Fokus

Ini Reaksi Jokowi Ketika Pihak Telegram Klaim Telah Blokir Kelompok Radikal

Minggu, 16 Juli 2017 – 17.56 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut pemblokiran aplikasi percakapan Telegram telah melalui pertimbangan dan penelusuran yang mendalam. Pemerintah juga sudah lama mengamati akses informasi yang berisi propaganda kelompok radikal yang berseliweran melalui aplikasi tersebut.

Mengenai klaim dari pihak telegram yang mengaku sudah memblokir akun teroris, Jokowi menegaskan, langkah pemerintah tidak akan berubah dan tetap memblokir aplikasi yang dikembangkan oleh salah satu warga Rusia yaitu Pavel Durov.

“Ya kenyataannya masih ada ribuan yang lolos yang digunakan, ya baik itu digunakan bangun komunikasi antar negara, untuk hal-hal yang berkaitan dengan terorisme,” ujar Jokowi usai meresmikan Akademi Bela Negara Nasdem di Jakarta, Minggu (16/7/2017).

Jokowi menuturkan, untuk menghalau dan menangkal ancaman teroris perlu kerjasama semua pihak. Tidak terkecuali aplikasi yang menyediakan akses-akses komunikasi dan informasi.

Jokowi mengatakan pemerintah sudah seringkali membuka akses kerjasama dan hal tersebut sering disuarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo).

“Ya mestinya (kerjasama), apa kerja sama seperti itu. Saya kira kemenkominfo sudah menyampaikan mungkin nggak sekali, dua kali itu disampaikan,” tutur mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Kapolri Jenderal Tito Karnavian mengaku mendukung Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) yang memblokir akses aplikasi percakapan Telegram versi situs web. Tito menyebut selama ini aplikasi menjadi sarana komunikasi jaringan teroris.

“Cukup masif. Ini jadi problem dan jadi tempat saluran komunikasi paling favorit oleh kelompok teroris,” ujar TitoKarnavian usai menghadiri acara Bhayangkara Run 2017 di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Minggu.

Tito menjelaskan beberapa hal yang membuat Telegram menjadi alat komunikasi para teroris, karena fasilitas yang memungkinkan bagi jaringan kelompok radikal melakukan propaganda dan menyebar ajaran radikalisme.

“Karena selama ini fitur telegram banyak keunggulan. Di antaranya mampu membuat sampai 10 ribu member (dalam grup) dan dienkripsi. Artinya sulit dideteksi,” ucap Tito. (SFA)

Sumber: Liputan6

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: