Eropa

Erdogan Bersih-bersih Rivalnya di Pemerintahan, UE Tolak Hukuman Mati

Selasa, 19 Juli 2016

SALAFYNEWS.COM, ANKARA – Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersih-bersih rivalnya di pemerintahan dan pada akhir pekan ini akan mengambil langkah terhadap komplotan kudeta. Sementara, Uni Eropa sebagai sekutu Turki memperingatkan Erdogan untuk tidak memberlakukan kembali hukuman mati yang telah dicabut, sebagai syarat keanggotaan Uni Eropa. (Baca: Inilah Permintaan Sadis Erdogan Pasca Kudeta Militer)

Kurang dari dua hari setelah kudeta digagalkan, pemerintah melaporkan ribuan penangkapan dan penahanan, pada dasarnya pembersihan angkatan bersenjata dan pegawai negeri sipil yang tidak pro Erdogan.

Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan pada hari Senin, ada 7.543 penangkapan terkait kudeta, termasuk 6.038 tentara, 100 polisi, 755 hakim dan jaksa serta 650 warga sipil. Lebih dari 13.000 pekerja pemerintah -tidak termasuk angkatan bersenjata- telah dinon-aktifkan, menurut Yildirim. Tampaknya ada beberapa tumpang tindih antara suspensi non-militer dan penangkapan PNS. Total PNS di Turki -lebih dari 3 juta orang- diperintahkan untuk kembali kepada tugas mereka sesegera mungkin dan semua cuti tahunan untuk karyawan dibatalkan sampai pemberitahuan lebih lanjut, kata kantor berita negara Anadolu. (Baca: Presiden Mesir: Erdogan adalah Alasan di Balik Kudeta Turki)

Pertanyaan di Turki sekarang beralih ke cara menghukum semua komplotan kudeta, dan yang dituduh memimpin pemberontakan yang dimulai pada Jumat malam sebelum digagalkan oleh loyalis Erdogan.

Yildirim mengatakan pada hari Senin korban tewas di kalangan pasukan loyalis adalah 60 petugas polisi dan tiga tentara, serta 145 warga sipil tewas.

Di antara pendukung kudeta, Yildirim melaporkan 24 orang tewas dan 50 luka-luka. Sebelumnya Kementerian Luar Negeri menyatakan lebih dari 100 meninggal. Hampir 1.491 orang -loyalis dan civilians- luka-luka.

Erdogan mengatakan ia dan anggota legislatif akan membahas kembali hukuman mati, yang belum digunakan di Turki sejak tahun 1984 dan dihapus pada tahun 2004.

“Parlemen akan mengambil keputusan untuk mengambil tindakan dalam bentuk ukuran konstitusional. Jadi para pemimpin harus datang bersama-sama, membicarakannya. Jika mereka menerima untuk membahasnya kemudian. Sebagai presiden saya akan menyetujui keputusan yang akan dikeluarkan parlemen,” kata Erdogan kepada CNN di Istanbul.

Dalam wawancara pertamanya sejak kudeta gagal, Erdogan mengecam “kejahatan yang jelas pengkhianatan.” Dan Memberlakukan kembali hukuman mati tentu akan mengganggu hubungan Turki dengan sekutu Barat dan Uni Eropa -dimana Turki telah berusaha untuk bergabung sejak 1999- dengan syarat penghapusan hukuman mati.

Jerman mengatakan bahwa memulihkan hukuman mati akan menyebabkan penangguhan pembicaraan keanggotaan Uni Eropa.

Meskipun demikian Erdogan telah berjanji “pembersihan” lembaga negara akan terus berlanjut, dan mengatakan kanker telah menyebar seperti “virus” dan harus diberantas.

Pemerintah Turki, termasuk jaksa, pada hari Senin mulai melakukan pencarian sejumlah perwira yang terlibat kudeta di pangkalan udara Incirlik di selatan Turki, surat kabar Hurriyet melaporkan.

General Bekir Ercan Van, komandan pangkalan udara Incirlik, ditangkap dengan 10 prajuritnya atas dugaan keterlibatan dalam kudeta.

Mantan kepala angkatan udara Akin Ozturk, membantah terlibat. Kesaksian Ozturk kepada jaksa bocor ke media swasta, yang diposting secara online, menunjukkan ia membantah menjadi bagian dari plot kudeta dalam tingkat manapun.

Ozturk telah ditampilkan di media pemerintah sebagai tahanan dalam kondisi babak belur dan berdarah-darah, serta telinganya dibalut. Banyak dari mereka yang ditahan -termasuk lebih dari 100 jenderal dan laksamana ditahan- telah ditunjukkan dengan tanda memar parah di wajah, beberapa dari mereka dilucuti  pakaiannya. (Baca: Analisa: Kudeta Militer Palsu Turki Bumerang Bagi Erdogan)

Kedubes AS di Ankara juga bereaksi terhadap laporan berita dan komentar dari beberapa tokoh masyarakat bahwa Washington “terlibat dan mendukung upaya kudeta.”

“Ini adalah tidak benar, dan spekulasi tersebut berbahaya bagi persahabatan selama beberapa dekade antara dua negara besar,” kata sebuah pernyataan dari kedutaan AS.

Sementara itu, AS telah mencabut larangan penerbangan ke dan dari Turki yang diberlakukan menyusul upaya kudeta. (SFA)

Sumber: DPA

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: