Headline News

FINAL! PKB-PDIP Usung Gus Ipul dan Bupati Banyuwangi Maju Pilgub Jatim

Minggu, 15 Oktober 2017 – 15.15 Wib,

SALAFYNEWS.COM, SURABAYA – Final, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia (PDIP) resmi usung Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas (PKB) dalam Pilgub Jatim 2018. Ini pasangan yang sepertinya berpeluang besar untuk menang. Tapi jangan dilupakan fakta-fakta ‘hitam’ di belakangnya.

Baca: Manipulasi Agama dalam Pilkada DKI Jakarta

Jika ingin benar-benar memenangi Pilgub Jatim, Gus Ipul-Anas harus mampu mengatasi minimal empat problem. Pertama, pasangan ini berlatar belakang kultur yang sama, yakni santri. Kedua, calon dari PDIP dan PKB selalu kalah dalam Pilgub Jatim sebelumnya, yakni 2008 dan 2013. Ketiga, calon PDIP baru saja kalah tipis dalam 2 pilgub di pulau Jawa, yakni di Pilgub Banten dan Pilgub DKI Jakarta. Keempat, calon dari PDIP dan PKB kerap kedodoran dalam perang isu di media sosial.

Masyarakat Jawa Timur terbagi dalam 2 kultur (budaya) yang sama besar, Mataraman dan Santri. Kultur Mataraman membentang mulai dari Ngawi, Magetan, Madiun, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Kediri, dan lain-lain. Kultur Santri mendominasi kehidupan masyarakat di Madura, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, Lumajang, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi, dan lain sebagainya.

Problemnya adalah, baik Gus Ipul maupun Anas, keduanya berlatar kultur Santri. Gus Ipul keturunan pendiri dari pondok pesantren Denanyar Jombang. Saat ini, Gus Ipul juga masuk dalam jajaran pengurus PBNU.

Walau bukan keturunan pendiri pondok pesantren, Anas hidup dalam keluarga berlatar belakang Santri pula. Sebelum menjadi Bupati Banyuwangi, Anas adalah anggota DPR RI dari PKB. Awal mula maju bupati pun, Anas didukung oleh kalangan kiai. Hanya belakangan saja Anas lebih dekat dengan kaum Nasionalis, yaitu menjadi kader PDI Perjuangan.

Dari latar belakang keduanya itu, bisa jadi, pasangan ini kesulitan untuk mendulang suara besar di wilayah Mataraman. Masyarakat dengan kultur Mataraman, secara logika, mereka lebih condong memilih calon yang merepresentasikan budaya Jawa. Gus Ipul-Anas perlu kerja keras untuk membalik logika tradisional ini.

Baca: Politisasi Agama Cara Israel, Teroris & HTI Rampas Hak Orang Lain

Rekaman dua Pilgub Jatim juga menorehkan prestasi kurang bagus untuk PKB dan PDI Perjungan. Calon yang diusung dua partai besar di Jatim ini selalu kalah. Pilgub 2008, PDIP mengusung calon gubernur Soetjipto dan PKB mengusung calon gubernur Ahmadi. Hasilnya bisa dibilang cukup buruk, sebab keduanya gagal lolos untuk maju ke putaran dua.

Kekalahan calon dari PKB dan PDI Perjuangan terulang di Pilgub Jatim 2013. Lagi-lagi pemenangnya calon gubernur Soekarwo yang dikomandani Partai Demokrat.

Dari fakta itu, perolehan suara di Pemilihan Umum atau Pemilihan Legislatif tidak berbanding lurus dengan perolehan suara di Pemilihan Gubernur. Dan jika situasi psikologis pemilih tidak berubah atau tidak diubah, peluang calon dari PKB dan PDI Perjuangan sangatlah rawan.

Kondisi politik dua Pemilihan Gubernur di pulau Jawa juga kurang mendukung bagi calon PDI Perjuangan. Pada Pilkada serentak awal tahun 2017 lalu, PDI Perjuangan kalah di Pilgub Banten dan Pilgub DKI. Padahal elektabilitas dan tingkat popularitas calonnya cukup mumpuni, Rano Karno di Banten dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di DKI Jakarta.

Dalam beberapa survei belakangan, nama Gus Ipul hampir selalu dalam posisi teratas. Bahkan, untuk posisi calon wakil gubernur, nama Anas selalu menjadi favorit. Tetapi belajar dari berbagai ajang pemilihan kepala daerah, raja survei tidak selalu menang. Ibarat balapan MotoGP, kerap kali, mereka justru disalip di tikungan terakhir. Sehingga benar-benar tantangan tersendiri untuk selalu menjaga performa dan menjaga elektabilitas selalu tinggi sampai hari H coblosan.

Kegagalan calon dari PDI Perjuangan dan PKB sering kali karena kegagapan dalam pertarungan di media sosial. Seiring dengan kemajuan teknologi, smartphone bukan lagi barang mahal bagi masyarakat Indonesia, utamanya di Jawa. Sehingga fasilitas media sosial di smartphone juga kian akrab dengan kehidupan pribadi masyarakat, mulai dari pusat kota hingga pelosok desa.

Fakta lainnya, media sosial dimanfaatkan oleh orang yang bertanggung-jawab dan orang yang tidak bertanggung-jawab untuk memenangi pemilihan kepala daerah. Cara-cara yang digunakan kadang sopan kadang pula membabi-buta. Informasi valid bersandingan dengan informasi palsu (hoax). Ironisnya, kader-kader atau tim sukses dari PDI Perjungan dan PKB kerap kedodoran menyikapi pertarungan isu di medsos. Justru calon mereka sering menjadi sasaran tembak dari tim sukses calon lain.

Baca: Para Ulama Timur Tengah Marah Besar Saat Agama Dipolitisasi Untuk Picu Konflik

Fakta bagusnya untuk pasangan Gus Ipul-Anas, aparat kepolisian saat ini gencar membasmi hoax dan ujaran kebencian di media sosial. Beberapa pemilik akun yang diduga menjadikan hoax sebagai sumber ekonomi telah ditangkap. Salah satunya Saracen.

Kelompok Saracen diduga memperjual-belikan paket ujaran kebencian dan serangan blackcampaign. Dari kelompok inilah isu-isu hoax diternak lalu diviralkan. Dan ketika menjadi viral, hoax pun bisa berubah menjadi seakan-akan fakta atau diyakini sebagai kebenaran.

Penangkapan tokoh-tokoh Saracen diharapkan membuat keder pemilik akun-akun lain yang satu profesi. Atau setidaknya membuat cemas akun-akun lain yang suka iseng melempar isu bohong sekadar mencari sensasi. Oh iya, satu tokoh penting di medsos juga telah ditangkap dengan dugaan ujaran kebencian, dia adalah Jonru Ginting.

Semua berharap, kegencaran aparat kepolisian memerangi hoax dan ujaran kebencian di media sosial bisa membuat ajang pesta demokrasi pemilihan kepala daerah bisa lebih sejuk. Calon kepala daerah bisa lebih fokus untuk menjabarkan program. Sebaliknya, masyarakat bisa memilih calon yang tepat tanpa direcoki blackcampaign atau kampanye hitam. Kesejukan postingan medsos tentu saja menguntungkan semua calon, termasuk Gus Ipul – Anas.

Fakta lain yang mendukung buat kemenangan Gus Ipul – Anas adalah perbedaan karakter antara pemilih di Pilgub DKI Jakarta dengan di Pilgub Jatim.  Masyarakat di Jawa Timur tidak secair di Jakarta. Warga Jawa Timur masih sangat menaruh hormat pada tokoh-tokoh tertentu sehingga tidak terlalu mudah mengubah pilihan politik hanya karena informasi di medsos. Misalnya di wilayah Tapal Kuda, masyarakatnya sangat hormat kepada kiai. Pilihan politik masyarakat pun kerap mengikut pada pilihan politik kiai.

Gus Ipul sudah mengantongi modal politik cemerlang saat ini. Sebanyak 21 kiai sepuh Jawa Timur telah tanda tangan dukungan untuk Gus Ipul.

Jangan dilupakan pula, walau tidak berangkat dari PDI Perjuangan dan PKB, Gus Ipul adalah pendamping setia Soekarwo dalam memenangi 2 Pilgub Jatim sebelumnya. Itu artinya, Gus Ipul telah memahami cara-cara memenangi Pilgub Jatim. Tahu strategi mendulang suara pemilih. Hapal dengan kantong-kantong suara di Jawa Timur.

PR berat bagi Gus Ipul-Anas adalah cara mendulang suara di Mataraman. Di wilayah ini, nasib Gus Ipul benar-benar ditentukan oleh maksimalitas mesin partai PDI Perjuangan. Jika mesin partai loyo seperti Pilgub Jatim sebelumnya, Gus Ipul siap-siap saja melupakan mimpinya untuk menjadi Gubernur.

Tetapi beruntung bagi Gus Ipul, PDI Perjuangan tampaknya kali ini mempersiapkan diri lebih serius. Terbukti, Ketua Umum Megawati Soekarno Putri mengundang seluruh ketua dan sekretaris DPC seluruh Jawa Timur dalam deklarasi pencalonan Gus Ipul – Anas. Megawati juga memanggil kepala daerah di Jawa Timur yang diusung oleh PDI Perjuangan. Di antaranyua Bupati Trenggalek Emil Dardak dan Bupati Ngawi Kanang Budi. Megawati menuntut komitmen tinggi dan kerja keras semua kadernya untuk memenangkan Gus Ipul – Anas.

Setidaknya ada 2 alasan Megawati lebih serius menggarap Pilgub Jatim 2018. Pertama, secara kepartaian, PDI Perjuangan sudah kalah di Pilgub DKI Jakarta dan Banten. Jika PDI Perjuangan kalah lagi di Jawa Timur, prestise partai akan menjadi anjlok. Sebaliknya, jika menang, kinerja partai lebih mudah dalam menghadapi Pemilu 2019.

Kedua, Megawati dalam beberapa kesempatan menuturkan bahwa dia dititipi Gus Dur (Abdurrahman Wahid) untuk ngopeni Gus Ipul.  Sedangkan Gus Dur, oleh Megawati, telah dianggap seperti saudara kandung.

“Gus Ipul ini anak yang hilang, pernah jadi Menteri PDT, pernah jadi anggota DPR dari PDIP. Saya panggilnya Cipul. Namanya adalah Drs H Saifullah Yusuf. Kalau calon wakilnya, anaknya lincah, generasi milenial. Namanya Abdullah Azwar Anas,” tutur Megawati saat deklarasi hari ini, Minggu (15/10/2017.

Di luar faktor-faktor eksternal tersebut, satu faktor yang paling utama adalah kapasitas dari Gus Ipul dan Anas sendiri. Keduanya harus meyakinkan para pemilik suara bahwa mereka layak untuk memimpin Jawa Timur dalam 5 tahun ke depan. Namun melihat dari latar belakang dan kapasitas, keduanya memang layak untuk dipilih.

Gus Ipul. Sosok pria kelahiran Pasuruan (28 Agustus 1964) ini sudah tidak asing bagi ranah politik Jawa Timur, bahkan nasional. Gus Ipul termasuk politisi ulung. Sebelum menjadi Wakil Gubernur Jatim 2 periode, dia tercatat pernah berkiprah di PDI Perjuangan maupun PKB. Gus Ipul hampir selalu dipercaya oleh semua rezim penguasa. Di masa pemerintahan Gus Dur –Megawati, Gus Ipul memangku posisi anggota DPR dari PDI Perjuangan. Masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, Gus Ipul dipercaya menjabat sebagai Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal sejak Oktober 2004 hingga Mei 2007.

Salah satu kelebihan Gus Ipul adalah kepandaiannya bergaul dan menjalin komunikasi dengan berbagai kalangan. Keturunan pendiri pondok pesantren Denanyar Jombang ini bisa cepat akrab dengan semua orang.

Sementara Azwar Anas dikenal sebagai pemimpin muda potensial, kreatif, visioner, dan banyak terobosan. Berkat tangan dingin Azwar Anas, kabupaten Banyuwangi berkembang sangat pesat. Sektor wisata digarap maksimal, hotel-hotel tumbuh subur, kampus negeri didirikan, perekonomian warga pun turut terangkat. Alhasil, Azwar Anas bergelimang penghargaan.

Apakah performa apik dan kerja keras Gus Ipul dan Anas selama ini mendapat apresiasi positif sehingga menggoda pemilik suara untuk mencoblosnya di Pilgub Jatim 2017? Kita tunggu saja tanggal 27 Juni tahun depan. (SFA)

Sumber: BeritaJatim

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: