Analisis

GILA! Kelompok Radikal Gunakan Masjid Sebagai Sarana Intimidasi Warga

Jum’at, 24 Februari 2017 – 21.37 Wib,

SALAFYNEWS.COM, JAKARTA – Pilgub DKI Jakarta putaran kedua semakin menyesakkan dada, khususnya apa yang telah dilakukan kelompok-kelompok yang haus kekuasaan dan yang bergabung dengan kelompok khilafah saat ini telah gunakan masjid sebagai sarana intimidasi politiknya, salah satu pegiat sosial media Eko Kuntadhi memberikan sebuah analisa menarik, berikut tulisannya:

Kampanye SARA

Kenapa saya memposting isu ini terus menerus? Karena bagi saya kedegilan seperti ini makin tidak lucu. Makin memuakkan. (Baca: Eko Kuntadhi Telanjangi Kebusukan di Balik Gerakan Save Aleppo)

Hanya untuk kepentingan politik, mereka menolak kewajiban yang Allah SWT perintahkan. Kewajibannya kepada sesama muslim untuk mengurus jenazah tetangganya. Mereka tunggangi masjid untuk kepentingan politik. Mereka menjadikan masjid sebagai sarana intimidasi kepada yang berbeda pandangan politik.

Mereka lekatkan sebutan buruk (munafiq) hanya karena orang memiliki pilihan berbeda. Dan kita tahu, itu semua dilakukan hanya untuk mengintimidasi dan memenangkan Cagub pilihannya. Saat sekarang ini, spanduk tersebut nilainya tidak lebih dari selebaran kampanye Pilgub. Tapi itu dipasang di masjid. Di serambi rumah Allah SWT. (Baca: Eko Kuntadhi: Diam Sudah Gak Musim, Inilah Serangan Bahaya Bagi Bangsa)

Dengan kata lain, mereka menstempel seseorang sebagai munafik hanya karena tidak mau memilih Anies dan Sandi dalam Pilkada? Caelah, aneh banget ukuran seperti itu.

Bisakah kita bayangkan jika orang-orang seperti ini memiliki kekuasaan politik?

Baru jadi pengurus masjid saja sudah merasa memiliki kunci surga. Padahal pembangunan masjid itu didapat dari dana seluruh umat. Sering juga ‘ngocrek’ di jalan, bahkan tidak pernah bertanya apa agama mereka yang menyumbang. Operasionalnya juga meminta dari umat. Bukan dari kocek mereka. Lalu apa hak mereka menguasainya untuk kepentingannya sendiri? Apa hak mereka ‘mengusir’ orang-orang yang berbeda pandangan politik keluar dari tempat bersujud?

Tapi saya yakin, masih banyak masjid yang adem. Masjid yang berfungsi memayungi seluruh jemaah tanpa memandang ras, tingkat ekonomi, kepentingan sosial dan afiliasi politik. Masjid-masjid yang ketika kita memasukinya, serasa bahwa beragama memang memberi keteduhan. (Baca: Suriah Hancur Karena Isu Agama Dibenturkan dengan Pemerintah dan Kebhinekaan)

Masih banyak pengurus masjid yang sadar, bahwa yang sedang diurusnya itu adalah rumah Allah. Tempat dimana semua umat Islam dapat menempelkan keningnya ke lantai saat bersujud. Tempat dimana semua perbedaan tidak lagi dipersoalkan.

Sebab ketika datang ke masjid, setiap orang harus melepaskan status dan pangkat. Siapapun dia, ketika di dalam masjid, dia hanya seorang hamba. Bukan polisi, bukan jaksa, bukan politisi, bukan pengusaha, tukang ojek, bukan pengangguran. Bukan juga habaib dan ulama. Bukan kaya atau miskin. Di dalam masjid, manusia hanya hamba dari Tuhannya.

Memasuki masjid sejatinya adalah memasuki ruang kemanusiaan. Memasuki areal dimana nama Allah SWT dan Rasulnya disebut dengan perasaan takjub. Duduk di masjid, semestinya yang pertama kita rasakan adalah sifat Rahman dan Rahimnya Allah. Sifat penyayangnya Rasulullah. Sifat rahmatan lil alaminnya,

Sebab di masjid, di rumah Allah, sesungguhnya kita semua adalah tamu. Kita adalah musafir kehausan yang berharap disuguhkan segelas air bening oleh Sang Pemilik Rumah.

Jika ada yang merasa paling berhak atas masjid, dia cuma sedang berusaha merampas rumah itu dari pemilik sejatinya. (SFA)

Sumber: EkoKuntadhi.com

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: