Fokus

Eko Kuntadhi: ‘PKS’ Tak Bela Nabi Tapi Bela TOA

PKS bela TOA
Kasus Meiliana

JAKARTA – Tulisan dan kritikan super pedas dan menohok dari pegiat media sosial Eko Kuntadhi, Eko menjelaskan bagaimana PKS bungkam saat Ustdz Gaul Evie Effendie sebut hina nabi Muhammad SAW dengan kata sesat, tapi tiba-tiba bersuara saat seorang Ibu Meiliana yang hanya minta suara Toa di masjid dikecilkan, saat nabi dihina PKS bungkam, PKS tak bela nabi tapi bela TOA.

Baca: Denny Siregar: Ada HTI dan Kelompok Radikal Dibalik Kasus Meiliana

Kalau Nabi Muhamad SAW dibilang sesat, PKS santai saja. Soalnya yang ngomong adalah Evie Effendie, orang yang segolongan dengan mereka. Sebagai penceramah agana Effendie punya fans banyak. Itu ladang suara buat PKS. Nabi dicela gak apa-apa. Asal tidak kehilangan konstituen. PKS gak membela Nabinya dari kekurangajaran. Karena apa untungnya buat mereka?.

Baca: Sebut Nabi Muhammad Sesat, Gus Nadir Ceramahi Ustadz Evie Effendi

Ketika Rocky Gerung berkata dengan pongah bahwa Kitab Suci adalah fiksi, PKS juga santai saja. Malah mereka berusaha mencari pembenaran pernyataan Rocky.

Sebab Rocky waktu itu sedang membela Prabowo. Bagi PKS, membela Prabowo lebih penting daripada membala kitab suci.

Baca: Rocky Gerung di ILC Sebut Kitab Suci Adalah Fiksi

Ketika kader PKS korupsi dengan menggunakan kode ‘juz’ dan liqo, PKS juga santai saja. Mereka tidak tersinggung sama sekali bahasa yang biasa digunakan dalam membicarakan tentang Quran dipakai buat nyolong duit rakyat.

Bagi PKS korupsi bukan perkara luar biasa. Korupsi menggunakan kode-kode bernuansa agama, tidak perlu dianggap melecehkan. Sebab yang melakukan korupsi adalah kadernya sendiri.

Tapi ketika seorang Ibu Tionghoa hanya minta kecilkan volume speaker masjid, PKS langsung menuding penistaan agama. Seolah mengecilkan suara speaker itu adalah hal yang sangat buruk salam Islam.

Kenapa? Sebab Meiliana -ibu malang itu- adalah seorang berdarah Tionghoa. Agamanya Budha. Jadi komentarnya soal suara speaker mesjid lebih merusak ketimbang komentar Evie Effendi soal Nabi yang sesat.

Ketika rumah Meiliana dibakar, Vihara-vihara dibakar, bagi PKS kerusuhan yang menakutkan itu bukan masalah. Bahkan bukan penistaan pada kemanusiaan dan keadilan. Sebab para pembakar itu, para perusuh itu, diharapkan dapat menjadi kantong suara. Apapun kebiadaban mereka tidak perlu disanggah.

Adakah partai ini berempati pada seorang ibu yang rumahnya dibakar massa? Adakah partai ini berempati pada empat anak yang kehilangan tempat berteduh? Adakah partai ini memiliki rasa keadilan?

Ohh, mungkin keadilan sebagai nama partai dan keadilan sebagai wujud nyata bagi PKS berbeda jauh. Keadilan sebagai nama partai adalah simbol saja. Mereka tidak terlalu peduli dengan statemen Alquran, “…Dan berbuat adillah kamu walaupun terhadap musuhmu.”

Baca: Eko Kuntadhi: Hancurkan Nasionalisme Cara ISIS, HTI dan PKS Habisi NKRI

Ibu Meiliana bukan musuh PKS. Dia hanya ibu rumah tangga biasa. Ibu dari empat orang anak kecil yang tinggal di Tanjung Balai Asahan. Tapi PKS tidak ingin menegakkan keadilan pada kasus itu.

Mungkin frasa keadilan memang tidak berarti banyak. Frasa itu sekedar penamaan saja.

Yang paling berarti bagi mereka, mungkin adalah frasa kesejahteraan. Makanya ketika kadernya korupsi menggunakan istilah Alquran, itu dapat dimaklumi. Sebab dengan cara itulah kader tersebut mewujudkan frasa kesejahteraan.

Kita jadi tidak pernah tahu, sebetulnya Islam seperti apa yang sedang dibela PKS. Jika menista Nabi didiamkan. Dan meminta mengecilkan speaker masjid dituding penistaan agama. “Yang penting sejahtera, mas. Gak adil, gak apa-apa,” ujar Abu Kumkum. (SFA)

Sumber: EkoKuntadhi.com

1 Comment

1 Comment

  1. Pingback: Eko Kuntadhi: Gerindra 'Akuisisi' PAN dan PKS | SALAFY NEWS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

To Top
%d bloggers like this: