Analisis

Helmi Aditya: Apa Efek Pembebasan Aleppo Bagi NATO, AS dan Sekutunya?

Kamis, 15 Desember 2016,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Analisa yang cukup menarik yang dipaparkan oleh pengamat muda Timur Tengah Helmi Aditya dalam akun facebooknya membongkar apa efek pembebasan Aleppo bagi NATO, AS dan Sekutunya, berikut tulisannya:

Mau tahu betapa masifnya efek pembebasan Aleppo bagi AS, NATO dan Sekutunya?

Bersiaplah untuk gelombang propaganda fitnah, bejibun ‘last call’ yang berceloteh tanpa bukti, yang bahkan tidak bisa diverifikasi apakah pemerannya warga Aleppo atau bukan. Ambil contoh Bilal Abdul Kareem, yang lahir dan tumbuh besar di AS.

Beragam sumber anonim akan menghiasi berita-berita, membeberkan kesaksian tanpa bukti tentang bagaimana tentara Syria mengeksekusi warga sipil, dan bahkan memperkosa mereka. Beragam headline akan mengudara, menyelipkan kata ‘diduga’ dalam setiap tuduhan yang konsisten, mempermainkan persepsi publik. Beragam gambar pembantaian akan di daur ulang, dengan mengambil caption ‘Aleppo’.

Jumlah 250.000 warga sipil yang dinyatakan terjebak di Aleppo timur oleh Media Mainstream (MSM), dari dulu ditanggapi Syria dengan serius. Dan dengan modal itu pula lah, kehati-hatian dalam operasi militer menyebabkan proses pembebasan Aleppo berjalan begitu lama. (Baca: Menhan Rusia Bantah Laporan 250.000 Warga yang Terperangkap di Aleppo)

Namun, lagi-lagi, saya harus bersimpati pada SAA dan koalisinya.

Distrik demi distrik mereka bebaskan dengan bertaruh nyawa, dan kini, terhitung hanya 80.000+ sipil yang berhasil dievakuasi dari Aleppo timur. Bahkan setelah mereka membolak-balik gedung demi gedung kosong yang hancur, setiap lubang basemen dan got-got yang tertutup reruntuhan.

Kemana yang lain?

Itulah masalahnya. Sekarang terungkap bahwa teroris dan rekannya di korporasi media telah menyiapkan angka ini untuk memainkan opini publik pasca pembebasan Aleppo.

Kini, negara pendukung ‘mujahidin’ seperti AS dan Uni Eropa, mulai menghembuskan propaganda bahwa Assad, membunuh 170.000 penduduk yang lain dalam pembebasan Aleppo. (Baca: Assad; Kemenangan Aleppo Langkah Besar Untuk Akhiri Perang Suriah)

170.000. Let that sink in.

Bagaimana menyembunyikan mayat dan kejahatan dalam skala sebesar itu di area yang hanya seluas 60 km persegi?

Does it even make sense?

Dulu, reporter dan jurnalis media umum tak ada yang berani memasuki Aleppo timur, karena tiadanya jaminan bahwa ‘pemberontak’ tak akan menculik atau membunuh mereka.

Kini, Aleppo sepenuhnya terbebas, dan media dari beragam negara dengan leluasa wira-wiri meliput. Dimanakah 170.000 warga sipil, atau puluhan bahkan ratusan anak-istri teroris yang dibunuh tentara Syria?

Manusia yang berakal sehat pasti menolaknya. Namun corong propaganda teroris takkan bergeming untuk sementara waktu, dan akan berusaha menggodok isu murahan ini demi menyudutkan Assad, dan jika mungkin, mendorong intervensi militer secara terbuka.

Ban Ki Moon, pimpinan PBB yang berulangkali menghalangi bantuan Rusia yang ditujukan ke Aleppo, kini berusaha meningkatkan agitasi dunia berdasar klaim pembantaian tanpa bukti.

Padahal, baru tiga tahun yang lalu PBB mengakui bahwa serangan gas Sarin yang terjadi di Ghouta, berasal dari wilayah yang dikuasai ‘pemberontak’, namun MSM masih saja memikul hal ini sebagai salah satu ‘kejahatan’ Assad.

Quick trivia: Serangan gas Sarin di Ghouta terjadi persis saat pemeriksa senjata kimia dari PBB mendarat di Damaskus.

Dan biarkan saya mengingatkan kita tentang sesuatu. There is no WMD in Iraq, hingga detik ini.

Namun, mesin-mesin propaganda sudah dihidupkan, roda-roda berita sudah digenjot. Kalah di perang sesungguhnya, AS dan sekutunya mencoba mempertahankan Aleppo melalui permainan media.

Ada beberapa hal sederhana yang bisa dipahami dalam jurnalisme. Mengapa MSM menggunakan istilah ‘Fall of Aleppo’ atau Jatuhnya Aleppo? (Baca: Menlu AS dan Rusia Bersitegang Soal Aleppo)

Aleppo adalah bagian dari pemerintahan Syria yang sah, dan suka atau tidak, Syria telah merebutnya kembali. Lalu mengapa menggunakan istilah ‘Fall’, ketimbang ‘Recapture’, misalnya, seperti yang mereka gunakan di Palmyra?

Saat Jerman kalah pada PD II, pemerintahnya menyebut peristiwa itu dengan ‘Fall of Berlin’. Istilah ‘Fall’ selalu datang dari pemerintah yang sah, bukan pemberontak atau kubu oposisi (dalam hal ini Sekutu).

Have you find the dots?

Bahkan Perancis, negeri ‘Je Suis everything’, menanggapi bebasnya Aleppo dari pemberontak dan teroris bayaran -teroris yang sama yang membunuh warganya sendiri- dengan mematikan lampu di menara Eiffel. (Baca: Putin Ancam AS dan “Jihadis” Aleppo, Tinggalkan Kota atau Mati Sebagai Teroris”)

Seharusnya ini menjadi perlambang dan pengingat yang sempurna bagi kita.

Tadi malam, menara Eiffel sama hitamnya seperti hati pemimpin dan sekutunya, dan sama hitamnya seperti bendera Daesh. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: