Fokus

Gus Mus: Ulama Kok Mimpin Demo, Ini Aneh Sekali

Jum’at, 21 April 2017 – 17.25 Wib,

SALAFYNEWS.COM, SEMARANG – Ulama kharismatik berasal dari Rembang KH Mustofa atau Gus Mus mengomentari tentang banyaknya sebutan ustaz atau ulama yang mendadak melekat pada diri seorang. Gelar ulama sesungguhnya mencerminkan perilaku yang baik dan saleh.

Gus Mus mengatakan, seseorang yang dipanggil ulama harus bisa menunjukkan kesalahen pribadinya. Ulama yang baik, yang punya ukuran nilai kepantasan. (Baca: Agus Sunyoto; Wahabi Singkirkan Wali Songo)

“Ulama kok sobo (main) pendopo itu apa, apa mau ikut tender? Ulama kok mimpin demo. Ini aneh sekali,” kritik Gus Mus, saat menjadi narasumber anti hoax di Semarang, Kamis (20/4/2017).

“Jadi ada kepantasan laki-laki itu apa, bupati itu apa. Dari nurani saja sudah cukup, cukup gak (mereka yang demo) dipanggil kiai,” kata mantan Rais Am PBNU ini.

Gus Mus menegaskan, ukuran kepantasan untuk seseorang disebut ulama penting adanya. Hal itu karena masyarakat tidak tahu mental dari seseorang.

Pengasuh pondok pesantren Raudlatul Tholibin Leteh Rembang ini juga mengkritik relasi antara ulama dan umara (pemerintah). Ukuran antara pemerintah dan umara harus dibedakan. Yang baik menurut ulama, kata Gus Mus, belum tentu baik menurut Pemerintah. (Baca: Ini, Dua Jenis Kelompok Ekstrim Berbahaya Versi Rais Aam PBNU)

Jika konsep kesalehan diberikan kepada ulama maka polisi tidak mendapat porsi kesalehan. “Kesalehan pejabat, ulama, itu beda-beda. Kalau gubernur beritikaf di masjid sampai Dzuhur, tiap malam datangi pengajian, itu buruk sekali. Itu bukan saleh,” tambahnya.

Karena itu, Gus Mus minta agar tugas pemerintah dan ulama tidak tumpang tindih. Pembagian tugas itu perlu diperhatikan secara seksama.

“Di era orde baru, ada istilah ulama dan umara. Kalau ulama baik, umara baik itu baik, tapi kalau baik-baikan itu rusak. Tentu baik-baikan dalam artian yang buruk,” tambahnya. (Baca: Denny Siregar: Ahok Pintu Masuk Kelompok Radikal yang Ingin Suriahkan Indonesia)

“Ulama misalnya diajak mencarikan dalil. Ayatnya pasti itu-itu saja, dulu dicari ayat revolusi pada zaman Pak Karno, lalu ayat pembangunan zaman Pak Harto. Padahal ayat tidak bicara revolusi, tapi pembangunan manusia secara utuh,” tutupnya. (SFA)

Sumber: Kompas

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: