Analisis

Geram Kepada Suriah-Iran, Israel Akan Bombardir Istana Assad, Beranikah?

Kamis, 31 Agustus 2017 – 10.32 Wib,

SALAFYNEWS.COM, TIMUR TENGAH – Jika kita ingin memahami “ketakutan” yang dirasakan elit penguasa di negara pendudukan Israel akhir-akhir ini, hingga melakukan ancaman terbuka yang akan mengebom istana Presiden Bashar Assad di Damaskus dan juga pertemuan militer Iran di Suriah, kita harus mengikuti penjelasan yang diungkapkan Robert Fort, seorang duta besar AS di Suriah dan salah satu pendukung senior dari revolusi Suriah dan para pendukungnya.

Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar The National, duta besar Ford mengatakan bahwa presiden Assad telah menang dan peperangan yang dilancarkan untuk menggulingkan dirinya dan pemerintahannya sejak 7 tahun lalu telah mendekati akhirnya.

Baca: WOW! Iran Akan Rilis Bukti Kuat Kerjasama AS dengan ISIS di Suriah dan Irak

Robert Ford yang saat ini merupakan rekan di Institut Timur Tengah di Washington mengatakan bahwa “presiden Assad tidak bertanggung jawab atas apa yang terjadi di Suriah dan pemerintahan masa depannya tidak akan menerima sistem pemerintah daerah dan negara keamanan tetap ada dan tidak akan berubah”.

Sementara itu, analisa duta besar Ford menjelaskan kepada kita dan kepada orang lain tentang ketakutan yang begitu mengkhawatirkan yang menyebabkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu  melakukan perjalanan ke Sochi untuk bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin seminggu yang lalu dan memintanya untuk menyelamatkan Israel dan berdiri di sisi Israel untuk menghadapi perubahan strategis yang melanda Suriah akhir-akhir ini dan menghadapi kebangkitan Iran sebagai negara adikuasa.

Netanyahu meminta dari Presiden Putin dan secara terbuka menegaskan kembali kepada Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres yang mengunjungi tel Aviv dua hari yang lalu yakni agar mencegah pengaruh Iran masuk ke dalam Suriah dan untuk niat Iran mendirikan pabrik rudal presisi di utara Suriah dan di Lebanon selatan yang merupakan markas Hizbullah Lebanon dan pesawat-pesawat Israel juga akan mengebom istana Assad dan markas para ahli militer disana.

Baca: Israel dan AS Kompak Tendang Iran di Suriah dan Kawasan Timur Tengah

Presiden Putin, menurut laporan pers Ibrani yang dikonfirmasi oleh surat kabar Pravda yang dekat dengan Kremlin mengatakan bahwa Putin terlihat tenang menghadapi keruntuhan dan histeria yang terlihat dari tamunya Israel dan ia menanggapi tamunya ini dengan cara yang lebih dingin dengan mengatakan bahwa “Iran adalah sekutu strategis Rusia di Timur Tengah dan kita tidak bisa menghentikan koalisi ini hanya karena Israel dan sesungguhnya Moskow bergantung pada koalisi bersama Iran dalam menghadapi koalisi NATO Arab-Islam yang dipimpin oleh Arab Saudi dan juga kerajaan-kerajaan Arab dan dikelola oleh AS dari Washington”.  Dan sikap presiden Putin ini seperti menuangkan garam pada luka ketakutan Israel ketika ia menekankan bahwa “Moskow akan terus memperkuat peran Iran di Suriah, menstabilkan kekuasaan presiden Assad dan mepersenjatai Hizbullah”.

Kami tidak tahu betul seruan Netanyahu kepada Moskow dan PBB untuk mencegah Iran mendirikan pabrik rudal di Suriah dan Lebanon dan memaksanya untuk menarik pasukannya, apakah karena Netanyahu ingin Suriah menjadi tempat terbuka bagi pesawat-pesawat Israel untuk membombardir sasarannya tanpa memiliki kemampuan membela diri?

Lalu apakah Suriah dan Iran sudah mengajukan keberatan dengan kubah besi Israel dan sistem rudal yang dibiayai dari kas wajib pajak AS dan apakah Moskow telah memprotes pengiriman puluhan F-35 terbaru di gudang senjata militer yang tidak terpantau oleh radar.

Baca: CNN Sebarkan Propaganda Barat dan Berita Palsu Tentang Iran dan Suriah

Sungguh hal ini adalah puncak arogansi dan kesombongan, dan presiden Putin benar-benar tidak menanggapi mereka dan tidak bekerja untuk Netanyahu dan tidak menerima perintah darinya. Rusia yang hebat dan para ahlinya memiliki pengalaman lapangan yang sangat tinggi di bidang kebijakan pertahanan dan strategi, dan Rusia tentu tidak membutuhkan Netanyahu atau selainnya untuk mengajari mereka dan memberitahukan apa yang harus dan tidak harus dilakukan atau bagaimana mengelola kebijakan luar negeri dan kepentingan mereka di Timur Tengah.

Rusia tidak berdiri di samping Israel atau selainnya, seperti yang diminta Netanyahu sesuai kepentingan Israel. Hal yang tidak dapat diabaikan atau dilupakan yakni Israel adalah sekutu terdekat Washington di kawasan dan di dunia.

Sementara itu, kami merasa khawatir nada retorika ancaman yang jelas diungkapkan oleh Netanyahu, baik selama pertemuannya dengan Putin atau dengan Sekjen PBB hanyalah sebuah awal dari rencana Israel untuk menyerang Suriah dan Lebanon atau keduanya dengan dalih Iran mengancam keamanan negaranya dan agresi ini hanyalah upaya pembelaan diri dalam menghadapi ancaman Iran.

Baca: Lavrov: Iran Pemain Kuat dalam Memerangi Teroris di Suriah

Lantas apa yang membuat kita tidak mengsampingkan hal ini adalah bahwa tiang gantungan kehancuran telah dekat dengan leher Netanyahu dan hal ini dapat mendorongnya untuk mengobarkan perang untuk mengalihkan perhatian dari investigasi yang akan menghukumnya atau menuduhnya, melengserkannya dari jabatannya, dan membawanya ke penjara. Bukankah Ehud Olmert, mantan Perdana Menteri Israel juga menciptakan skema yang sama saat dia menyerang Lebanon pada bulan Juli 2006?.

Israel tengah berada dalam keadaan panik dan takut dan Netanyahu telah kehilangan kesabarannya karena tengah berada di ambang kehancuran. Dan sabuk Iran yang membentang dari Mazar E-Sharif di Afghanistan hingga ke pinggiran selatan Beirut di tepi Mediterania semakin menguat dan perang di Suriah telah mendekati titik akhir dengan gerak yang cepat.

Akankah Netanyahu berani berlari ke depan, membom Suriah dan istana presidennya serta pasukan Iran di Suriah? Sekiranya perlu diingat bahwa dua setengah tahun setelah pesawat -pesawat dari agresi “paket badai” yang merupakan pesawat-pesawat AS tidak lantas membuat negara miskin Yaman menyerah. Lalu apakah Israel berfikir pesawat-pesawatnya akan berhasil memaksa Suriah menyerah yang mana tentaranya telah bertahan selama lebih dari 7 tahun atau membuat Iran yang memiliki lebih dari 200.000 rudal menyerah atau lebih dari itu, menaklukkan lebih dari 100.000 rudal Hizbullah.

Sepertinya kita perlu meminta Netanyahu untuk menyebutkan satu perang yang berhasil dimenangkan pasukannya di Lebanon. Bukankah tentara Israel ini telah mundur di Lebanon selatan secara sepihak pada tahun 2000? Lalu pada tahun 2006?.

Kita harus menyadari bahwa bukan hanya senjata modern saja yang dapat memenangkan peperangan, tetapi juga kemauan kuat untuk berperang sampai mati dan pemimpin yang memapu mengatur peperangan secara efektif. Dan Anda harus menyadari bahwa ketiga elemen ini dimiliki oleh rakyat Suriah, Iran dan Hizbullah beserta sekutu-sekutu mereka. Sekali lagi katakanlah, biarkan Netanyahu menceritakan keberuntungannya dan hari-harinya kepada kita. (SFA)

Sumber: ALM

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: