Eropa

Eropa Ungkap Kebohongan Erdogan Tekait Kudeta 2015

Rabu, 18 Januari 2017 – 15.17 Wib,

SALAFYNEWS.COM, EROPA – Menurut sebuah laporan yang diterbitkan Pusat Intelijen di Uni Eropa menyebutkan bahwa presiden Turki, Erdogan bermaksud untuk melakukan pembersihan kekuatan oposisi di dalam tubuh tentara, sebelum upaya kudeta yang gagal pada bulan Juli 2015.

Laporan ini bertentangan dengan temuan dari laporan intelijen Uni Eropa yang dirilis 5 bulan lalu dengan versi resmi dari otoritas Turki yang menuduh tokoh agama mereka yang tinggal di Amerika Serikat, Fethullah Gulen yang mendalangi upaya kudeta dari tempat pengasingannya di Amerika Serikat. (Baca: Siapa “Dalang” Kudeta Turki?)

Ankara telah berulang kali meminta pemerintah AS untuk mengekstradisi Gulen, namun Washington menuntut bukti yang jelas dan akurat tentang keterlibatan Gulen dalam upaya kudeta sebelum membuat keputusan peradilan terkait pendeportasian Gulen.

Dan surat kabar Inggris The Times yang mengutip laporan ini menyebutkan bahwa “upaya kudeta diorganisir oleh para penentang Erdogan dan partai “Keadilan dan Pembangunan” pimpinannya, dalam institusi militer, dalam mengantisipasi kampanye yang akan datang yang diperkirakan akan menargetkan mereka”.

Surat kabar ini melaporkan bahwa keputusan itu diambil oleh petugas yang tergabung dalam pendukung Gulen dan yang lainnya yang merasa muak dengan rezim Ataturk, dan anggota oposisi dari partai Keadilan serta pihak-pihak lain yang dijelaskan di dalam laporan, yang berarti bahwa pelaksanaan kudeta tidak muncul dari diri Gulen sendiri sebagaimana yang dituliskan dalam laporan yang diterbitkan pada 24 Agustus 2016. (Baca: Presiden Mesir: Erdogan adalah Alasan di Balik Kudeta Turki)

Laporan tersebut menunjukkan bahwa Erdogan memulai kampanye pembersihan terhadap pendukung Gulen dan kelompok sekuler di dalam militer sejak 2014, setelah badan militer menjadi satu-saunya benteng terakhir dari sekularisme di Turki.

Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa para pendukung Gulen menunjuk pengikut mereka untuk menduduki posisi senior di dalam militer, kehakiman dan lembaga lainnya, dan membangun jaringan yang memungkinkan mereka untuk mempengaruhi situasi di Turki dan mengontrol kegiatan presiden Erdogan, sebagaimana yang disebutkan sumber-sumber intelijen Uni Eropa.

Namun situasi berubah setelah Erdogan memulai operasi pembersihannya di lembaga militer dan negara pada tahun 2014 dan melemahkan kelompok pendukung Gulen serta menargetkan kelompok oposisi lain seperti Kemalis dan aktivis masyarakat sipil. (Baca: Wawancara Jurnalis Turki di TV One: Kudeta Militer Turki Tidak Masuk Akal)

Menurut badan-badan intelijen Uni Eropa, pelaksanaan upaya kudeta militer yang gagal merupakan dampak menyusul laporan pembersihan yang dimulai beberapa hari sebelum upaya untuk merebut kekuasaan pada 15 Juli 2016 silam, seperti dilansir oleh kantor berita Almaalomah (17/01).

Laporan tersebut menunjukkan bahwa “Erdogan mengambil keuntungan dari upaya kudeta gagal dan keadaan darurat untuk meluncurkan kampanye pembersihan besar-besaran terhadap oposisi Partai Keadilan dan Pembangunan yang berkuasa”. (SFA)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: