Fokus

HTI Dibubarkan, Inilah Peringatan Keras Denny Siregar kepada Jokowi

Sabtu, 22 Juli 2017 – 07.46 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Denny Siregar menulis sebuah analisa yang cukup diperhatikan dengan serius oleh pemerintah terkait masalah imbas dari pembubaran HTI, memang bangga dengan hal itu tapi juga sangat berbahaya kalau tidak ada langkah-langkah selanjutnya, karena yang jelas kelompok HTI tidak adakn tinggal diam, mereka akan terus bergerak untuk merealisasikan impiannya, inilah salah satu peringatan Keras Denny Siregar kepada Jokowi Berikut tulisannya:

Saya sungguh tidak percaya bahwa HTI diam saja ketika mereka dibubarkan. Baju boleh berganti, tetapi ideologi mereka tetap terjaga dengan baik. Jika mereka tiarap dulu untuk sekian lama, itu lebih baik. Tapi bahayanya ketika mereka berkoalisi dengan banyak pihak yang punya kepentingan yang sama, menjatuhkan Jokowi.

PAKDE, JANGAN ABAI DENGAN SITUASI INI

Jujur, saya agak ngeri melihat rasa percaya diri yang berlebihan dari para pejabat pemerintah menyikapi situasi pasca keluarnya Perppu pembubaran Ormas. (Baca: 5 Step Kelompok Radikal dan HTI Hancurkan Sebuah Negara)

Salah satu pejabat yang berlatar-belakang militer ketika saya tanya, “Apakah sudah siap dengan dampak dari pembubaran HTI ketika mereka akhirnya bergabung dengan ormas radikal lainnya?”.

Jawabnya sigap penuh semangat, “Kita sudah menggebuk mereka. Kalau mereka muncul lagi dengan baju lain, ya kita gebuk lagi”.

Duh, saya agak trauma dengar kata “gebuk” seakan-akan itu adalah solusi efektif.

Masih teringat jelas kegagalan orde baru menangani masalah ketika main gebuk di Papua dan Aceh dengan DOM – Daerah Operasi Militernya. Bukannya masalah selesai malah memunculkan separatis-separatis baru dengan nama OPM dan GAM. (Baca: HTI PEMBERONTAK?)

Gerakan separatis ini malah memunculkan simpati rakyat bahkan dunia internasional, karena mereka bergerak juga mencari simpati disana.

Ada satu lagi pejabat partai yang malah menolak ketika saya mengatakan bahwa kelompok-kelompok Islam radikal berkumpul di masjid-masjid pemerintahan dan gedung perkantoran.

Dengan pede-nya ia berkata, “Tidak mungkin mereka berada di situ. Kalau ada saya pasti tahu”.

Seakan peristiwa Pilgub DKI kemarin tidak memberikan pelajaran sama sekali bahwa mereka menampakkan hidungnya justru ketika ada momen. Dan kita melihat, betapa mengerikan ketika mereka bergerak. Bahkan saudara seagama mereka pun dihajar ketika bertentangan..

Kenapa bisa mereka berpandangan seperti itu?

Karena sudah merasa aman dan mengontrol penuh situasi. Perasaan percaya diri berlebihan ini menjadikan mereka abai. (Baca: Video Gus Sholah Semprot HTI, Mendirikan Khilafah Akan Hancurkan Negara)

Saya sungguh tidak percaya bahwa HTI diam saja ketika mereka dibubarkan. Baju boleh berganti, tetapi ideologi mereka tetap terjaga dengan baik.

Jika mereka tiarap dulu untuk sekian lama, itu lebih baik. Tapi bahayanya ketika mereka berkoalisi dengan banyak pihak yang punya kepentingan yang sama, menjatuhkan Jokowi.

Sampai sekarang saya belum melihat, bagaimana pemerintah memikirkan dampak yang terjadi ketika mereka dengan tegas mengeluarkan Perppu pembubaran ormas radikal. Pemerintah terlalu percaya diri dengan kekuatannya, dengan kemampuan lobbynya, ketika menghadapi aksi 411 dan 212.

Tidak terlihat bagaimana mereka mempunyai program-program untuk menangani dampak dari keluarnya Perppu ini, baik secara jangka pendek maupun jangka panjang.

Situasi yang mendadak tenang dan tanpa perlawanan berarti seperti sekarang ini, malah memunculkan sinyal waspada buat saya. Seperti sesudah gempa besar terjadi, air laut mendadak surut, situasipun hening terdiam. Dan tiba-tiba gelombang Tsunami menghajar seluruh bagian bumi.

Pergerakan bawah tanah sedang berjalan sekarang, mengumpulkan kekuatan-kekuatan untuk melawan situasi yang tidak berpihak pada mereka. (Baca: “Tamparan Keras” Ahmed Zein Mottaqien kepada HTI)

Kapan kita bisa belajar dari kesalahan ? Bahwa terlalu percaya diri adalah kekalahan terbesar?

Suriah dulu juga abai terhadap situasi dinegaranya yang dianggap biasa saja. Filipina juga abai terhadap gerakan di Marawi. Dan lihat apa yang terjadi ketika Tsunami itu datang.

Sudah waktunya pemerintah mulai memikirkan jaring pengaman yang kuat. Ajak rakyat untuk berfikir bersama dan pemerintah menjadi fasilitatornya..

Lebih baik berfikiran terburuk sambil mengerjakan sesuatu yang baik daripada sebaliknya.

Pemerintah masih asik dengan menghadirkan ulama-ulama sepuh, sedangkan gerakan lawan dibangun oleh kekuatan-kekuatan muda. Semoga semuanya baik-baik saja. Tapi ah, kopi saya pahit sekali malam ini. (SFA/DennySiregar)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: