Artikel

Ideologi Takfirisme Arab Saudi Pelopor Terorisme Internasional

Sabtu, 28 Januari 2017 – 10.00 Wib,

SALAFYNEWS.COM, RIYADH – Mungkin semua orang ingat ketika Presiden Suriah Bashar Assad memperingatkan para pemimpin negara-negara Barat bahwa apa yang terjadi di Suriah adalah bukan revolusi, upaya mereka untuk menyesatkan bangsa Suriah adalah usaha yang gagal karena yang namanya revolusi itu tidak mengangkat senjata untuk membunuh orang yang tidak bersalah, menghalalkan segala cara, menghancurkan peradaban manusia, melakukan diskriminasi terhadap minoritas dan meneror kelompok-keloompok lain. (Baca: Dewan Ulama dan Warga Anbar Tolak Ideologi Wahabi Teroris ISIS)

Peringatan Assad kepada negara-negara Barat merupakan konsekuensi dari ketidak peduliannya terhadap entitas teroris Takfiri Wahabi Arab Saudi dan ancaman bagi perdamaian internasional. Bahkan Presiden Suriah pernah mengajak negara-negara di dunia untuk membentuk sebuah front global yang bersatu untuk mengatasi kebijakan terorisme Saudi. Seruan eksplisit untuk tidak mengizinkan penjualan senjata kepada kelompok yang haus darah ini karena bahaya tawaran finansial yang menggiurkan ini akan kembali kepadanya. Ada beberapa indikator dan peringatan yang jelas, ketika Jerman dan  Perancis masih saja belum sadar, dan tetap mendukung kelompok teroris hingga saya terkejut dengan apa yang terjadi di Berlin dan sebelumnya di kota Nice, yaitu operasi teroris yang menyerang warga sipil tak berdosa.

Saat ini sudah tak ada keraguan lagi, dan inilah yang dinukil oleh media-media internasional dan diabadikan dalam UU Jasta AS yang menetapkan Arab Saudi sebagai negara sponsor terorisme dan bertanggung jawab secara hukum, politik dan moral dalam peristiwa 11 September 2001. Arab Saudi harus memberikan biaya kompensasi finansial kepada keluarga korban yang berjumlah ribuan sebagaimana yang disebutkan oleh press dunia dengan judul “pembantaian keuangan”, yang akan ditanggung oleh Raja Saudi dan pejabat korupnya. (Baca: Rais ‘Aam PBNU; Wahabi, Salafy, ISIS Ngaku-Ngaku Ahlusunnah)

Melemahnya defisit keuangan Saudi sebagai akibat dari biaya perang berdarah di Yaman, serta tuntutan pendanaan dan mempersenjatai kelompok-kelompok teroris di Suriah, Irak, Yaman dan negara-negara lainnya. Semua orang tahu bahwa itu adalah pekerjaan intelijen Saudi, saya mengatakan tanpa ragu bahwa saat ini rezim Saudi hidup dalam masa sulit, terutama pernyataan Presiden Trump yang tidak memberikan kabar baik bagi rezim Saudi, hingga mendorongnya untuk tunduk sebanyak mungkin hingga ada visi yang jelas serta mencoba meredam kemarahan masyarakat global kepada kepemimpinan Saudi. Tentu saja, ancaman terorisme terus berlanjut di Turki dan negara-negara Eropa, serta kebencian warga Saudi kepada pemerintahannya terus meningkat.

Saat ini para pemimpin politik terbangun, media-media Barat membongkar bahwa Saudi dibalik pemboman berdarah yang melanda sebagian besar negara-negara Barat, termasuk sekutunya Turki. Saudi adalah bapak terorisme bagi kelompok-kelompok teroris yang menghancurkan dunia, yang tidak membedakan antara korban-korbannya. Beberapa pertanyaan mulai muncul, apakah Saudi telah membuat kekuatan teror yang menekan negara lain untuk dikuras sumber daya mereka dan melemahkan keamanannya? Apakah rezim Arab Saudi ingin menerkam negara-negaralain dengan pembentukan yayasan berideologi wahabi? Tapi mungkin rezim ini, mulai ditinggalkan Amerika Serikat dan Israel. (Baca: HTI, ISIS, Wahabi Meretas NKRI)

Husni Mubarak dan Ben Ali telah merasakan bahayanya, ketika Saudi ditinggal oleh sekutunya, akhirnya ia mulai menggunakan kekuatan teroris untuk menekan negara-negara Barat supaya mereka tidak menyingkirkannya dan tetap mendukungnya untuk kelangsungan hidup rezim Arab Saudi. Pengeboman berdarah yang terjadi di Turki termasuk dalam rancangan ini, terutama setelah Turki memulihkan hubungan dengan Rusia.

Beberapa serangan teror di negara-negara Barat, termasuk Turki menegaskan bahwa ada ancaman Saudi dan operasi pembunuhan politik disana, karena kelompok ini adalah produk dari pemikiran Wahabi Takfiri yang keberadaanya dibayai oleh Arab Saudi. Kelompok-kelompok teroris ini mengambil ideologi mereka dari para ulama takfiri Wahabi. Namun perintah untuk memukul kepentingan Barat datang langsung dari kerajaan Arab Saudi dan beberapa badan intelijen Saudi yang berurusan dengan kelompok-kelompok ini di seluruh negara di dunia.

Ini semua telah dipelajari oleh intelijen Barat. Dimana rezim Saudi mencari segala cara untuk dua hal; pertama agar ia tidak keluar dari Suriah dalam keadaan kalah dan yang kedua untuk tetap memegang kendali, setidaknya dalam kelompok teroris dan mampu memukul kepentingan pihak Barat serta mengancam perdamaian di negara-negara tersebut.

Menariknya saat ini serangan teroris mampu untuk bergerak bebas dan efektif di Eropa, seperti yang diungkapkan oleh penelitian di Nice dan Berlin, yang diamini oleh Kanselir Jerman dan Presiden Perancis, yang hanya menghitung jumlah korban saja tanpa berani menuduh rezim Saudi sebagai pelaku teror, “Saudilah yang membunuh kami, rezim inilah yang menyembelih kami”. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: