Fokus

Harga BBM Naik, Eko Kuntadhi ‘Semprot’ Para Pembela Orang Kaya dan SPBU Asing

Harga BBM Non-Subsidi Naik

JAKARTA – Harga Pertamax naik, orang-orang pada menuding Pertamina naikin harga tanpa konfirmasi. Mereka kesurupan mengkritisi perusahaan minyak negara itu agar mau menjual rugi.

Sebab Pertamina adalah BUMN. Makanya mereka marah jika harga Pertamax, Solar Dex, dan sejenisnya dinaikkan. Mereka nyinyir. Mereka gak ikhlas perusahaan negara menjual harga BBM dengan harga pasar.

Baca: Eko Kuntadhi: Jokowi Tegakkan Keadilan Sosial Bagi Rakyat Indonesia

Kita tahu Pertamax adalah BBM non-subsidi. Sejak dulu harganya dibiarkan sesuai dengan harga pasar. Kalau harga minyak mentah dunia naik, ya harga Pertamax ikut naik. Kalau turun, ya ikutan turun. Biasa saja.

Tapi para pembenci negeri ini berteriak menuntut harga BBM non-subsidi tidak naik. Mereka menuding pemerintah. Pokoknya apa yang dilakukan Pertamina, karena perusahaan itu milik Indonesia, pasti salah. Pasti gak bener.

Padahal selain SPBU Pertamina di Indonesia beroperasi juga SPBU Shell atau Total. Perusahaan asing itu biasa saja menentukan harga BBM-nya sesuai mekanisme ekonomi. Kalau memang harga minyak dunia naik, mereka tinggal naikkan harganya. Kalau turun, tinggal diturunkan.

Gak ada yang ribut sama sekali.

Kenapa gak ribut? Karena Shell dan Total adalah perusahaan asing. Mereka boleh beroperasi di Indonesia untuk dapat untung. Kalau mereka membeli bahan baku Rp100, lalu menjual lagi seharga Rp 120, itu wajar. Namanya dagang, pasti cari untung.

Baca: Sejahterakan Papua dan Papua Barat Kado Terindah dari Jokowi Untuk Indonesia

Berbeda dengan Pertamina. Harga bahan bakunya sama Rp 100, tapi ketika mau dijual Rp 115, sebagian orang dengan gaya pembela rakyat pada kebakaran celana dalam. Mereka protes sampe urat lehernya nail ke wajah.

Kenapa mereka gak protes harga BBM Shell atau Total? Sebab itu adalah perusahaan asing. Kalau dapat untung dari mengeruk duit pengendara Indonesia, hukumnya gak apa-apa.

Bagaimana dengan Pertamina? Ini adalah BUMN. Gak boleh untung. Kalau bisa rugi dan bangkrut. Kalau bisa diprotes, ya protes terus. Ada BBM non-subsidi, harganya gak boleh naik. Terus jika harga minyak dunia naik, gimana? Jika Pertamax gak dinaikkan, artinya malah Pertamax berubah jadi BBM subsidi?

Jadi pemerintah harus mensubsidi mobil mewah yang setiap hari keluyuran memenuhi jalanan kota besar? Konyol, kan?

Anehnya yang paling keras protes ke Pertamina adalah bed**-bed**yang selama ini teriak anti asing. Tapi sama sekali gak ada suaranya mengenai harga BBM Shell dan Total. Pertamax adalah BBM non-subsidi. Jadi harganya mengikuti harga pasar. Posisinya sama dengan harga BBM yang dijual Shell dan Total. Gak ada bedanya.

Baca: Yusuf Muhammad: Pembenci Sibuk Fitnah, Jokowi Sibuk Kerja Nyata

Berbeda dengan Premium. Sekalipun harga minyak dunia naik, harga jualnya tetap sama. Sebab pemerintah menambal selisih harganya. Itu dinamakan subsidi. Semakin tinggi harga minyak dunia, semakin besar subsidi untuk Premium.

Sialannya. Ketika harga minyak dunia naik, sudah jumlah subsidi Premium meningkat. Eh, harga Pertamax gak boleh dinaikan. Ini sih, bukan kritis namanya. Tapi kesurupan.

Padahal pembeli Pertamax rata-rata adalah masyarakat menengah ke atas. Mobil-mobil mewah. Ngapain sok, diurusin. Mereka mampu kok. Iya, sih. Ini cuma sekadar gaya-gayaan aja. Sok kritis. Sok peduli harga Pertamax naik. Padahal ketika ke SPBU yang dicari adalah Premium atau paling banter Pertalite. Teriakkan mereka itu adalah pembelaan pada orang-orang kaya dan SPBU asing. Tapi ngakunya anti asing. Kampret, kan?. (SFA)

Sumber: EkoKuntadhi.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: