

Sungguh aneh kan?

Romo yang merupakan seorang politisi Gerindra pernah mengatakan Teroris Santoso sebagai Pahlawan, dan polisi di Posos sebagai teroris?

Apa gak ke balik tuh pikiran  Romo?

Yang lebih aneh lagi, kok bisa ya Romo yang mengatakan Teroris Santoso sebagai pahlawan malah jadi Ketua Pansus UU Terorisme?

  1. Romo pernah mengatakan bahwa bahaya untuk memilih Ahok karena Jakarta akan menjadi Daerah Khusus Imigrasi?.
  2. Romo pernah diprotes oleh kalangan pendeta di Pematang Siantar saat Romo menjabat sebagai Ketua Fraksi-PBR DPRD SU karena Romo melontarkan pernyataan yang sifatnya menghasut dan memprovokasi masyarakat dengan membenturkan dan mengkait-kaitkan pembentukan Propinsi Tapanuli kental dengan nuansa SARA (suku, ras, agama dan antar golongan), sehingga bisa menimbulkan keresahan di tengah-tengah masyarakat.
  3. Romo pernah menyarankan pemakzulan (impeachment) terhadap Presiden Jokowi beberapa waktu yang lalu.
  4. Romo termasuk orang yang gagal move on saat Pilpres 2014 silam, karena Romo masih memasang foto Prabowo sebagai Presiden di ruang kerjanya.

Oalah, salah satu haters yang gagal move on, padahal Pilpres sudah berlalu sejak 3 tahun yang silam. Belum sms uh juga ternyata

Jadi kita bisa menilai sendiri kenapa revisi UU no 15 tahun 2013 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme terkesan “lamban”. Seseorang yang “memuja” teroris Santoso malah jadi ketua Pansus RUU terorisme. (SFA)

Sumber; Seword

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: